::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Tasawuf, Oase Spiritualitas di Zaman Modern

Selasa, 31 Oktober 2017 10:33 Halaqoh

Bagikan

Tasawuf, Oase Spiritualitas di Zaman Modern
KH Ali M. Abdillah.
Di era modern seperti saat ini, manusia seringkali terbius akan godaan-godaan dunia dan acapkali abai akan kehidupan akhirat dan Tuhan semesta alam. Hedonisme, konsumerisme, dan materialisme adalah deretan ‘penyakit dunia’ yang menggerogoti nilai-nilai spiritualitas manusia. Sehingga manusia hanya mementingkan sesuatu yang tampak lahiriah saja. Batiniahnya terkikis. Kesadaran akan nilai-nilai spiritualitas berada pada titik nadir –bahkan minus.

Tak hanya itu. Terorisme dan radikalisme atas nama agama juga terus bertransformasi. Mereka berdalih melakukan itu karena membela dan ingin menegakkan Islam secara kaffah. Biasanya, mereka berpedoman kepada ‘fikih saja’ yang menilai segala sesuatunya hitam-putih, halal-haram, dan cenderung hanya dua sisi.

Tasawuf bisa menjadi sumber akan nilai-nilai spiritualitas seseorang yang terkikis habis itu. Tasawuf membekali seseorang bahwa segala sesuatunya harus dilakukan hanya karena dan untuk Allah saja. Bukan yang lain. Dengan bertasawuf, hati seseorang juga akan menjadi lembut dan penuh akan cinta. Sehingga tidak sampai menyalah-nyalahkan, mengkafir-kafirkan, dan bahkan membunuh yang liyan. Belajar tasawuf bisa menjadi oase di zaman yang tandus seperti zaman modern ini.

Namun, yang menjadi soal selanjutnya adalah ada yang menilai sesat tasawuf. Bahkan, tasawuf dianggap sebuah bid’ah karena hal itu tidak ada pada zaman Nabi Muhammad. Umumnya, mereka yang berpendapat seperti ini hanya berpegang pada ‘fikih saja.’

Bukan kan ajaran agama yang disampaikan Nabi Muhammad mencakup tiga dimensi: Iman, Islam, dan Ihsan. Dimensi Iman melahirkan ilmu kalam atau teologi. Dimensi Islam melahirkan ilmu fikih atau syariat. Sedangkan Dimensi Ihsan melahirkan ilmu tasawuf. Ketiganya saling terkait. Bukan untuk dipertentangkan.

Untuk mengurai lebih lanjut, Jurnalis NU Online Ahmad Muchlishon Rochmat mewawancarai Ketua Lajnah Muwasholah Jam'iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) dan Ketua Mahasiswa Ahlit Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah (MATAN) DKI Jakarta KH Ali M. Abdillah. Berikut wawancaranya:

Ada yang menilai Tasawuf itu sesat dan bid’ah karena pada zaman Nabi Muhammad tidak ada. Bagaimana tanggapan Anda?

Istilah tasawuf dan tarekat itu muncul pada abad kedua atau ketiga Hijriyah. Memang pada zaman Nabi Muhammad dua istilah ini belum ada. Namun, rujukan ajaran tarekat dan tasawuf itu adalah Al-Qur’an dan hadis. Bahkan, Rasulullah adalah teladan dalam bertasawuf.

Al-Qur’an menyatakan di dalam Surat Al-A’la:14-15 bahwa sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya dengan berdzikir kepada Allah secara kontinuitas. Demikian juga yang ada dalam Surat As-Syams ayat sembilan. 

Apa saja yang dicontohkan Rasulullah dalam bertasawuf?

Rasulullah sendiri juga mencontohkan praktif-praktik bertasawuf. Sejak usia dua puluh lima hingga empat puluh tahun, Rasulullah sudah ‘tidak melakukan aktifitas duniawi.’ Masih namun tidak seperti sebelum nikah. Khadijah sebagai seorang istri yang kaya –dan mengetahui bahwa Rasulullah adalah utusan Allah- selalu mendukung apa yang dilakukan oleh Rasulullah, termasuk saat menyendiri di Gua Hira. Dalam tasawuf ini disebut sebagai proses takhalli yakni menyucikan diri dari jiwa-jiwa yang buruk.

