::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Standar Penyelenggaraan dan Kualitas Liga Santri Meningkat

Sabtu, 28 Oktober 2017 19:01 Halaqoh

Bagikan

Standar Penyelenggaraan dan Kualitas Liga Santri Meningkat
Seri Nasional atau putaran final Liga Santri Nusantara (LSN) 2017 hanya menyisakan partai puncak atau Grand Final yang akan berslangsung di Gerlora Bandung Lautan Api (GBLA) kota Bandung, pada Ahad (29/10. Kedua tim yang lolos adalah Darul Huda (Jawa Timur) dan Darul Hikmah (Jawa Barat).

LSN tahun ini diikuti sekitar 22 ribu santri dari seluruh Indonesia. Mereka berasal dari 1046 pesantren. Dari tahun ke tahun, sejak liga kaum sarungan ini pertama bergulir, pada 2015, dari sisi keiikutsertaan, terus meningkat. Bahkan di beberapa daerah yang memiliki pesantren melimpah, sampai harus membuat sub regional.

Untuk mengetahui bagaimana penyelenggaraan LSN 2017 ini, Abdullah Alawi dan Ahmad Makki berhasil mewawancarai Direktur Pertandingan dan Kompetisi LSN M. Kusnaeni. Berikut petikannya: 

Bagaimana gambaran Liga Santri Nusantara tahun ini?

Dari sisi kompetisinya, tahun ini persaingannya lebih ketat, tim lebih serius mempersiapkan diri. Kesenjangan kualitas itu terlihat lebih tipis. Banyak pertandingan yang hasilnya seimbang. Beda dengan tahun-tahun sebelumnya dimana tim-tim dari Jawa jauh dominan. Kalau sekarang kita lihat pertandingan-pertandingannya tipis. Ada yang memang menang besar karena memang timnya dari Kalimantan ini relatif baru, sepertinya kaget, wah kok persaingannya bagus-bagus. Itu yang pertama, persaingan lebih ketat. 

Kedua, standar-standar penyelenggaraan lebih baik. Tidak ada pertandingan yang terpaksa harus pakai rompi misalnya. Tim sudah siap dengan seragamnya, lebih siap dengan persiapan timnya, kaos kakinya udah kelihatan rapi, ada beberapa tim yang sudah menggunakan sponsor. Itu artinya dari segi penyelenggaraan pertandingan sudah menunjukkan kesiapan tim-tim peserta mengikuti seri nasional. Mungkin dari sisi screening juga kami perketat tahun ini. Harus diakui ada beberapa tim yang harus dicoret pemainnya karena memperketat screeningnya itu. Mungkin bisa jadi pembelajaran bagi tim-tim tiap tahun mereka harus siap ke seri nasional dengan screening yang ketat.

Karena apa itu? 

Ada yang secara formal tidak memenuhi syarat sebagai Liga Santri, misalnya dari segi batasan usia, kelengkapan dokumen.

Kelengkapan dokumen itu bagaimana?

Kan harus membuktikan mana kartu santrinya, mana ijazahnya, mana akta kelahirannya, mana kartu keluarganya. Kalau itu semua tidak bisa dilengkapi, terpaksa kami coret, atau data-data yang konsisten, kalau yang satu A, yang lain B, bagi kami meragukan, labih baik kami meninggalkan yang meragukan, begitu kan filosofinya, kami lakukan dalam upaya untuk memperketat peserta Seri Nasional. 

Tapi mungkin untuk secara keseluruhannya kami masih belum puas tingkat pelaksanaan di daerah, terus terang saja. Standar-standar ingin diterapkan itu belum seluruhnya yang diimplementasikan di Seri Regional, banyak persolannya ya, dari mulai keterbatasan sumber daya finansial, prasarana lapangan di daerahnya, ada juga keterbatasan panitia pelaksana di daerah. 

