::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Jenderal Besar Meminta Nasihat Abu ‘Ali al-Daqaq

Senin, 13 November 2017 10:30 Hikmah

Bagikan

Jenderal Besar Meminta Nasihat Abu ‘Ali al-Daqaq
Ilustrasi
Dalam kitab al-Tibr al-Masbuk fi Nasihah al-Muluk, Imam al-Ghazali menceritakan sowan seorang Isfahsalar Naisabur (Jenderal Besar Naisabur) bernama Abu Ali bin Ilyas ke majelis Imam Abu Ali al-Daqaq (w. 405 H). Diceritakan:

كان أبو علي بن إلياس إسفهسلار نيسابور فحضر يوما عند الشيخ أبي علي الدقاق رحمه الله, وكان زاهد زمانه وعالم أوانه, فقعد علي ركبتيه بين يديه وقال: عظني! فقال له أبو علي: أيها الأمير, أسألك مسألة وأريد الجواب عنها بغير نفاق. فقال: أجل أجيبك. فقال: أيها الأمير أيما أحب إليك المال أو العدو؟ فقال: المال أحب إليّ من العدو. فقال: كيف تترك ما تحبه بعدك وتصطحب العدو الذي لا تحبه معك؟ فبكي الأمير ودمعت عيناه وقال: نعم الموعظة هذه!

Abu Ali bin Ilyas, Isfahsalar wilayah Naisabur suatu hari sowan pada Syekh Abu ‘Ali al-Daqaq rahimahu Allah. Beliau adalah seorang zahid di zamannya dan alim di eranya. JenderalAbu Ali bin Ilyas duduk berhadapan dengan beliau dan berkata: “Berikan aku nasihat!”

Imam Abu Ali al-Daqaq berkata kepadanya: “Wahai amir, aku hendak menanyakan satu persoalan padamu. Aku harap kau menjawabnya tanpa kenifakan.”

Abu Ali bin Ilyas berujar: “Baik, akan kujawab pertanyaan tuan syekh.”

Imam al-Daqaq bertanya: “Manakah yang lebih kau cintai, harta atau musuh?”

Abu Ali bin Ilyas menjawab: “Harta lebih aku cintai daripada musuh.”

Kemudian Imam al-Daqaq berucap: “Bagaimana bisa tuan meninggalkan sesuatu (harta) yang tuan cintai setelah (kematian) tuan dan membawa musuh yang tuan tidak cintai bersama tuan (di kehidupan setelah mati)?”

Amir itu menangis. Matanya tertutup, sembari berujar: “Benar yang tuan nasihatkan ini.” (Abu Hamid al-Ghazali, al-Tibr al-Masbuk fi Nashihah al-Muluk, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1988,hlm 45).

****

Nasihat Imam Abu Ali al-Daqaq ini menarik untuk direnungkan. Sebab mengedepankan kemanusiaan di atas segalanya. Ia menarik kemanusiaan masuk ke wilayah akhirat, dengan menegaskan bahwa harta yang lebih dicintai oleh jenderal itu tidak akan dibawa mati, tapi musuh yang ia benci akan turut bersamanya di kehidupan mendatang. Seburuk-buruknya musuh, ia tetap manusia yang memiliki peluang sama dengan kita di akhirat kelak, tergantung bagaimana cara ia hidup.

Dengan kata lain, musuh harus lebih dicintai, bukan harta. Cara mencintainya dengan menghilangkan perilaku buruk mereka dan membawa mereka ke jalan yang benar. Jangan membencinya karena permusuhan. Cintailah mereka karena kemanusiaan. Sebanyak apa pun harta yang kita kumpulkan, mereka tidak akan dibawa mati. Seburuk apapun musuh yang kita miliki, ia akan bersama kita di akhirat kelak.

Dengan mengatakan nasihat ini kepada seorang jenderal besar, Imam Abu Ali al-Daqaq berharap agar jenderal tersebut lebih mengutamakan dakwah dan pendekatan persuasif dalam membebaskan suatu daerah, bukan penyerangan membabi buta untuk mendapatkan harta rampasan perang. Setiap orang memiliki hak mendengarkan seruan kebenaran, melintasi jalan yang lurus, dan tentu saja memasuki surga Allah. Jika ada seseorang yang mengambil hak tersebut dari orang lain, entah sangsi apa yang akan diberikan Allah kepadanya, kita tidak mengetahuinya.

Karena itu, sangat penting untuk tidak menilai seseorang berdasarkan kemungkinan tempatnya di akhirat kelak. Maksudnya, jika kita melihat seorang pendosa, kita sebaiknya tidak memperlakukannya sebagai penghuni neraka ketika ia masih hidup. Memandangnya dengan jijik dan hina. Kita harus membuka pintu kembali selebar-lebarnya. Selama nafas masih di kandung badan, ayat Allah yang mengatakan “serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah, perkataan yang baik dan berdebat dengan sikap yang lebih baik dari lawan” harus tetap dilakukan sebagai salah satu fungsi dari ayat tersebut. Di samping banyaknya ayat yang menunjukkan kemaha-ampunan Allah SWT.

Dari perspektif tersebut, ada beberapa hikmah yang dapat kita ambil dari kisah di atas. Pertama, jangan sekali-kali memastikan sudut pandang akhirat dan menggunakannya. Itu sama saja dengan mengambil hak “malik yaum al-din—penguasa hari pembalasan” Tuhan. Tidak ada satu pun dari kita yang tahu kedudukan seseorang di akhirat kelak, kecuali orang-orang yang telah termaktub dalam al-Qur’an seperti Abu Lahab dan Fir’aun. Apalagi jika sudut pandang itu berdasarkan kebencian atau perbedaan selera. Kita perlu berhati-hati.

Kedua, pandanglah musuh dengan kacamata manusia, yang memiliki kemungkinan menjadi baik, menjadi teman, bahkan menjadi saudara. Ini sangat penting. Sebab, seperti halnya bulan purnama di malam hari. Ketika seseorang ditanya, “apa yang kau lihat di atas sana?” Kebanyakan orang akan menjawab, “bulan purnama.” Tapi mereka lupa, bahwa di atas bulan purnama ada langit yang membentang luas. Besarnya melebihi besarnya bulan purnama. Luasnya melebihi luasnya bulan purnama. Tapi terlupakan oleh manusia ketika bulan purnama berada di bawahnya. Itulah manusia. Satu kesalahan seseorang seperti bulan purnama. Berpuluh-puluh kebaikan yang pernah dilakukannya, seketika sirna ketika satu kesalahan itu terjadi.

Singkatnya, kisah di atas mengajarkan kita untuk melihat manusia secara menyeluruh. Jangan memandangnya sepotong-sepotong. Manusia itu makhluk paling fluktuatif yang diciptakan Tuhan, naik-turun, berubah-ubah dan tidak statis. Karena itu, Tuhan memberikan manusia peluang untuk memohon ampun kepadaNya, berkali-kali, meski berulangkali berbuat dosa, Tuhan tetap membuka pintu ampunanNya. Pertanyaannya,siapa kita yang berani mengambil peluang itu dari manusia lainnya? Sudahkah kita bersungguh-sungguh menggunakan peluang itu sebelum mengambil hak ampunan manusia lainnya? Wallahu a’lam.


Muhammad Afiq Zahara, pernah nyantri di Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.