::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Meneladani Kepahlawanan KH Hasyim Asy’ari

Jumat, 10 November 2017 17:30 Opini

Bagikan

Meneladani Kepahlawanan KH Hasyim Asy’ari
Oleh M Ainun Nasikh

Peringatan hari pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 November tentu menjadi momen yang sangat berharga dalam menumbuhkan semangat kepahlawanan generasi bangsa. Peristiwa heroik tersebut merupakan momen bersejarah yang mewarnai perjalanan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan negara dari penjajahan yang dilakukan oleh bangsa asing.

Eksistensi bangsa Indonesia yang baru merdeka kembali teruji dengan datangnya Belanda yang membonceng Inggris. Mereka memberikan perintah kepada rakyat Surabaya yang baru saja melucuti persenjataan dari tangan Jepang untuk menyerahkannya kepada Inggris. Sebagai bentuk ultimatum, Inggris menyebarkan pamflet keseluruh penjuru Surabaya.

Tentu hal tersebut menjadi tantangan yang sangat berat bagi bangsa Indonesia. Khususnya rakyat di kota Surabaya yang pernah menjadi basis angkatan perang terbesar Jepang di Asia Tenggara. Kekalahan Jepang atas sekutu dalam perang Asia Timur raya menyebabkan mereka harus hengkang dari Indonesia. Sementara kedatangan pasukan Belanda dan Inggris tentu mempunyai maksud hendak merebut kembali kemerdekaan bangsa Indonesia.

Konflik antara Belanda dengan rakyat Surabaya diawali dengan pengibaran bendera merah putih biru di hotel Yamato. Melihat kejadian tersebut, rakyat Surabaya marah dan menurunkan secara paksa dengan menyobek bendera yang berwarna biru. Insiden ini terus berlanjut dengan ultimatum yang diberikan oleh Inggris agar rakyat Surabaya secepatnya menyerahkan persenjataan yang telah direbut dari tangan Jepang. Bukannya takut, rakyat Indonesia khususnya di Surabaya malah menantang dan menyuruh Inggris agar keluar meninggalkan kota Surabaya. Meskipun secara perhitungan matematis, koalisi Inggris dan Belanda di atas angin atas Indonesia.

Menyikapi rakyat yang semakin marah. Inggris mengadakan sidang dengan mendatangkan Bung Karno dan Bung Hatta dari Jakarta. Tindakan ini dilakukan oleh Inggris agar dapat meredam amarah rakyat Surabaya. Rakyat yang terlalu lama menunggu hasil sidang kemudian melampiaskan amarahnya dengan bertindak brutal terhadap tentara Inggris. Puncaknya dengan kematian Jenderal Mallaby yang menjadi komandang perang Inggris. Padahal sebelumnya Inggris tidak pernah kehilangan perwiranya selama perang dunia. Tindakan yang dilakukan oleh rakyat Surabaya ini menimbulkan kemarahan yang sngat besar bagi pihak Inggris. Sebab mereka merasa dipermalukan oleh arek-arek Surabaya.

Dengan menghimpun seluruh pasukannya, Inggris kemudian bersiap untuk membumihangsukan kota Surabaya. Sebagai anak muda yang mempunyai jiwa patriotisme yang tinggi, Bung Tomo berpidato dan mengumumkan agar rakyat Indonesia dari berbagai daerah tidak menyerah kepada Inggris. Pidato tersebut kemudian membakar semangat arek-arek Surabaya dalam menghadapi tantangan Inggris.

Konon sebelum berpidato dalam mengobarkan semangat perang melawan penjajah. Bung Tomo terlebih dahulu mendatangi (sowan) kepada KH Muhammad Hasyim Asy’ari. Kedatangan Bung Tomo hendak meminta dukungan kepada KH Muhammad Hasyim Asy’ari dalam upaya mempetahankan tanah air dari upaya pendudukan Inggris dan Belanda. Dengan penuh suka cita, KH Muhammad Hasyim Asy’ari menerima permintaan Bung Tomo. 

