::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ini Alasan Pak Jimmi Peluk Agama Islam

Selasa, 31 Oktober 2017 16:02 Nasional

Bagikan

Ini Alasan Pak Jimmi Peluk Agama Islam
Jakarta, NU Online
Jimmi didampingi dua sahabatnya mendatangi Kantor Lembaga Takmir Masjid (LTM PBNU) di Lantai 4 Gedung PBNU, Selasa (31/10) pagi. Dengan mengenakan kemeja tangan panjang ia datang dengan suka rela untuk menyatakan keislamannya di depan pengurus harian PBNU.

Menurut pria setengah baya lebih ini, ia untuk sekian lamanya mengamati praktik keislaman dan mempelajari ajaran Islam. Pada agama Islam ini ia kemudian menemukan jawaban.

“Saya ingin memiliki pegangan hidup. Saya merasa cocok dengan Islam. Saya sudah mengamati sejak lama. Islam lebih cocok bagi saya dibanding agama saya sebelumnya,” kata Jimmi kepada NU Online.

Ia juga mengatakan bahwa dirinya ingin sekali sejak lama tertarik pada NU karena NU menurutnya simpel dalam praktik agama, terutama praktik shalat. “Sebenarnya saya sudah lama tertarik dengan NU. Tetapi tidak ada yang bawa ke sini. Syukurlah ini dibawa pak Anto.”

Jimmi mengatakan bahwa ia memeluk Islam tanpa paksaan dari pihak manapun. Ia menyatakan setuju kalau ikrar keislamannya dipublikasi di NU Online.

“Saya tinggal di Setiabudi. Saya memeluk Islam karena kemauan saya sendiri,” kata Jimmi kepada NU Online.

Ia dibimbing untuk membaca dua kalimat syahadat oleh Wakil Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU) KH Mahbub Maafi. Ia tampak mantap dalam mengikuti bacaan dua kalimat shayadat sehingga para saksi segera menyatakan bahwa ikrarnya sah. Ia dianjurkan untuk mempelajari tatacara shalat dan mengerjakannya secara berjamaah di mushalla atau di masjid. Ia diberikan buku pedoman praktis shalat oleh pengurus harian LTM PBNU.

“Saya sebenarnya ingin nama baru, nama Islam.” (Alhafiz K)