::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Belajar dari Doa-doa Nabi Ibrahim

Kamis, 26 Oktober 2017 16:00 Doa

Bagikan

Belajar dari Doa-doa Nabi Ibrahim
Ilustrasi (© NU Online)
Di dalam Al-Qur’an dengan pernyataan yang sangat jelas Allah menyampaikan perintah agar kita berdoa meminta kepada-Nya dalam segala hal. “Memintalah kepada-Ku, maka Aku kabulkan permohonanmu,” demikian perintah-Nya. Allah juga menyatakan, “Aku kabulkan permintaan orang yang meminta bila ia meminta kepada-Ku.”

Al-Qur’an sendiri banyak menuturkan berbagai doa yang dipanjatkan oleh para hamba pilihan Allah. Ada banyak doa yang dipanjatkan oleh para rasul dalam kisah-kisah perjalanan hidup mereka. Dan dari doa-doa itu kita bisa mengambil pelajaran berharga dan pendidikan luhur untuk bisa ditiru juga ketika menyampaikan permohonan doa kepada Allah.

Di antara doa para rasul yang bisa kita jumpai dalam Al-Qur’an dan bisa kita ambil pelajaran darinya adalah doa-doa yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Di antaranya:

Dalam Surat As-Shaffat ayat 100:

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

Artinya: “Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang saleh.”

Dalam Surat Ibrahim ayat 35:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

Artinya: “Dan ingatlah ketika Nabi Ibrahim berdoa “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini aman dan jauhkanlah aku dan anak-anakku dari menyembah berhala.”

Dalam Surat Ibrahim ayat 40-41:

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

Artinya: “Ya Tuhanku, jadikanlah aku sebagai orang yang mendirikan shalat dan juga keturunanku. Ya Tuhanku, terimalah doaku. Ya Tuhan kami, ampunilah aku, kedua orang tuaku dan orang-orang mukmin di hari perhitungan.”

Dalam Surat Al-Baqarah ayat 126:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

Artinya: “Dan ingatlah ketika Nabi Ibrahim berdoa ‘Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman dan berilah penduduknya rezeki dari buah-buahan, yakni orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir di antara mereka’.”

Mencermati doa-doa yang dipanjatkan Nabi Ibrahim di atas ada pendidikan luhur dan teladan yang perlu ditiru oleh setiap Muslim menjalani kehidupan dan dalam mengajukan permohonan kepada Allah SWT.

Pertama, ketika Nabi Ibrahim berkeinginan untuk memiliki keturunan beliau memintanya kepada Allah dengan permintaan keturunan yang saleh. Dalam bahasa Arab kata “saleh” berarti patut, pantas atau layak. Keturunan yang saleh adalah keturunan yang pantas dalam segala hal. Berkepribadian yang pantas dengan akhlak yang terpuji, berperilaku dan berucap yang patut yang tidak merugikan orang lain, juga layak secara keilmuan, ekonomi dan sebagainya.

Keturunan semacam inilah yang didambakan oleh Nabi Ibrahim. Beliau meminta keturunan dengan sifat saleh, bukan pandai, tampan, kaya raya atau semisalnya.

Kedua, di dalam doa-doanya Nabi Ibrahim selalu mengikutsertakan anak-anak keturunannya. Beliau tidak meminta kebaikan-kebaikan kepada Allah hanya untuk diri sendiri saja, tapi beliau pintakan juga untuk anak-anak keturunannya. Ini menunjukkan bahwa sebagai orang tua Nabi Ibrahim tidak egois, tidak mau menikmati seorang diri fasilitas yang diberikan Allah kepadanya tanpa melibatkan anak-anaknya. Beliau selalu berkeinginan agar setiap nikmat yang ia cecap juga dinikmati oleh anak-anak keturunannya.

Sikap ini dengan jelas bisa diambil pelajaran pada Surat Al-Baqarah ayat 124:

وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي

Artinya: “Dan ingatlah ketika Nabi Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan beberapa perintah, maka ia menyempurnakan perintah itu. Tuhannya berfirman, “Sungguh aku menjadikanmu sebagai imam bagi umat manusia.” Ia berkata, “Demikian pula anak keturunanku.”

Cukup jelas, ketika Allah memberikan penghargaan kepada beliau dengan menjadikannya imam bagi umat manusia atas prestasinya yang telah melakukan perintah-perintah-Nya dengan sempurna, Nabi Ibrahim seakan tak ingin menikmati penghargaan itu seorang diri. Maka ia pintakan kepada Tuhannya agar anak keturunannya juga dijadikan pemimpin bagi umat manusia. Dan kelak apa yang dimintakan beliau dikabulkan oleh Allah. Sejarah mencatat bahwa para raja dan para nabi yang diutus setelah masanya adalah anak-anak keturunan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam.

Ketiga, selain tidak melupakan anak-anak keturunan di dalam berdoa Nabi Ibrahim juga tidak lupa mendoakan negeri di mana ia tinggal dengan kebaikan-kebaikan. Ini penting. Ketika seseorang memohon kebaikan untuk dirinya sendirinya maka kebaikan itu hanya dinikmati oleh dirinya sendiri. Namun ketika ia mendoakan kebaikan negerinya berupa keamanan, ketenteraman, kemakmuran dan lain sebagainya maka kebaikan negeri itu juga akan dinikmati olehnya dan oleh setiap orang yang hidup di negeri tersebut.

Doa Nabi Ibrahim yang semacam ini pada kenyataannya dikabulkan dan dinikmati hasilnya oleh berjuta orang. Kota Maakkah yang didoakan beliau adalah kota yang begitu aman dan nyaman. Siapapun yang mengunjunginya tercukupi kebutuhannya. Ia bisa memakan berbagai buah-buahan sebagaimana di negerinya sendiri meskipun di Kota Makkah buah-buahan itu tak ada tanamannya. Siapapun yang mengunjungi dan kemudian meninggalkannya selalu memiliki keinginan untuk bisa mengunjunginya lagi dan lagi.

Keempat, doa Nabi Ibrahim yang diabadikan dalam Surat Ibrahim ayat 41 adalah doa yang luar biasa berharga bagi kaum mukmin di manapun berada. Dalam doa itu beliau meminta ampunan kelak di hari kiamat bagi dirinya, kedua orang tuanya dan juga bagi kaum mukminin. Bila demikian adanya, bukankah itu berarti setiap orang mukmin kelak di hari kiamat akan diampuni dosa-dosanya oleh Allah subhanahu wa ta’ala? Ini merupakan sebuah kegembiraan besar bagi seluruh orang mukmin, karena Allah tak akan menolak doa kekasih-Nya, Sang Kholil Nabi Ibrahim.

Dalam kehidupan sehari-hari akan lebih baik bila setiap muslim dalam berdoa meniru apa yang dilakukan Nabi Ibrahim. Kalaupun tidak mengikutsertakan wilayah tempat tinggalnya dalam doanya setidaknya mengikutsertakan anak-anak keturunannya. Bila setiap keluarga memiliki dan mampu menciptakan anak-anak keturunan yang  baik karena doa orang tuanya maka kelak mereka akan membentuk sebuah masyarakat yang baik pula. Dan pada skala yang lebih besar mereka juga akan membentuk generasi bangsa yang baik yang akan mengelola bangsa dan negeri ini dengan baik pula. 

Itulah sebabnya sebagian ulama menganjurkan agar ketika meminta barokah doa dari seorang yang alim dan saleh agar juga memintakan doa kebaikan bagi wilayah yang menjadi tempat tinggalnya. Wallahu a’lam. (Yazid Muttaqin)