::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Beberapa Bacaan Sunnah Hai'ah dalam Shalat

Rabu, 08 November 2017 15:00 Shalat

Bagikan

Beberapa Bacaan Sunnah Hai'ah dalam Shalat
Ilustrasi (© Reuters)
Pembaca yang budiman, sebagaimana kita maklumi bersama, shalat merupakan sekumpulan gerak dan ucapan yang dilakukan sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT. Sudah barang tentu di dalamnya banyak terdapat bacaan dan doa yang sepatutnya kita panjatkan.

Secara garis besar, bacaan dalam shalat terbagi menjadi tiga kategori, yakni (1) bacaan wajib yang harus kita ucapkan, (2) sunnah ab’ad, yang jika ditinggalkan kita disunnahkan untuk sujud sahwi, dan (3) sunnah hai`ah yang tidak berkonsekuensi apa pun jika kita tinggalkan, namun sebaiknya dilakukan untuk meningkatkan kualitas shalat yang kita jalankan.


Berikut ini akan kami paparkan kepada para pembaca yang budiman bacaan-bacaan sunnah hai`ah tersebut sebagaimana kami sarikan dari karya Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani, Nihâyah al-Zain (Jakarta: Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 2002), hal. 63-76:

1. Membaca doa iftitah sesudah takbiratul ihram sebelum membaca fatihah

اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً. إِنِّىْ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَالسَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. إِنَّ صَلاَتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. لاَشَرِيْكَ لَهُ وَبِذلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

Allâhu Akbar kabîra wal hamdu lillâhi katsîra, wa subhânallâhi bukratan wa ashîla. Innî wajjahtu wajhiya lilladzî fatharas samâwâti wal ardha hanîfan muslimaw wa mâ ana minal mushrikîn. Inna shalâtî wa nusukî wa mahyâya wa mamâtî lillâhi Rabbil ‘âlamîn. Lâ syariikalahu wa bidzâlika umirtu wa ana minal muslimîn.

“Allah Maha Besar dengan sebesar-besarnya. Segala puji yang sebanyak-banyaknya bagi Allah. Maha Suci Allah pada pagi dan petang hari. Aku menghadapkan wajahku kepada Tuhan yang telah menciptakan langit dan bumi dengan segenap kepatuhan dan kepasrahan diri, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang menyekutukan-Nya. Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah kepunyaan Allah, Tuhan semesta alam, yang tiada satu pun sekutu bagi-Nya. Dengan semua itulah aku diperintahkan dan aku adalah termasuk orang-orang yang berserah diri (muslim).”

2. Membaca ta’awudz sebelum membaca surat al-Fatihah

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمْ

A`ûdzu biLlâhi minasy syaithânir rajîm

"Aku memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk"

3. Membaca أمين (Âmîn; Semoga Allah mengabulkan permohonan kita) sesudah membaca surat al-Fatihah

4. Membaca ayat Al-Qur’an sesudah membaca surat al-Fatihah

5. Membaca takbir pada setiap perpindahan gerak.

أَللهُ أَكْبَر

Allâhu Akbar

“Allah Maha Besar”

6. Membaca tasbih dan doa pada saat ruku’, minimal sebanyak 3 kali

سُبْحَانَ رَبِّيْ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ  

Subhâna Rabbiyal ‘adzîmi wabihamdih (dibaca tiga kali)

Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung, dan dengan memuji pada-Nya

اللهم لَكَ رَكَعْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَلَكَ أَسْلَمْتُ خَشَعَ لَكَ سَمْعِيْ وَبَصَرِيْ وَمُخِّيْ وَعَظْمِيْ وَعَصَبِيْ وَشَعْرِيْ وَبَشَرِيْ وَمَا اسْتَقَلَّتْ بِهِ قَدَمِيْ اللهُ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Allâhumma laka raka’tu wa bika âmantu wa laka aslamtu, khasya’a laka sam’î wa basharî, wa mukhkhî, wa ‘adzmî, wa ‘ashabî, wa sya’rî, wa basyarî, wa mâ istaqalat bihî qadamî. Allâhu rabbil ‘âlamîn

“Ya Allah, pada-Mu aku ruku, pada-Mu aku beriman, pada-Mu aku pasrah, tunduk pada-Mu pendengaranku, penglihatanku, otakku, tulangku, urat syarafku, rambutku, kulitku, dan apa yang dilangkahi telapak kakiku. Allah, Tuhan semesta alam”.  