Sebagai ulama besar, KH Muhammad Hasyim Asy’ari mempunyai semangat nasionalisme yang kuat. Beliau memberikan dukungan penuh kepada para pejuang tanah air dengan mengobarkan resolusi jihad pada tanggal 22 Oktober 1945 di kantor NU di Jawa Timur. Perintah jihad tersebut pada saat ini diperingati sebagai hari santri nasional setiap tanggal 22 Oktober.

Bentuk dukungan yang diberikan oleh KH Muhammad Hasyim Asy’ari kepada para pejuang tanah air tidak hanya dalam bentuk seruan jihad. Selama perang terjadi, KH Muhammad Hasyim Asy’ari menolak saran Bung Tomo agar mengungsi dari Tebuireng ke tempat yang lebih aman. Permintaan Bung Tomo ini dikarenakan musuh sudah bergerak mendekati Jombang. Sikap konsistensi yang beliau tujukan adalah dengan memilih tetap bertahan di Tebuireng dengan menghadapi penjajah daripada mengungsi dan bersembunyi di tempat yang lebih aman.

Meskipun beliau dikenal sebagai ulama yang memegang teguh agama. Sikap beliau untuk membela keutuhan NKRI dari penjajahan wajib diteladani. Konsistensi beliau pada agama dapat kita lihat dari sikap beliau yang menolak seikerei. Sebuah perintah yang dikeluarkan oleh Jepang kepada rakyat Indonesia agar membungkukan setengah badan pada pukul 07.00 sebagai penghormatan terhadap kaisar Hirohito yang sedang memerintah. 

Tentu sebagain besar rakyat Indonesia yang bersedia untuk melaksanakan perintah tersebut. Namun KH Muhammad Hasyim Asy’ari menanggapinya dengan penolakan keras. Sikap penolakan yang dilakukan oleh beliau kemudian menimbulkan kemarahan terhadap tentara Jepang yang telah menaklukan Asia Pasifik pada perang dunia kedua. Jepang kemudian memenjarakan dan menyiksa KH Muhammad Hasyim Asy’ari. Beliau dipindahkan dari penjara di Jombang, Mojokerto, lalu ke Bubutan Surabaya. Selama di penjara, Jepang menyiksa KH Muhammad Hasyim Asy’ari dengan sangat keras hingga jari tangannya patah. Tindakan ini dilakukan agar beliau bersedia merubah sikapnya.

Tidak diragukan lagi, tindakan tersebut merupakan sikap beliau yang sangat konsisten terhadap agama. Beliau tidak segan-segan menentang tindakan yang tidak sesuai dengan ajaran agama. Meskipun demikian, beliau tidak pernah mempertentangkan agama dengan negara. Oleh karena itulah, beliau mengutus putranya, KH Abdul Wahid Hasyim sebagai anggota Panitia Sembilan dalam perumusan dasar negara yang kemudian kita kenal dengan Pancasila.

Kepedulian KH Muhammad Hasyim Asy’ari yang sangat besar terhadap bangsa dan negara tentu dapat menjadi teladan yang berharga dari kita. Semangat jiwa kepahlawanan yang beliau hibahkan seharusnya dapat diimplementasikan dalam membela keutuhan bangsa dan negara. Tidak selayaknya agama dipertentangkan dengan negara yang telah memberikan kebebasan beribadah bagi seluruh rakyatnya. Semangat ini kemudian kian hari makin terkikis dengan munculnya beberapa pihak yang secara sengaja mempertentangkan agama dengan negara.

Sebagai bangsa yang besar, Indonesia mempunyai tanggung jawab yang besar sebagaimana yang telah dicontohkan oleh KH Muhammad Hasyim Asy’ari. Beliau secara gamblang memberikan pesan agar senantiasa mencintai tanah air (hubul wathan minal iman). Sehingga hampir semua kelompok Islam di Indonesia baik dari kalangan konservatif maupun modernis menaruh hormat kepada beliau. Kalangan akademisi bahkan menyimpulkan bahwa kepemimpinan KH Muhammad Hasyim Asy’ari diterima oleh semua pihak. Wawlahu a’lam bishawab.


Penulis adalah alumni Pesantren Langitan Tuban Jawa Timur dan Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta Program Studi Antropologi dan Sosiologi Agama