::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Membayar Utang kepada Syekh Rabbani (1)

Rabu, 22 November 2017 03:02 Opini

Bagikan

Membayar Utang kepada Syekh Rabbani (1)

Oleh KH Yahya C. Staquf

Jakarta, tahun 2011. Kiai As'ad Said Ali, Wakil Ketua Umum Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama waktu itu, membuat inisiatif yang belum pernah dilakukan siapa pun di seluruh dunia fana ini.

Atas nama Nahdlatul Ulama, beliau mendekati para pemimpin dan pemuka kabilah-kabilah, suku-suku dan faksi-faksi yang saling bertempur di Afghanistan. Beliau meyakinkan mereka untuk datang ke Jakarta, dituanrumahi Nahdlatul Ulama, bicara tentang perdamaian.

Tak kurang dari 30 kelompok mengirim pemuka-pemuka mereka, salah satunya adalah Syekh Burhanuddin Rabbani, mantan Presiden Afghanistan yang lengsernya karena dikudeta oleh Taliban.


Kiai As'ad merancang pertemuan itu bukan semata forum diskusi, tapi sungguh-sungguh media perundingan. Jelas bukan pembicaraan yang gampang. Maka beliau siapkan orang-orang yang bisa berperan sebagai katalisator. Antara lain adalah pendekar silat-lidah yang sekarang menjadi Duta Besar Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Kerajaan Saudi Arabia, Yang Mulia Agus Maftuh, pakar resolusi konflik, Kiai Dian Nafi', Kiai As'ad sendiri dan Kiai Ahmad Mustofa Bisri, Wakil Rais 'Aam waktu itu.

Tiga hari perdebatan alot. Kadang-kala macet karena ada yang walk-out yang lantas harus dibujuk ramai-ramai supaya mau balik ke meja perundingan. Tapi susah-payah dan kerja keras itu, berkat ketulusan semua orang dan pertolongan Tuhannya semua orang, berbuah hasil nyata.

Mereka yang tadinya di Afghanistan sana saling tembak, akhirnya menyepakati komitmen bersama berupa kalusul-klausul yang nyata-nyata bisa menjadi titik-tolak perdamaian. Orang-orang yang saat pertama menginjakkan kaki di Jakarta tak sudi saling sapa, akhirnya saling berpelukan dengan senyum yang sudut-sudutnya dihiasi cucuran air mata. Syukur dan haru.

Bagi tokoh-tokoh Afghanistan itu, memperjuangkan perdamaian bukanlah tamasya petualangan yang menyenangkan. Mereka tahu, nyawa mereka taruhannya. Selain rakyat banyak yang akan bahagia dengan perdamaian, ada juragan-juragan perang yang akan rugi kalau perang berhenti, yang tak pernah dan tak akan perduli harus menyembelih siapa memakan siapa menghancurkan siapa demi menambal kerugian mereka. Para pejuang perdamaian itu adalah pemberani-pemberani yang punya cinta sejati untuk kaumnya.

Benar saja. Syekh Burhanuddin Rabbani yang menjadi tokoh utama perjuangan perdamaian itu, harus membayar taruhan paling dulu. Taliban mengirim orang untuk datang kepadanya dengan bom tersembunyi didalam ikatan sorban. Orang itu memeluk Syekh Rabbani seolah sahabat yang penuh cinta, hanya untuk meledakkannya.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala memetik seorang syahid. Seorang Syekh Rabbani yang telah begitu murah hati menghutangkan keberaniannya kepada Afghanistan. Dan kepada Nahdlatul Ulama. (Bersambung)

Penulis adalah Katib ‘Aam PBNU