::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Perkenalanku dengan Banser

Kamis, 09 November 2017 18:01 Opini

Bagikan

Perkenalanku dengan Banser
Oleh Ahmad Naufa Khoirul Faizun

Barisan Ansor Serbaguna, atau yang biasa disebut Banser, merupakan gerakan pemuda yang tak asing bagiku. Aku telah mengenalnya semenjak lama, semenjak kecil hidup di desa, sampai tumbuh dewasa dan kini tinggal di kota.

Dulu, ketika masih SD, aku punya om, namanya Hayyun. Orang desa, dan karena lidah Jawa, menyebutnya Kayun. Aku sendiri memanggilnya Lik Kayun. Maklum, aku memanggil Mbah (simbah, kakek) kepada ayahnya. Kepada Kayun itulah, aku mengenal Banser, meski sebatas tahu nama, untuk pertama kalinya di dunia.

Sehari-hari, Lik Kayun dulu memelihara kerbau dan sapi, mewarisi usaha orang tuanya, yang termasuk orang kaya dan terpandang di desa. Orang tua Lik Kayun adalah termasuk “assabiqunal awwalun”  dari desa kami yang mampu berziarah ke makam Nabi Muhammad saw di Tanah Suci.

Di hari-hari pasaran tertentu, aku melihat Lik Kayun menuntun kerbau atau sapi (dan kadang kambing) untuk dijual ke pasar. Ototnya yang kuat mampu menuntun dan mengondisikan sapi dalam berjalan. Dengan profesi itulah, memelihara kerbau dan sapi, mungkin membuat fisik Lik Kayun jadi kuat dan kekar. Ia termasuk pemuda paling kekar dan gagah di desaku, meski orangnya ramah dan pendiam. Ia ramah dan menyapa tiap kali bertemu orang. Gagahnya tambah lengkap, jika ditambah bahwa ia pemilik motor terbaru waktu itu: RX King, ditengah orang desa belum banyak punya kebdaraan. Meski begitu, ia tetap ramah dan tak jumawa.

Tentatif seminggu atau dua minggu sekali, Lik Kayun akan di ajak oleh omku, adik ibuku, namanya Fadlun, untuk pergi ke luar desa. Lik Pad, begitu aku memanggilnya, selalu mengajak Lik Kayun untuk Ansoran atau Banseran. Waktu itu saya tak tahu acara apakah itu. Yang jelas, semenjak pulang dari Pesantren Lirboyo, Lik Pad aktif di Ansor. Sekarang dia di daulat jadi salah satu anggota DPRD Wonosobo dan ketua FKDT (Forum Komunikasi Diniyyah Takmiliyyah), sebuah organisasi yang menaungi Madin.

Berangkat dari Lik Kayun itu, saya melihat dan tahu ada Banser di dunia ini untuk pertama kalinya. Termasuk, aku tahu bagaimana persiapan orang-orang selingkaran dengan Lik Kayun dalam menghadapi “geger ninja” dan “penculik misterius” jelang pergantian Orde Lama menuju reformasi. Mereka, selain mengamalkan wirid, memakai gaman berupa bambu prenjalin, juga senantiasa berjaga di waktu malam. 

Adapun beberapa bulan lalu (ketika saya pulang), di kepengurusan Ansor level desaku, ada sekitar 30-an Banser yang aktif dalam kegiatan. Entah sekarang, mungkin sudah bertambah, mengingat Wonosobo memiliki Banser terbanyak di Indonesia, dibanding kabupaten lain dan pernah mendapat penghargaan dari pengurus PP GP Ansor.

Adanya Lik Kayun berhasil mengenalkanku waktu itu, meski belum dalam, tentang apa itu Banser. Kemudian, usai lulus SD saya nyantri dan bertemu lagi dengan Banser yang mengamankan kegiatan pengajian oleh Romo Kiai di pesantren. Mereka berbadan tinggi dan kekar, gagah dengan seragam doreng lengkap beserta atributnya.

Di masa nyantri ini, aku mulai tahu, bahwa untuk menjadi Banser ada pelatihan atau diklatnya. Semi militer. Dan kebetulan, bapakku yang agak tahu hal-hal mistik dalam Islam, seringkali "mengisi" kanuragan untuk kedigdayaan Banser. Dengan bekal beberapa kitab seperti al-Aufaq dan Mujarobat, Bapak sering membuat "rajah" untuk hal dan kepentingan tertentu. 

Kitab Al-Aufaq sendiri adalah salah satu karya Imam Al-Ghazali yang memuat berbagai macam wifik, azimat, rajah maupun doa-doa. Penting diketahui dalam hal ini, bahwa segala sesuatu berada di bawah kekuasaan Allah. Oleh karenanya, bila mengamalkan isi buku ini harus dibawah buimbingan (ijasah) dari kiai, kemudian didasari kepercayaan, ketakwaan dan penyerahan diri secara penuh kepada Allah yang maha kuasa. 

