::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Soal Bermedia Sosial, Ini Pesan Kiai Akyas Buntet

Rabu, 25 Oktober 2017 22:00 Fragmen

Bagikan

Soal Bermedia Sosial, Ini Pesan Kiai Akyas Buntet
Foto: buntetpesantren.org
Bicara tentang media sosial, kita tak lepas dari status, komentar, dan publikasi ulang terhadap link atau status yang dibuat orang lain. Mudahnya mengakses media sosial tersebut membuat orang gemar membuat status atau mengisi kolom komentar. Publikasi ulang juga sering dilakukan.

Media sosial kerap kali bukan lagi menjadi media untuk berinteraksi antarindividu, tetapi seakan meluas pada media psikologi. Ya, tentu kita sering melihat bagaimana orang-orang mengungkapkan perasaannya di situs Facebook, misalnya. Hal-hal yang seharusnya menjadi privasi diri sendiri, kini sangat mudah dikonsumsi oleh masyarakat umum. Status yang kita buat tidak terbatas hanya pada lingkup regional atau nasional, tapi bahkan internasional, tidak terbentur tembok batas kenegaraan.

Penulis jadi ingat saat upacara tiap hari Senin di Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama (MANU) Putra Buntet Pesantren Cirebon, tempat penulis mengaji. Pembina Upacara KH Ade Nasihul Umam dalam amanatnya menyampaikan satu syiir dengan bahr thowil karya KH Akyas Abdul Jamil berikut.
تُصَوِّيْتُ تَاعْ تِيعْ تُوعْ وَطَاتْ تَيتْ وَطَاتْ وَلَا # تُبَالِيْ بِجِيْرَانٍ فَقَوْلُكَ ضَاءِعٌ

Tushowwitu tang ting tung wa tot tet wa tot wa laa # tubali bijironin faqouluka dloi’un
Kamu bicara tang ting tung dan tot tet tot (macam-macam) dan tidak memperhatikan tetanggamu, maka ucapanmu itu sia-sia

Jauh sebelum media sosial itu lahir, Muqoddam Tarekat Tijani itu sudah mengingatkan kita untuk tidak perlu banyak berkomentar ataupun menulis status jika hanya mengganggu tetangganya. Dalam konteks media sosial, tentu mengganggu pembaca atau pengguna media sosial lainnya.

Secara langsung, beliau tidak mengatakan demikian. Tapi, jika kita maknai lebih jauh lagi akan beroleh kesimpulan ke sana. Atau lebih halusnya, adik Kiai Abbas Buntet itu membolehkan siapapun berkomentar, asalkan baik dan bermanfaat.

Oleh karena itu, dalam bermedia sosial, jari kita perlu dijaga. Jangan sampai dengan mudah membagikan link sebelum diyakini kevalidannya. Perihal pengunggahan status pun, mestinya kita perhatikan betul. Masihkah kita perlu berbuat kesia-siaan? (Syakir Niamillah Fiza/Kendi Setiawan)