Kalau persoalannya itu, kami berharap pengalaman Liga Santri tiga tahun, kami harapkan up grade, tapi kaau keterbatasannya dari segi sarana, kami mau bilang apa. Kami hanya menyarankan tahun depan cari tempat yang lebih baik, misalnya di Lampung kita masih sulit menemukan venue untukl Liga Santri. Kemarin kan terkahir kick off-nya masih bukan stadion, tapi di lapangan terbuka. 

Nah, persoalan itu merata enggak di setiap daerah?

Tidak. Hanya beberapa daerah seperti di Nusa Tenggara itu tidak semua daerah memilik stadion sehingga beberapa pertandingan di tingkat region itu digelar di lapangan yang belum standar liga Santri. Mudah-mudahan ke depan terus ditingkatkan. Panitia di daerah harus berkreasi, berimprovisasi dan meningkatkan komunikasi dengan stakeholder di daerah. Kemudian kami juga berharap di daerah juga lebih banyak lagi pesertanya. Tahun ini kan meningkat hampir dua kali lipat. 

Nah, tahun depan kami berharap di daerah-daerah yang sekarang belum memenuhi target peserta, tahun depan harus lebih baik lagi, seperti region Maluku, Papua. Region Maluku dan Papua itu harusnya kan digabung bisa 32, tapi faktanya belum juga. Ada lagi Region Sulawesi Tenggara yang dibuat satu Region sendiri dengan harapan peserta lebih banyak, ternyata malah tidak terlalu banyak, bahkan tidak masuk Seri Nasional. Ini akan menjadi bahan evaluasi tahun yang akan datang untuk penetapan region karena kami juga terus melihat perkembangan faktual di lapangan pembagian region itu bukan sesuatu yang mati, tapi berkembang, yang pasti kami berharap peserta dari Jawa ini makin berimbang dengan luar Jawa. Itu pendekatannya ke depan. 

Sejauh ini yang menjadi persoalan selain infrastruktur, apa juga kualitas pemain? 

Dua-duanya. 

Kualitas level pemain dan permainan jika dibandingkan dengan liga lain yang seusia bagaimana?

Kalau secara keseuluruhan usia segini kan dekat dengan usianya Liga Suratin, dekat dengan usianya liga U-19; ya memang terus terang sebagian tim ini masih cukup jauh. Secara keseluruhan tim ini kalau dibandingkan dengan tim Suratin, masih sedikit di bawah, makanya saya bilang, perkembangan dari tahun ke tahun progresnya ada, tapi belum maksimal, tapi kalau dibandingkan dengan tahun kemarin sudah jauh meningkat, yang penting buat kami kan bukan ada di mana saat ini, tapi apakah lebih baik dibanding tahun kemarin. 

Jadi, kami berusaha tidak melihat yang lain dulu. Kami progres aja dulu kualitasnya. Pada suatu titik nanti, sesudah kelima, keenem, ketujuh, level pesertanya, pemainnya sudah bisa mendekati tim-tim mereka yang seusia, yang betul-betul merupakan pemain yang bermain di klub yang serius. 

Kalau klub pesantren ini kan bisa dibilang klub ekstrakulikuler, kegiatan di pondok, sebetulnya itu. Tapi itu ternyata berdampak positif karena dari sisi manfaat, adanya santri-santri yang gemar bermain bola, semangat persatuan di kalangan santri menjadi meningkat karena mereka kan pada akhirnya sama-sama hadir untuk mendukung timnya. Ada semangat kolektivitas yang terbentuk sebetulnya. Mungkin selama ini di pondok, kesempatan bertemu itu jarang momen-momen seperti ini, mungkin haul, tapi dengan adanya Liga Santri semangat kolektivitas mereka terbentuk, disatukan, itu saya pikir sangat positif dan k depannya, mudah-mudahan bukan sekadar semangat kolektivitasnya, tapi semangat untuk meningkatkan prestasi, kemampuannya.