Saya sendiri sempat tertarik dalam hal mistik dan kanuragan ini ketika SMA, namun kemudian meluntur ketertarikan itu, sehingga sampai saat ini tak bisa. Kalau ada hal-hal yang terkait dengan itu, seperti soal kesurupan, jin, santet dan sebagainya, memanggil teman yang memang sudah “praktisi” di bidang ini.

Kemudian, paska nyantri, ketika aku bergabung dengan underbow NU, semakin paham dan mengerti Banser. Sejarah mereka panjang, bahkan semenjak dari sebelum Republik ini didirikan. Banser dan Ansor turut mengalirkan darahnya untuk membela Indonesia dari cengkeraman kolonialisme Belanda dan fasisme Jepang, hingga  penghuni negeri "penggalan sorga" ini menghirup udara kebebasan. Mereka adalah pemuda pemilik dan pewaris sah masa depan negeri ini, meskipun kebijakan kadang tak begitu berpihak pada mereka. Padahal peran mereka begitu besar terutama ketika Islam dan atau negara menghadapi masalah genting yang mebutuhkan keberanian, pengorbanan dan tindakan nyata, suatu hal yang mulai langka.

Di antara tugas Banser yang aku tahu dan saksikan, adalah mengawal pelbagai pengajian. Ini tugas yang paling sering saya saksikan. Mulai dari pengajian kecil tingkat desa, sampai pengajian akbar yang melibatkan ribuan massa. Banser terdepan dalam menjaga. Selain itu, Banser juga selalu terlibat aktif dalam menangani masalah sosial seperti longsor, banjir, gempa bumi dan peristiwa alam lain yang membutuhkan langkah konkrit.

Kemudian juga mengamal para ulama. Maklum, tingkatan kami - dalam perspektif NU - adalah tingkatan muridnya ulama. Bukan murid langsung tabiin, sahabat, apalagi Kanjeng Nabi Muhammad saw. Artinya, aku - dan sejatinya masyarakat Islam hari ini - ya tahu Allah, Malaikat, Iman, Islam dan berbagai nikmat hidayah itu ya dari para kiai dan ulama. Baik dari yang ngajarin abata sampai Juzz 'Amma. Dari Aqidatul Awam sampai Ummul Barahin. Dari Nahwul Wadhih sampai Alfiyyah Ibnu Malik atau Jauharul Maknun. Dari Akhlaqul Banin sampai Ihya Ulumuddin. Dari Mabadik Fiqhiyyah, Fathul Qarib, Bidayatul Mujtahid, sampai yang kontemporer Fiqh Islam wa Adillatuh-nya Syeikh Wahbah Azzuhaili. Mulai ajaran bagaimana cebok, menghilangkan najis, sampai soal sosio-ekopol dan tata-negara Nabi di Madinah. Itu semua kami tahu dari ulama. 

Jadi wajarlah kalau ulama begitu dihargai, selain juga atas statement Kanjeng Nabi: "al-ulamaau warasatul anbiyaa, bahwa ulama adalah pewaris para nabi." Banser pun begitu dalam hal ini: menjaga, mengawal dan menghormati warisan itu.

Kemudian, Banser juga turut menjaga negara dari berbagai rong-rongan. Entah dari kekuatan politik kiri maupun kanan. Dari komunisme sampai islamisme-radikal. Banser selalu menjaga itu, atas petunjuk dan SOP yang jelas. Salah satu yang menonjol adalah soal peristiwa 48 – 65, juga pemberontakan PRRI Permesta. Meski banyak yang nyinyir, toh mereka bisanya nyinyi, tak tahu keadaan lapangan yang waktu itu dalam kondisi perang: dibunuh atau membunuh. Namun alhamdulillah, kita sudah ada rekonsiliasi kultural sesama anak bangsa.

Nah, dewasa ini Banser mulai mendapat tantangan, semenjak kran demokrasi dibuka, setelah Orde Baru tahun 1998, tumbang. Berbagai aliran masuk dan bergeliat secara terbuka, termasuk di antaranya yang ingin mengganti ideologi negara.

Mengapa Banser keukeh memepertahankan Pancasila? Yah, karena itu adalah payung bersama. Bagi Banser dan NU, yang paling penting adalah tujuan dan substansinya. Sebagaimana Nabi membuat payung bersama untuk berbagai kelompok dan agama melalui berbagai konsensus dan produk konstitusi. 

Mengapa Pancasila dinilai tidak Islami dan ingin diganti? Padahal, secara substansi muatannya adalah megambil dari intisari Al-Quran. Namun wajar, jangankan para ulama Nusantara, Nabi pun pernah di interupsi oleh para sahabat yang melihat bahwa Perjanjian Hudaibiyyah itu merugikan Islam (secara harafiyah, tekstual). Itu Nabi. Utusan Tuhan, pencipta semesta. Tapi toh fakta sejarah berkata lain: Islam dintungkan dengan perjanjian itu. Dan kini hujatan dan tantangan itu dialamatkan dan menjadi bagian dari resiko resiko para ulama – dan pendukungnya, salah satunya Banser -  yang tidak ingin islam di formalkan. "Kita santai saja, itu untuk menguji spiritualitas ulama," begitu kata Kiai Muwafiq, suatu ketika. Bahkan jelas dalam pandangan Islam, orang yang difitnah itu lebih mulai dari pemfitnah. Ketika orang dihina, justeru pahala menghampirinya. Hujatan, hinaan dan makian, imbuhnya, adalah cara Allah untuk meningkatkan level hambanya. 