Dipilihnya Gua Hira oleh Rasulullah untuk menyendiri meski perjalanan ke sana sangat terjal menunjukkan bahwa Rasulullah memiliki semangat yang tinggi. Di Gua Hira ini, Rasulullah bermunajah atau riyadlah-mujahadah kepada Allah dalam bahasa tasawunya. Riyadlahnya adalah dengan mengurangi makan dan dengan selalu mengingat kepada Tuhan. Sehingga pada usia empat puluh tahun, diangkat menjadi seorang Nabi dan Rasul. Serta menjadi seorang yang bisa mengendalikan hawa dan nafsunya.

Ini menjadi acuan bagi orang yang bertasawuf. Rasulullah sendiri memberikan contoh. Beliau orang yang suci dan maksum, namun proses untuk mencapai penyucian itu beliau mempraktikkan secara nyata. Hal ini dilakukan agar umatnya tahu bahwa untuk mencapai tahapan itu harus dibarengi dengan riyadlah dan mujahadah.  

Itukan proses takhalli yang dialami Rasulullah, di Tasawuf sendiri kan ada istilah tahalli dan tajalli. Tahalli adalah proses merasakan kenikmatan proses ilmu yang sudah dirasakan setelah hawa nafsu bisa dikendalikan. Pada periode Mekkah, Rasulullah mengalami fase tahalli ini. Meski ia dilempari batu, kotoran, dan dicaci maki, namun ia tetap sabar. Di dalam proses tahalli, seseorang akan memilikim jiwa yang bersih dan memandang segala sesuatunya itu digerakkan oleh Allah.

Sedangkan, pada periode Madinah Rasulullah istilahnya mencapai pada tahapan tajalli. Yakni secara ruhani Rasulullah senantiasa ingat kepada Allah namun beliau melengkapinya dengan aspek syariat. Jika diMekkah belum ada syariat dan dominan pada hakikat, maka di Madinah hakikatnya sebagai rahasia pribadi dan syariat sebagai ‘bungkusnya.’ Itulah simbol takhalli, tahalli, dan tajalli yang dicontohkan oleh Rasulullah. Itu dasar bertasawuf.

Dalam konteks era modern seperti saat ini. Apa urgensi dari tasawuf?

Kehidupan terus berkembang, namun aspek kejiwaan masih tetap sama. Dari dulu hingga saat ini, nafsu ammarah dan lawwamah masih tetap sama. Hanya model dan rupanya yang berbeda.

Penyakit orang modern adalah hedonisme. Mereka hidup berfoya-foya, lupa kepada Allah dan lupa mengembalikan rezeki dari Allah. Lalu, konsumerisme yaitu memiliki uang dan belanja terus, tapi untuk zakat, infak, dan sedekah susah sekali. Selanjutnya adalah materialisme. Yakni semuanya dihitung memakai materi.

Penyakit-penyakit ini hanya bisa disembuhkan dengan praktik tasawuf dan tarekat. Ini adalah penyakit-penyakit jiwa yang dikuasai oleh ammarah dan lawwamah. Lalu, agar tidak terjebak kepada hedonisme, konsumerisme, dan meterialisme maka belajar tasawuf sehingga menjadi orang yang zuhud dan wara.

Tapi zuhud dan wara’ kan selalu diidentikkan dengan menjauhi dan membenci dunia. Pengertian zuhud dan wara dalam dunia modern tidak seperti dulu. Dalam kehidupan modern, boleh memiliki jabatan tinggi tapi jabatan tersebut dianggap sebagai amanah Allah dan tidak memasukannya ke dalam hati. Pun, memiliki harta yang melimpah silahkan, namun itu jangan dimasukkan ke dalam hati. Ketika harta dan jabatan diambil oleh Allah, ia tidak ada beban karena itu memang titipan dari Allah.