7. Membaca tasbih dan do'a ketika sujud, minimal sebanyak 3 kali: 

سُبْحَانَ رَبِّيْ الْأَعْلَى وَبِحَمْدِهِ  

Subhâna Rabbiyal a’lâ wabihamdih (dibaca tiga kali)

Maha Suci Tuhanku Yang Maha Luhur, dan dengan memuji pada-Nya.

اللهم لَكَ سَجَدْتُ وَلَكَ أَسْلَمْتَ وَبِكَ آمَنَتُ أَنْتَ رَبِّي سَجَدَ وَجْهِيْ لِلَّذِيْ خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ تَبَارَكَ اللهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

Allâhumma laka sajadtu, wa laka aslamtu, wa bika âmantu, anta Rabbî sajada wajhî lilladzî khalaqahu wa shawwarahu wa syaqqa sam’ahu wa basharahu tabâraka-Llâhu ahsanal khâliqîn

“Ya Allah, pada-Mu aku bersujud, pada-Mu aku pasrah, dan pada-Mu aku beriman. Engkaulah Tuhanku. Wajahku ini sujud pada dzat yang menciptakannya, membentuknya, dan membukakan pendengaran dan penglihatan. Bertambahlah kebaikanmu Ya Allah, Sang Pencipta Terbaik”. 

8. Membaca shalawat ibrahimiyyah dan doa sesudah tasyahhud akhir

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى سَيِّدِنَا آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Allâhumma shalli ‘alâ Sayyidinâ Muhammadin wa ‘alâ âli Sayyidinâ Muhammadin kamâ shallaita ‘alâ Sayyidinâ Ibrâhîma wa ‘alâ âli Sayyidinâ Ibrâhîma

Wa bârik ‘alâ Sayyidinâ Muhammadin wa ‘alâ âli Sayyidinâ Muhammadin kamâ bârokta ‘alâ Sayyidinâ Ibrâhîma wa ‘alâ âli Sayyidinâ Ibrâhîma. Fîl ‘âlamîna innaka hamîdun majîd

“Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami, Nabi Muhammad saw, dan kepada keluarganya, sebagaimana Engkau limpahkan rahmat kepada Nabi Ibrohim as. dan keluarganya. Berikanlah keberkahan kepada junjungan kami, Nabi Muhammad saw, dan keluarganya, sebagaimana Engkau limpahkan berkah kepada Nabi Ibrohim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung di seluruh alam.”

اللهم اغْفِرْ لِيْ مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ وَمَا أَسْرَفْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّى أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَالْمُؤَخِّرُ لآ إلَهَ إِلاَّ أَنْتَ اللهم إنِّيْ أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ اللهم إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ اللهم إِنِّى ظَلَمْتُ نَفْسِيْ ظُلْمًا كَثِيرًا وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إلَّا أَنْتَ فَاغْفِرْ لِيْ مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِيْ إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Allâhummaghfirlî mâ qaddamtu wa mâ akhkhartu wa mâ asrartu wa mâ a’lantu wa mâ asraqtu wa mâ anta a’lamu bihi minnî, antal muqaddam wal muakhkhar lâ ilâha illa Anta. Allâhumma innî a’ûdzu bika min ‘adzâbil qabri wa min ‘adzâbin nâri wa min fitnatil mahyâ wal mamât, wa min fitnatil masâhid dajjâl. Innî a’ûdzu bika minal ma’tsami wal maghrami. Allâhumma innî dzalamtu nafsî dzulman kabîran wa lâ yughfarudz dzunûba illâ anta faghfirlî maghfiratan min ‘indika warhamnî innaka antal ghafûrur rahîm

“Ya Allah, ampunilah dosa-dosa yang telah kuperbuat ataupun yang akan kuperbuat, yang kurahasiakan ataupun yang kutampakkan, dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya ketimbang aku. Engkau Maha Awal lagi Maha Akhir. Tiada tuhan selain Engkau. Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari siksa kubur, dari siksa neraka, dari fitnah kehidupan dan kematian, serta dari fitnahnya dajjal. Ya Allah, aku berlindung padamu dari segala kerugian. Ya Allah, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku dengan sangat, dan tiada yang bisa mengampuni dosa selain Engkau, maka ampunilah dosaku dengan ampunan dari sisi-Mu, dan kasihanilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Pengasih”.

Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bi shawab.

(Muhammad Ibnu Sahroji)