Banser dan lingkarannya kukuh dalam memperjuangkan bentuk negara ini, karena Pancasila – yang dituduh oleh mereka tak Islami – justeru oleh Bung Karno lebih baik dari Manifesto Komunis-nya Soviet dan Declaration of Independen-nya Amerika, karena keduanya mendalangi Perang Dingin. Ini terjadi karena falsafah bangsanya kacau, beda dengan Pancasila (yang intisarinya kompatibel dengan Islam), meski  dalam kenyataanya memang belum terlaksana semua. Tapi memang itulah tantangan kita. Ladang perjuangan kita.

Lalu mengapa kita tak menghendaki penyatuah agama dengan negara? Karena – salah satunya – Ansor dan Banser sebagai kader NU paham sejarah, dimana jika kekuasaan disatukan, politisasi agama sangat rentan. Dan mengenai hal itu, pengalaman terbaik adalah dibunuhnya cucu Rasulullah yang mulia, gara-gara otoritas waktu itu, mengnaggap penentang pemerintah berarti menentang hukum Allah, maka layak dibunuh. Itu sekelas orang-orang yang dekat dengan nabi, lebih-lebih kalau kita kacaunya akan seperti apa? Soal dukung-mendukung kepala daerah saja sudah banyak diklaim bela agama. Na’udzubillah.

Dan untuk membentengi NKRI yang cukup lama teruji, semenjak kemerdekaan ini, Banser beberapa waktu lalu meminta salah satu motivator untuk menandatangani setia pada Pancasila dan NKRI, namun ia menolah, dan malah Banser dihujat dengan isu membubarkan pengajian. Padahal: siapakah selama ini yang menjaga pengajian dan acara keagamaan selain Banser? Tak ada. Kalaupun ada baru-baru aja kemarin. Banser ingin semua bisa bersatu, entah sesama muslim, non-muslim, sesama anak bangsa. Banser hanya tak ingin isi paparanya ada penggembosan terhadap negara, yang boro-boro ikut memperjuangkannya, alih-alih malah menghinanya: mengoyak Pancasila, yang sudah diperjuangkan dengan ribuan darah dan nyawa. Namun, aku tetap harap Banser kuat dan sabar menghadapi cobaan ini. Kebenaran takkan mati, ia akan ada dan berlipat ganda. Lebih baik memperbanyak berbuat kongkrit sambil terus menyolidkan barisan sampai ke akar rumput.

Semenjak saya mengenal Lik Kayun sebagai Banser, sampai tahu banyak Banser zaman now, saya semakin pede bahwa semua itu adalah kekuatan Islam, tinggal bagaimana “para pemimpin agama” dari yang beraneka itu mengelola perbedaan, saling ketemu, diskusi, koreksi, tanpa menjatuhkan. Lalu kita membangun indahnya peradapan dalam pijakan kebinekaan. Ditengah tantangan ekonomi, politik, teknologi, militer dan pengetahuan dunia yang kian hari kian destruktif. Kita sikapi perbedaan ini dengan hati lapang.

Karena bagaimanapun, itulah realitas yang ada sekarang, banyak yang tak sepakat untuk tidak sepakat. Sejarah perpecahan dalam tubuh umat Islam memang sudah sekian abad lamanya. Namun bukan berarti kita harus saling hina. Dan sejarah keseimbangan memang berlangsung sekian lama. Tuhan mencipta kita memang semua berjodoh, saling berkebalikan. Bagaimanapun, perbedaan ini tidak boleh menafikan, bahwa kita umat Islam masih banyak samanya: percaya rukun Iman dan Rukun Islam. Di dada kita masih membawa Iman, yang menurut jika dibawa sampai mati akan tetap ada kesempatan. 

Mari kita saling asih dan asuh, membangun peradaban. Memajukan ekonomi ummat, kesehatan dan pendidikan agar Islam Nusantara ini menjadi mercusuar Islam dunia, belajar dari keterpurukan dan khazanah Islam yang telah ada, dengan gaya Indonesia. Gaya yang memang sudah ditakdirkan oleh Tuhan dalam menciptakan alam dan manusia, yang berbeda dengan negara lainnya. Akhirnya, semoga kita semua khusnul khatimah, Amin ya Rabbal Alamin.

Penulis adalah Wakil Sekretaris PC GP Ansor Purworejo. Editor situs anak muda zaman now: nubackpacker.org.