::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Mendukung Banser

Selasa, 07 November 2017 15:01 Opini

Bagikan

Mendukung Banser
Oleh Nadirsyah Hosen

Dalam kasus Felix Siauw di Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, apa yg dilakukan Banser sudah cerdas dan benar. Tidak ada kekerasan. Tidak ada pentungan. Yang ada Banser bersama Polri menyodorkan surat pernyataan agar ditandatangan Felix bahwa dia setuju Pancasila. 

Felix tidak mau tanda tangan, pergi diantar Polri dan kemudian koar-koar seolah sebagai victim (korban). Maka orang di luar yang tidak suka dengan NU langsung menggoreng. Orang di dalam NU yang tidak cocok dengan PBNU dan Ansor ikut-ikutan mengkritik. Yang pakar HAM dan demokrasi menyerang pula Banser seolah lupa Felix itu mau ngancurin demokrasi Pancasila. 

Kenapa Felix tidak mau tanda tangan? Karena dia tidak mau jadi kafir mendukung sistem thogut. Ini masalah akidah buat dia. Bukan masalah demokrasi atau masalah NU.

Saya mengambil sikap: saya MENDUKUNG 100 persen Banser dan Polri yang meminta semua tokoh HTI untuk tanda tangan di surat pernyataan sebelum bisa ceramah. Ini masalah menjaga NKRI. 

HTI sudah bubar tapi tokoh-tokohnya masih bebas berceramah. Mereka pintar berlindung dibalik pengajian untuk terus menyebarkan paham khilafah. 

Kalau pemerintah dan Polri yang di depan melarang dan membubarkan maka Polri dan Jokowi dianggap anti-Islam oleh kelompok seperti Amien Rais dan kawan-kawan.

Polri dan Pemerintah jadi gamang bersikap. Belum lagi TNI lewat Panglimanya bersikap merangkul pihak-pihak yang secara politik dan ideologis berseberangan dengan Pemerintah dan Pancasila. Polri tidak mau dibenturkan dengan TNI.

Maka diaturlah strategi. Banser ditaruh di depan menghadang Felix, dan kawan-kawan. Polri mem-back-up di belakang. Yang kena caci maki adalah Banser. Dan saya merasa tidak layak saya ikut-ikutan mengkritik dan mencaci Banser atas upaya mereka berdiri di depan menjaga Pancasila dan NKRI. Kalau bukan Banser yang bergerak, siapa lagi? 

Buka mata dan lihatlah bahwa Felix, Bachtiar Nasir, FPI, dan kawan-kawan bahkan diundang ceramah di kantor Polisi, kementerian, BUMN, dan lain-lain.

Apa tidak gendeng ini? Kalian yang sekarang mengkritik Banser jangan menyesal kalau Banser mutung dan tidak mau lagi turun menjaga NKRI. Emang enak terus menerus disalahkan dan dicaci maki? 

Banser perlu dirangkul, bukan malah kalian merangkul HTI dan FPI. Banser perlu dijaga dan ditemani, bukan malah terus dikritik oleh internal NU sendiri. Banser perlu terus diberdayakan, bukan malah dipermalukan oleh warga NU sendiri.

Saya, Nadirsyah Hosen, sekali lagi mendukung apa yang dilakukan para sahabat Banser di Bangil terhadap Felix Siauw. Maju terus Banser dengan senyum dan doa.

Penulis adalah Rais Syuriyah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand.