::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

PAHLAWAN NASIONAL

Hikayat Perjuangan KH Abdul Wahab Chasbullah

Jumat, 10 November 2017 08:00 Tokoh

Bagikan

Hikayat Perjuangan KH Abdul Wahab Chasbullah
Ya lal wathan, ya lal wathan, ya lal wathan. Hubbul wathan minal iman. Wala takun minal hirman. Inhadhu ahlal wathon. Indonesia Biladi. Anta 'unwanul mufakhoma. Kullu man ya'tika yauma. Thamihan yalqo himama (Pusaka hati wahai tanah airku. Cintamu dalam imanku. Jangan halangkan nasibmu. Bangkitlah, hai bangsaku! Indonesia negeriku. Engkau Panji Martabatku. Siapa datang mengancammu. Kan binasa dibawah dulimu!)

Bait-bait syair lagu Ya Lal Wathon, menggelora dari pekikan mulut-mulut mungil para siswa sebuah Madrasah Ibtida'iyah (MI) yang terletak tak jauh dari Gunung Lawu. Lagu tersebut menjadi penyemangat mereka saat hendak akan memulai kegiatan belajar di pagi hari, selain juga tentunya lagu Indonesia Raya dan Bagimu Negeri yang wajib dihafal oleh para murid. 

Kata salah guru di madrasah tersebut, lagu itu juga menjadi ikhtiar untuk membangkitkan rasa nasionalisme kepada murid sedari dini.

Namun siapa sangka, lagu tersebut ternyata sudah dinyanyikan para siswa perguruan Nahdlatul Wathan di Surabaya, hampir seabad yang lalu. Lagu tersebut merupakan gubahan dari KH Abdul Wahab Chasbullah yang ketika itu mengemban amanah sebagai Pimpinan Dewan Guru (keulamaan) di Nahdlatul Wathan. 

Mbah Wahab bersama dengan KH Abdul Kahar sebagai Direkur, dan KH Mas Mansur sebagai Kepala Sekolah dibantu KH Ridwan Abdullah, mereka menjadikan NW sebagai markas penggemblengan para pemuda. Mereka dididik untuk menjadi pemuda yang berilmu dan cinta tanah air. (Anam, 1983)

Kelak, perjuangannya dengan membangun semangat nasionalisme melalui jalur pendidikan akan terus dikenang generasi sesudahnya. Nama madrasah Nahdlatul Wathan yang bermakna 'Kebangkitan Tanah Air', juga sengaja dipilih Mbah Wahab dan kawan-kawannya, untuk menegaskan cita-cita membebaskan diri dari belenggu penjajahan. Tidak hanya itu, Kiai Wahab juga membentuk cabang-cabang baru: Akhul Wathan di Semarang, Far'ul Wathan di Gresik, Hidayatul Wathan di Jombang, Ahlul Wathan di Wonokromo dan lain sebagainya. Semua sekolah tersebut memiliki kesamaan, yakni pencantuman kata wathan yang berarti tanah air.

Usaha ini memang tidak mudah, akan tetapi Mbah Wahab selalu yakin akan kemerdekaan yang akan diraih bangsa ini. Pernah suatu ketika Kiai Abdul Halim (Cirebon) bertanya kepadanya, apakah dengan usaha (jalur pendidikan dan perkumpulan ulama) macam begini bisa menuntut kemerdekaan? Mendengar pertanyaan itu, Kiai Wahab segera mengambil satu batang korek api dan menyulutkannya, sambil berkata: “Ini bisa mengancurkan bangunan perang. Kita jangan putus asa. Kita harus yakin tercapai negeri merdeka!” (Saifuddin Zuhri, 1972).

Resolusi Jihad
Bersama sejumlah ulama lainnya, Kiai Wahab juga ikut membidani berdirinya organisasi Nahdlatul Ulama (NU) pada tahun 1926. Pada awal berdiri, duetnya bersama sang Rais Akbar Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari menjadikan NU sebagai salah organisasi yang memiliki pengaruh besar dalam perjalanan bangsa ini. Salah satunya, ketika dikeluarkan sebuah fatwa 'Resolusi Jihad'. Sebuah seruan yang ditujukan kepada Pemerintah Republik Indonesia dan umat Islam Indonesia, yang mengajak kepada semua untuk berjuang membela Tanah Air dari penguasaan kembali pihak Belanda dan pihak asing lainnya.

