::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Nurul Islam Sekarbela, Pesantren Aswaja Termuda di Kota Mataram

Rabu, 08 November 2017 14:46 Pesantren

Bagikan

Nurul Islam Sekarbela, Pesantren Aswaja Termuda di Kota Mataram
Hj Wartiah, Pimpinan Pesantren Nurul Islam Kota Mataram
Mataram, NU Online
Pulau Lombok yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Barat terkenal dengan sebutan 'Pulau Seribu Masjid'. Sebutan ini tidaklah berlebihan mengingat populasi penduduk di pulau pedas ini hampir 90 persen memeluk agama Islam yang taat. Tak heran nuansa Islami juga sangat terasa di pulau yang dikenal juga dengan sebutan 'Sunda Kecil' tersebut.

Pusat pendidikan Islam tersebar hampir di seluruh pelosok di pulau yang populasi penduduknya mencapai tiga juta jiwa ini. Pondok pesantren tempat menggembleng akhlak dan meningkatkan pengetahuan agama hampir terdapat di setiap pelosok pulau kecil ini, tidak terkecuali di Kota Mataram.
 
Sebagai ibu kota provinsi dengan populasi penduduk yang heterogen dengan pemeluk agama yang beraneka ragam, juga tidak meninggalkan ciri khas Pulau Lombok yang Islami. Beberapa pondok pesantren berdiri dan istiqamah memberikan pelajaran agama serta menggembleng akhlak generasi muda, sehingga kelak menjadi insan yang mempunyai pengetahuan luas di bidang agama serta ilmu akademis formal lainnya.

Salah satu pondok pesantren yang cukup terkenal dan disegani adalah Pondok Pesantren Nurul Islam yang terletak di Jalan Swasembada No. 120, Kekalik, Sekarbela, Mataram, Nusa Tengara Barat. Pesantren yang didirikan pada Juli 2014 menjadikannya pesantren termuda di Mataram.

Meskipun terbilang sebagai pesantren termuda di Kota Mataram, namun popularitas pesantren yang dipimpin oleh Hj. Wartiah ini cukup disegani. Betapa tidak? Para pengasuh pesantren ini merupakan ustad yang memiliki pengetahuan di bidang agama yang mumpuni. Sebut saja Ustad Fathoni, Ustad H Tahkim, Ustadz H. Fakhrurrozi, Ustadz H. Siswadi, Ustadz Zulkifli,Ustadz Damanhuri, dan Ustad H. Ubaidillah.

Pesantren Nurul Islam merupakan pesantren yang berafiliasi dengan NU, sehingga menjadi salah satu pesantren berpaham Aswaja annahdliyah yang ada di Kota Mataram. Pimpinan pesantren, Hj. Wartiah menjelaskan Pesantren Nurul Islam tidak hanya fokus pada pengembangan nilai-nilai Islam, tetapi juga proses pembelajaran yangdisesuaikan (ekuivalen) dengan perkembangan zaman. Dengan demikian pesantren ini juga merupakan pesantren modern yang ada di Kota Mataram.

“Kami tidak hanya fokus pengembangan dan peningkatan nilai-nilai kesilaman, namun kami juga mengembangkan keterampilan-keterampilan untuk membekali santri dan santriwati di kehidupan dunia mereka kelak,” papar Hj. Wartiah, Rabu (8/11).

Kehidupan pesantren juga membekali santri supaya memiliki pedoman hidup berdasarkan syariah Islam, Ahlusunnah Wal Jamaah Annahdliyah.

Dalam Konbes Munas NU 2017 mendatang, pesantren Nurul Islam dipercaya sebagai salah satu lokasi pelaksanaan beberapa kegiatan. Sejumlah persiapan untuk mendukung dan menyukseskan agenda Nasional tersebut terus dikebut. Pesantren Nurul Islam bahkan telah menyediakan 15 kamar sebagai tempat menginap peserta Konbes dan Munas. 

Selain menyiapkan akomodasi, Pesantren Nurul Islam juga menyediakan ruang sekretariat, penyediaan toilet yang berstandar, hingga ruang media center bagi jurnalis yang melakukan peliputan. 

Agenda yang akan digelar di Pesantren Nurul Islam adalah sidang Komisi Organisasi. 

Selain Pesantren Nurul Islam pesantren lainnya yang menjadi lokasi acara adalah Pesantren Darul Falah dengan agenda Sidang Bas'ul Masail, Pesantren Darul Qur'an dengan agenda sidang Komisi Rekomendasi, Pesantren Al Halimy dengan agenda sidang Program Kerja, dan Pesantren Darul Hikmah sebagai posko panitia pusat. Ada pun Sekretariat PWNU diproyeksikan sebagai tempat registrasi seluruh peserta.

Pesantren Nurul Islam sendiri mendapat jatah peserta sebanyak 99 orang, keamanan 25 orang dan sisanya dari santri yang ada di pesantren Nurul Islam. (Red: Kendi Setiawan)