::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Nelangsanya Nasib Anak-anak Rohingya di Bangladesh

Senin, 13 November 2017 19:30 Internasional

Bagikan

Nelangsanya Nasib Anak-anak Rohingya di Bangladesh
Ilustrasi: Seorang anak Rohingya menjadi pelayan (© Reuters)
Cox's Bazar/Kutupalong, NU Online
Habis jatuh tertimpa tangga. Mungkin ungkapan ini pas untuk menggambarkan nasib anak-anak pengungsi Rohingya di Bangladesh. Perpindahan mereka dari Myanmar ke di kamp-kamp pengungsian negara tetangga tak membuat penderitaan mereka berakhir, bahkan bertambah.

Data yang dikumpulkan Reuters menyimpulkan bahwa kondisi anak-anak pengungsi Rohingya tidak lebih baik dari ketika mereka berada tanah asal. Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) melaporkan, anak-anak pengungsi terpaksa harus bekerja dengan bayaran sangat murah, mengalami kekerasan dan penganiayaan.

Laporan eksklusif Reuters juga berhasil mendokumentasikan fenomena gadis-gadis Rohingya berumur 11 tahun yang sudah menikah. Orang tua rela melepas anak-anak mereka melakukan hal itu dengan alasan memberikan perlindungan dan kemajuan ekonomi.

Sekitar 450.000 anak-anak, atau 55 persen dari populasi pengungsi, tinggal di permukiman kumuh dekat perbatasan dengan Myanmar, menyusul aksi brutal tentara Myanmar dan massa Buddhis yang membakar desa-desa, membunuh, menjarah, dan memerkosa para Muslim Rohingya.

Peristiwa tersebut muncul sebagai aksi balasan setelah sekelompok militan Rohingya melakukan serangan mematikan pada pos-pos keamanan Myanmar pada 25 Agustus lalu. PBB secara resmi menyebut krisis kemanusiaan di Myanmar sebagai upaya pembersihan etnis.

IOM mengatakan, anak-anak menjadi sasaran para agen tenaga kerja di tengah situasi keluarga mereka yang miskin dan kekurangan gizi di tenda-tenda pengungsian. Pendidikan pun terbatas bagi anak-anak yang sudah melewati kelas tiga.

Hasil temuan menyatakan, anak laki-laki dan perempuan Rohingya yang berusia tujuh tahun dipastikan bekerja di luar permukiman. Anak laki-laki umumnya bekerja di perkebunan, proyek bangunan, dan kapal penangkap ikan, juga di kedai teh dan sebagai supir becak.

Sementara anak perempuan biasanya bekerja sebagai pembantu rumah tangga dan pengasuh untuk keluarga Bangladesh, baik di kota dekat Cox's Bazar atau di Chittagong, kota terbesar kedua di Bangladesh, sekitar 150 kilometer dari tenda pengungsian.

Seorang ibu yang tak mau disebutkan namanya mengaku putrinya yang berusia 14 tahun bekerja di Chittagong sebagai pembantu namun kemudian melarikan diri dari majikannya. Ketika dia kembali ke tenda pengungsian, anak perempuan itu tak lagi bisa berjalan lantaran kekerasan fisik dan seksual yang dilakukan si majikan.

"Suami itu (majikan) adalah seorang pecandu alkohol dan dia masuk ke kamarnya (anak perempuannya) pada malam hari dan memperkosanya. Dia melakukannya enam atau tujuh kali," kata ibu itu. "Mereka tidak memberi kami uang. Tidak ada."

Sebuah survei awal Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi PBB (UNHCR) dan Komisi Bantuan dan Repatriasi Pengungsi Bangladesh telah menemukan bahwa 5 persen rumah tangga—atau 3.576 keluarga—dipimpin oleh seorang anak. (Red: Mahbib)