::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Dua Tesis Tentang Gender dalam Studi Islam Nusantara Berhasil Dipertahankan

Rabu, 15 November 2017 08:37 Nasional

Bagikan

Dua Tesis Tentang Gender dalam Studi Islam Nusantara Berhasil Dipertahankan
Jakarta, NU Online
Sembilan mahasiswa Pascasarjana Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta baru-baru ini telah berhasil mempertahankan berbagai tesisnya terkait pengembangan studi Islam Nusantara di hadapan para penguji.
 
Selain topik tasawuf, fiqih, budaya, dan sejarah lokal, dua mahasiswi telah sukses mempertanggungjawabkan hasil penelitian mereka melalui proses Munaqosah Tesis yang cukup ketat. Dua mahasiswi tersebut adalah Fitrotul Muzayyanah dan Euis Wulan.

Melalui proses ujian yang cukup panjang, Fitrotul Muzayyanah tampil percaya diri mengungkap sejarah tokoh perempuan nahdliyin dalam tesis yang berjudul Kontribusi Sosio-Intelektual Ulama Perempuan Pesantren kepada para penguji.
 
Tesis yang mengulas peran keagamaan Nyai Khoiriyah Hasyim ini, menepis argumen tentang langkanya peran perempuan dalam dunia Islam serta absennya agen perempuan dalam pembentukan intelektualisme di dunia pesantren.

Dalam paparannya, Muzayyanah telah menunjukkan bukti-bukti yang cukup meyakinkan tentang kualitas intelektual dan militansi Nyai Khoiriyah dalam berbagai aktivitas keagamaannya. 

Menurutnya, kontribusi sosial dan intelektual Nyai Khoiriyah selama di Jombang dan Makkah menjadi data penting terkait keterlibatan tokoh perempuan dalam upaya mendorong perempuan untuk mengakses dunia pendidikan. 

Melalui peran sosial dan keagamaan Nyai Khoriyah ini pula, Ulama Perempuan hadir dengan citra intelektual dan gagasan keagamaan yang progresif, kritisserta semangat altruisme seorang aktivis yang terus memberikan kontribusi kemanusiaan dimanapun ia berada.

Sebagai puteri kandung Kiai Hasyim Asy’ari, pembentukan intelektualitas Nyai Khoiriyah tak lepas dari gemblengan pendiri ormas terbesar di nusantara tersebut. Sejak kecil, Khoiriyah muda telah belajar mengaji Al-Qur’an, fiqih, tafsir dan ilmu nahwu dibawah asuhan sang ayah. Tidak heran jika kelak ia juga tidak canggung untuk mengambil peran sebagai guru, pendakwah dan pemimpin pesantren. 

Salah satu pikiran progresifnya bisa dilihat pada status hukum Islam tentang masalah Keluarga Berencana (KB). Di saat lingkungan pesantren resistan terhadap KB, Nyai  Khoiriyah justru bersikap sebaliknya. 

Menurutnya, program KB adalah program yang halal dan diperbolehkan. Hal ini mempertimbangkan kenyataan empirik mengenai keluarga yang beranak banyak cenderung mengalami kesulitan dalam hal mendidik anak-anaknya. Terlebih lagi jika mereka tergolong miskin. 

Sementara itu Euis Wulan mempertanggungjawabkan tesisnya yang berjudul, Studi Kepemimpinan Keagamaan Hj Sariani Thaha Ma’ruf Dalam Perspektif Gender. Penelitian yang menggunakan analisis gender ini menguji peran aktivis perempuan yang mencurahkan sebagian besar hidupnya untuk jalan dakwah dan usaha-usaha pendidikan keagamaan. 

Dalam presentasinya, Wulan menunjukkan representasi ‘Ulama Perempuan’ yang memiliki keterampilan orasi handal yang menaruh perhatian besar terhadap pendidikan agama dan politik warga. Keterampilannya dalam berkomunikasi dengan massa  pernah mendorongnya untuk terlibat dalam politik praktis yang mengusung gagasan keindonesiaan dan kemuslimatan. 

Banyak ungkapan Hj Sariani Thaha Ma’ruf yang menunjukkan gagasan emansipasi perempuan dalam dalam bingkai kemanusiaan yang bersumber dari teks-teks suci. Misalnya pesannya yang cukup populer di kalangan jama’ahnya, “Anak perempuan harus bisa melakukan apa yang dilakukan oleh laki-laki”. 

Dalam kesempatan lain, aktivis Muslimat NU ini menyampaikan, “Sebaik-baik manusia adalah manusia yang dapat memberi manfaat kepada sesamanya”.

Selaku Asisten Direktur I Pascasarjana Unusia Jakarta sekaligus penguji, Deny Hamdani menegaskan bahwa penelitian tentang relasi gender dalam kerangka pikir Islam Nusantara menjadi salah satu topik penting di sekolah pascasarjana untuk terus digali. 

Selain bermanfaat untuk mengungkap konstruksi gender dalam struktur sosial dan budaya kalangan santri, juga berguna untuk menampilkan peran perempuan dalam masyarakat yang selama ini dianggap sebelah mata. 

“Pada titik ini juga, aphorisme Islam Nusantara al-muhafadzah ‘ala al-qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah mendapat kesempatan untuk diuji,” kata Deny kepada NU Online, Selasa (14/11) di Jakarta.

Pengujian secara ilmiah dimaksudkan untuk mengetahui sejauhmana kecenderungan komunitas santri menjaga tradisi lama yang masih relevan dengan zaman dan pada saat yang sama menggeser sikap mental dan tradisi lama dengan kultur baru yang lebih sesuai dengan konteks kekinian. (Fathoni)