Orang yang mengamalkan tasawuf itu memiliki ketenangan batin yang luar biasa. Dia memiliki rasa tidak memiliki. Kalau orang modern bisa mengamalkan nilai-nilai tasawuf, maka akan terbangun kesalehan sosial dan kepedulian terhadap sesama. 

Bagaimana dengan persoalan terorisme dan radikalisme seperti dewasa ini. Apakah tidak ada nilai-nilai tasawuf di dalam diri para pelaku karena mereka hanya fokus pada syariat saja misalnya?

Penyakit terorisme berawal dari pemahaman agama Islam yang fiqih-oriented. Pemahaman orang yang hanya fikih saja itu membuatnya mudah menjadi radikal karena di fiqih itu hitam-putih. Maka salah satu cara untuk mencerabut akar radikalisme dari diri seseorang adalah dengan belajar fiqih yang diimbangi dengan tasawuf dan praktik tarekat. Dengan belajar tasawuf, ia akan merasakan kesejukan batiniahnya.

Awal mula terorisme adalah ada marah, dendam, benci, dan emosi yang membara terhadap yang lain. Menurut tasawuf, ini adalah penyakit batiniah yang harus dihilangkan. Tasawuf adalah oase bagi orang-orang modern yang terjebak pada hedonisme, konsumerisme, materialisme, dan radikalisme. 

Orang yang bertasawuf dan kemudian bertarekat biasanya adalah mereka yang sudah sepuh. Apakah memang ada batasan-batasan umur tertentu sehingga generasi muda ‘tidak diperkenankan ikut’?

Itu bisa diamati dari aspek sejarah. Belanda menjajah Indonesia selama tiga setengah abad, namun Belanda tidak bisa menguasai seluruh wilayah Nusantara. Lalu, kemudian Belanda menunjuk Snouck Hurgonje untuk mempelajari seluk beluk Islam untuk menaklukkan Nusantara yang memang mayoritas beragama Islam. Ia mempelajari kitab-kitab ulama Nusantara.

Kemudian ditemukan bahwa penyebab Indonesia tidak bisa ditaklukkan adalah ajaran tasawuf dan tarekat. Sebab jika seseorang sudah terkena ilmu tasawuf dan tarekat, maka yang ditakuti hanyalah Allah. Mereka yang bertasawuf dan bertarekat tidak akan bersedia menjadi pion-pion Belanda.

Kemudian, Snouck Hurgonje bekerjasama dengan ulama dan menciptakan imaje bahwa ajaran hakikat adalah sesat dan kitab-kitab tasawuf dibawa ke Belanda. Akhirnya, semakin jauh masyarakat Indonesia dengan ilmu hakikat. Hal itu bisa dilihat pada abad delapan belas hingga dua puluh bahwa tasawuf dan tarekat hanya dipraktikkan oleh orang-orang tua.

Lalu, bagaimana dengan abad saat ini?

Di abad dua puluh satu ini semangat untuk bertasawuf itu sudah mulai tumbuh. Di kalangan kaum muda, tasawuf mulai bangkit. Begitupun di kalangan intelektual. Bahkan juga sudah terbentuk komunitas-komunitas tasawuf, baik di dalam maupun luar negeri. Di Eropa dan Amerika ada Ibnu Arabi Society. Komunitas penggiat tasawuf. Di Indonesia, ada Jam'iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) yang menaungi tarekat-tarekat muktabarah.

Bahkan, JATMAN memiliki organisasi regenrasi di tingkat mahasiswa yakni Mahasiswa Ahlit Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah (MATAN). Organisasi ini sudah tersebar di seluruh kampus besar di Nusantara. Mereka yang ikut adalah mahasiswa muda yang memiliki ketertarikan dengan dunia batiniah atau sufisme.

Ini menunjukkan meski berada dalam tekanan, tarekat tetap eksis karena orang bertarekat akan semakin yakin dengan keimanannya dan dekat dengan Allah.