Resolusi Jihad ini dikeluarkan, ketika pada Oktober 1945, Belanda datang bersama pasukan Sekutu untuk kembali menjajah Indonesia yang baru beberapa bulan memproklamirkan kemerdekaannya. Satu demi satu kota jatuh ke tangan musuh. Bandung dan Semarang, dua kota penting telah dikuasai pihak sekutu.

Mendengar kabar tersebut, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari dan KH Wahab Chasbullah mengumpulkan sejumlah ulama untuk mengikuti Rapat Besar Konsul-konsul Nahdlatul Ulama (NU) se-Jawa dan Madura, 21-22 Oktober di Surabaya, Jawa Timur. Dari pertemuan itu dikeluarkan sebuah seruan yang kemudian dikenal dengan “Resolusi Jihad fi Sabilillah”.

Adapun isi seruan tersebut sebagaimana termaktub dalam buku “Pertumbuhan dan Perkembangan Nahdlatul Ulama” (Anam: 1983) yakni : “Berperang menolak dan melawan pendjadjah itoe Fardloe 'ain (jang haroes dikerdjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempoean, anak-anak, bersendjata ataoe tidak) bagi jang berada dalam djarak lingkaran 94 km dari tempat masoek dan kedoedoekan moesoeh. Bagi orang-orang jang berada di loear djarak lingkaran tadi, kewadjiban itu djadi fardloe kifajah (jang tjoekoep, kalaoe dikerdjakan sebagian sadja…”.

Selain itu para ulama juga memberikan beberapa seruan, antara lain: Pertama. Memohon dengan sangat kepada Pemerintah Republik Indonesia supaya menentukan suatu sikap dan tindakan yang nyata serta sepadan terhadap usaha-usaha yang akan membahayakan kemerdekaan Agama dan Negara Indonesia, terutama terhadap pihak Belanda dan kaki tangan. Kedua. Supaya memerintahkan melanjutkan perjuangan bersifat “sabilillah” untuk tegaknya Negara Republik Indonesia Merdeka dan Agama Islam.

Usai disebarkannya seruan itu ke segala penjuru, para pejuang di tiap daerah bersiaga perang menunggu pendaratan tentara Inggris yang kabarnya sudah tersiar. Seruan untuk berjihad fii sabilillah ini pula yang menjadi pemicu perang massa (Tawuran Massal) pada tanggal 27, 28, 29 Oktober 1945. Saat itulah, arek-arek Surabaya yang dibakar semangat jihad menyerang Brigade ke-49 Mahratta pimpinan Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sothern Mallaby.

Hasilnya, lebih dari 2000 orang pasukan kebanggaan Inggris tewasnya. Sang Brigadir Jenderal, A.W.S. Mallaby juga tewas akibat dilempar granat. Perang Massa (Tawuran Massal) tanpa komando yang berlangsung selama tiga hari yang mengakibatkan kematian Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby itulah yang memicu kemarahan Inggris yang berujung pada pecahnya pertempuran besar Surabaya 10 November 1945, yang kelak dikenang sebagai tanggal peringatan Hari Pahlawan.

Pahlawan Sejati
Demikianlah, dedikasi Mbah Wahab baik sebagai seorang ulama, pendidik, negarawan, maupun aktivis pergerakan untuk bangsa ini memang sangat besar pengaruhnya. Gelar Pahlawan Nasional yang diberikan kepadanya, tentu istimewa. Namun, jauh sebelum pemberian gelar pahlawan ini, Mbah Wahab sejatinya sudah menjadi sosok yang telah memberikan banyak inspirasi dan jasa.

Kini, meski ia telah wafat, jasa dan ilmunya akan tetap dikenang, sebagaimana yang diungkapkan oleh seorang penyair Arab yang termaktub dalam kitab Alala: “Akhul 'ilmi hayyun kholidun ba'da mautihi, wa aushooluhu tahta turobi romiimun” (Para ahli ilmu, hidup abadi (nama dan jasanya) meski telah mati dan jasadnya terkubur di dalam tanah). Lahumu al-fatihah! (Ajie Najmuddin)