::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Yang Tersisa dari Hari Pahlawan

Jumat, 10 November 2017 21:00 Opini

Bagikan

Yang Tersisa dari Hari Pahlawan
Ilustrasi
10 November selalu menjadi hari yang harus diperingati oleh bangsa Indonesia, terutama masyarakat Surabaya. Pada tanggal tersebut lah terjadi pertempuran yang begitu dahsyatnya dan memakan banyak korban antara arek-arek Suroboyo dengan tentara sukutu. Dilaporkan bahwa sekitar puluhan bahkan ratusan ribu penduduk Indonesia yang gugur dalam pertempuran tersebut. Pertempuran untuk mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan bangsa Indonesia dari tangan penjajah. 

Setiap memasuki bulan November, bangsa ini 'disibukkan' dengan persiapan ritual peringatan hari pahlawan. Banyak cara orang memperingati hari pahlawan tersebut; ada yang mengadakan upacara bendera, mengheningkan cipta selama beberapa menit, mengadakan perlombaan-perlombaan, mendaki gunung untuk mengibarkan sang merah putih, menziarahi tugu pahlawan, menziarahi Taman Makam Pahlawan, memasang ucapan-ucapan selamat hari pahlawan di profile picture media sosial masing-masing, dan lain sebagainya. Semuanya ingin memperingati hari pahlawan, salah satu hari yang paling bersejarah bagi bangsa ini.

Di hari pahlawan, media-media tak luput menampilkan dan mengekspos para mantan pejuang pertempuran Surabaya yang masih hidup dan dalam keadaan serba kekurangan. Dahulu mereka adalah prajurit gagah perkasa dan bertempur dengan segenap jiwa raga untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini. Namun di usia senjanya, mereka seakan terlupakan dan luput dari perhatian pemerintah, padahal jasa yang mereka kasih ke bangsa ini begitu besarnya. Selain itu, media juga ramai-ramai mengulas perjalanan hidup para pahlawan yang sudah dipanggil sang ilahi.

Keadaan mantan pejuang bangsa ini yang dalam keadaan serba kekurangan tentu membuat kita semua prihatin dan iba. Semua orang yang melihat keadaan mereka pasti akan merasakan hal yang sama. Bagaimana bisa bangsa ini lupa akan jasa pahlawannya? Bagaimana mungkin kita bisa menjadi bangsa yang hebat kalau kita melupakan sejarah? Bukankah Bung Karno pernah berkata bahwa jangan sekali-kali melupakan sejarah? Mengapa masih banyak mantan pejuang kita yang terabaikan dan terlupakan? Apakah pemerintah lupa akan jasa-jasa mereka? sungguh hal yang ironi dan mengaharukan.

Yang tak kalah mengharukan lagi adalah kita sekarang di dunia digital, semuanya serba internet dan aplikasi. Banyak dari kita yang memperingati hari pahlawan dengan mengganti profile picture kita dengan gambar-gambar pahlawan kita. Kita seakan-akan turut serta dalam peringatan hari pahlawan dengan mengunggah gambar-gambar dan kata-kata pahlawan Indonesia di mesia sosial kita masing-masing. Apakah demikian sudah bisa disebut turut serta memperingati hari pahlawan? Dan kita merasa bangga telah memperingati hari pahlawan dengan cara yang demikian. 

Rhenald Kasali pernah menulis sebuah artikel yang berjudul generasi wacana. Di dalam artikel tersebut Rhenald mengemukakan generasi yang hanya berwacana tanpa ikut serta, yang hanya mengkritik tanpa ikut memperbaiki, yang hanya berkoar-koar di media sosialnya tanpa ikut turun tangan langsung. Ia mengatakan bahwa kita sekarang mengalami era generasi wacana, generasi yang hanya menjadi saksi, bukan aksi. Apakah kita termasuk di dalamnya? Entahlah. 

Generasi wacananya Rhenald Kasali tersebut sangatlah cocok untuk menggambarkan orang-orang yang hanya memperingati hari pahlawan dengan hanya modal wacana. Mereka bangga bukan main kalau sudah mengganti foto profilnya dengan hal-hal yang berbau pahlawan di hari pahlawan, seakan-akan mereka sudah maksimal memperingati hari pahlawan tersebut. Mereka merasa sudah cukup dengan cara demikian tanpa turut meneladani jasa-jasa pahlawan dan meneruskan perjuangannya. Bukankan hal tersebut adalah lip service semata? 

Bangsa Amnesia

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang mengalami amnesia akut. Bagaimana tidak? Banyak mantan pejuang kita yang nasibnya terlunta-lunta di hari tuanya. Banyak dari mereka yang untuk makan dan tempat tinggal saja, numpang kepada anak dan cucunya. Seolah-olah mereka hilang dari peredaran bangsa ini. 

Memang, biasanya pemerintah selalu menganugerahi gelar pahlawan kepada mereka yang sudah gugur di medan perang setiap kali tanggal 10 November. Itu patut diapresiasi. Namun yang tidak kalah penting adalah memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada pejuang yang masih hidup karena mereka sudah mengorbankan air mata dan darahnya untuk Indonesia ini. 

Peringatan hari pahlawan ini merupakan momentum untuk menata kembali bangsa ini untuk menjadi bangsa yang menghargai jasa pahlawannya, menghormati kiprah dan meneladani keberaniannya untuk Indonesia yang lebih baik serta meneruskan perjuangannya. Kita semua berharap bahwa peringatan hari pahlawan ini bukan hanya lip service semata dan bukan hanya sekedar ikut-ikutan. Tujuh puluh dua tahun bukanlah waktu yang singkat, sudah semestinya kita mengkaji dan menerapkan nilai-nilai yang ditinggalkan para pahlawan kita. 

Semangat Hari Pahlawan harus kita tanamkan dalam benak kita setiap hari, bukan hanya pas saat 10 November saja. Jangan sampai setelah hari pahlawan lewat, semangat ‘pahlawan’ kita ikut lewat juga. Peringatan hari pahlawan ini seharusnya kita jadikan sebagai starting point untuk Indonesia yang lebih baik. Jangan sampai kita menjadi generasi latah yang hanya ikut-ikutan memperingati tanpa mengerti esensi yang kita peringati dan apa yang harus kita lakukan. 

*A Muchlishon Rochmat, Wasekjen Majelis Pemuda Islam Indonesia (MPII) Pusat