::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Meziarahi Makam Abu Hanifah: Catatan Santri Pelancong Makam Aulia

Senin, 13 November 2017 05:45 Internasional

Bagikan

Meziarahi Makam Abu Hanifah: Catatan Santri Pelancong Makam Aulia
Kisah perjalanan ke negeri seribu satu malam, memasuki kota Baghdad, ibu kota Irak, tidaklah semudah seperti memasuki negara tetangga kita, Singapura atau Malaysia, cukup ketat. Sabtu (12/11) siang waktu setempat saya bersama empat teman lain menuju kota Baghdad dengan menggunakan kendaraan elf. Kami menempuh perjalanan sekitar 5 jam dari kota Najaf. Banyak tentara Irak di setiap 1 kilometer jalan, berjaga dan mendirikan pos pemeriksaan lengkap dengan kendaraan militer tank dan mobil.

Setiap mobil yang akan memasuki kota Baghdad selalu berhenti untuk dilakukan pemeriksaan. Semua bawaan isi mobil dan penumpang diperiksa lengkap. Saat salah satu tentara memeriksa mobil yang kami tumpangi terlihat wajah yang tidak begitu ramah. Setelah saya menyapa dengan salam dijawab dan sesekali tentara menoleh ke peci hitam yang saya pakai. Ya, itu peci nasional khas Indonesia dan membuat para tentara hormat dan tersenyum ke rombongan mobil yang membawa kami. "Andunizi?" (Indonesia: maksud ucapannya). “Na'am, ana min Indonesia (saya dari Indonesia).”

Beberapa pos militer sudah kami lewati, tibalah di kota Baghdad kota yang banyak kisah sejarah yang sudah ribuan tahun penuh dengan peradaban yang maju, kota ini pula yang pernah melahirkan banyak ulama-ulama berpengaruh di dunia, bahkan KH Abdurrahman Ad Dakhil—biasa dipanggil Gus Dur—pernah dua tahun belajar di kota ini. Ada riwayat beliau tidak masuk kelas tapi lebih sering duduk di perpustakaan Universitas Baghdad yang penuh dengan berjuta referensi kitab-kitab peradaban Islam. 


Rombongan kami sampai di satu tempat yang bernama Kadzhimain di mana terdapat bangunan masjid yang cukup megah dengan menara menjulang tinggi dan arsitektur terlihat cukup kuno dan banyak misteri. Ternyata di dalam masjid ini terdapat pusaran seorang ulama besar Ahlussunah yang cukup berpengaruh,

Nu’man bin Tsabit bin Zuta bin Mahan at-Taymi (Arab: ﺍﻟﻨﻌﻤﺎﻥ ﺑﻦ ﺛﺎﺑﺖ ), lebih dikenal dengan nama Abu Hanifah, lahir di Kufah , Irak pada 80 H/699 M—meninggal di Baghdad, Irak, pada 148 H/767 M). Ia merupakan pendiri dari madzhab yurisprudensi Islam Hanafi.


Abu Hanifah juga merupakan seorang Tabi'in , generasi setelah Sahabat nabi, karena dia pernah bertemu dengan salah seorang sahabat bernama Anas bin Malik , dan meriwayatkan hadis darinya serta sahabat lainnya.

Imam Hanafi disebutkan sebagai tokoh yang pertama kali menyusun kitab fiqih berdasarkan kelompok-kelompok yang berawal dari kesucian (thaharah), shalat dan seterusnya, yang kemudian diikuti oleh ulama-ulama sesudahnya seperti Malik bin Anas , Imam Syafi'i , Abu Dawud, dan Imam Bukhari .

Makam beliau sangat ramai diziarahi banyak orang. Mereka datang dari berbagai penjuru dunia termasuk Indonesia, dan salah satu peziarah ketika melihat peci yang saya kenakan langsung menyapa salam dan menyebut nama Soekarno beberapa kali sambil mengacungkan jempol ke hadapan saya. Sungguh lega hati ini banyak orang yang mengenal Indonesia dan Soekarno, banyak yang mendapat inspirasi dari beliau, Nusantara adalah negeri para wali.


(Abdul Hakim, Gusdurian)