::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

AL-HIKAM

Jangan Salah Mengadu saat Genting Menurut Ibnu Athaillah

Rabu, 22 November 2017 08:04 Ubudiyah

Bagikan

Jangan Salah Mengadu saat Genting Menurut Ibnu Athaillah
(© boston.com)
Manusia adalah makhluk berhajat. Ia faqir sehingga kerap kali ia diburu oleh sebuah hajat tertentu. Ia memerlukan ini, besok lain lagi kebutuhannya, esok lusa kebutuhannya sudah berganti. Tetapi manusia juga makhluk dhaif yang sering kali dirundung masalah atau kesulitan tertentu.

Dalam menghadapi dinamika kehidupan itu, orang beriman tidak boleh salah mengarahkan perhatiannya kecuali kepada Allah SWT karena Dia maha kuasa atas segala sesuatu.

لا ترفعن إلى غيره حاجة هو موردها عليك فكيف يرفع غيره ما كان هو له واضعاً ؟ من لا يستطيع أن يرفع حاجة عن نفسه فكيف يستطيع أن يكون لها عن غيره رافعاً ؟

Artinya, “Jangan keluhkan hajatmu kepada selain Allah karena Dialah yang menghadirkan hajat itu padamu. Bagaimana bisa orang lain mengangkat sebuah hajat yang diletakkan oleh-Nya? Orang yang tak bisa memenuhi hajatnya, bagaimana mampu memenuhi hajat orang lain?”

Dalam menghadapi masalah kehidupan, Syekh Zarruq mengutip sejumlah ayat Al-Quran yang menyebutkan kuasa Allah dalam mengatasi masalah manusia. Karenanya manusia harus yakin pada sifat-sifat Allah yang maha kaya, kuat, dan kuasa. Jangan sampai mengalihkan perhatian kepada makhluk-Nya. Syekh Zarruq mengutip ilustrasi unik dalam menggambarkan orang yang memercayakan masalahnya kepada sesama makhluk.

قلت: يقول انه هو الذى أورد عليك الاحتياج وقد عرفت أنه غني قدير قوي ومن سواه لا غنى له ولا قوة ولا قدرة. وإذا كان الأمر كذلك فرفعها للعاجز الفقير الضعيف لا يصح وقال الله تعالى وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ وقال تعالى وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ... قلت: من كان عاجزا عن الرفع والنفع في حوائجه فهو عن غيره أعجز، ليت الكل يوجه نفسه لذلك. قال بعضهم: استغاثة المخلوق بالمخلوق كاستغاثة المسجون بالمسجون.

Artinya, “Menurut saya, Syekh Ibnu Athaillah mengatakan bahwa Dialah Allah yang menghadirkan hajat itu padamu. Kau sendiri maklum bahwa Dia maha kaya, kuasa, dan kuat. Sedangkan selain Allah tidak kaya, kuat, dan kuasa. Kalau memang begitu perkaranya, maka asumsi selain Allah yang bersifat lemah, faqir, dan dhaif  dapat mengangkat sebuah hajat tidak dapat diterima. Allah berfirman, ‘Jika Allah menimpakan sebuah mudharat padamu, maka tiada yang dapat melepaskannya selain Dia. Tetapi jika Dia menghendaki sebuah kebaikan untukmu, maka tiada satupun yang dapat menahan karunia-Nya. Dia memberikan sesuatu kepada hamba-hamba-Nya yang dikehendaki. Dialah yang maha pengampun lagi maha penyayang,’ (Surat Yunus ayat 107). Allah berfirman, ‘Jika Allah menimpakan sebuah mudharat padamu, maka tiada yang dapat melepaskannya selain Dia. Tetapi jika Dia menghendaki sebuah kebaikan untukmu, maka sungguh Dia maha kuasa atas segala sesuatu. Dialah yang kuasa atas segenap hamba-Nya. Dia maha bijaksana lagi maha awas,’ (Surat Al-Anam ayat 17-18)…

Menurut saya, pihak yang tak sanggup mengatasi hajat dan memberikan manfaat untuk dirinya sendiri, tentu ia lebih tak mampu untuk memenuhi hajat orang lain. Bisa jadi semua itu menghadapkan dirinya sendiri untuk segalanya itu. Sebagian ulama mengatakan, ‘Permohonan bantuan makhluk kepada makhluk lain sama halnya dengan permintaan bantuan seorang tahanan kepada tahanan lainnya,’” (Lihat Syekh Ahmad Zarruq, Syarhul Hikam, As-Syirkatul Qaumiyyah, 2010 M/1431 H, halaman 52-53).

Meskipun kita menyerahkan masalah dan hajat kita kepada Allah, kita tetap tidak boleh mengabaikan sunatullah yang sudah ditetapkan Allah sebagai hukum kausalitas atau hukum alam. Kepasrahan kepada Allah terdapat di hati. Namun demikian, secara lahiriyah kita tetap bergerak aktif untuk mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi. Hal ini disinggung oleh Syekh M Said Ramadhan Al-Buthi berikut ini.

إنه يقول: إذا نزلت بك حاجة أو طافت بك مشكلة ما فابدأ قبل كل شيء بالبحث عن مصدر تلك الحاجة أو المشكلة، من الذي أنزلها بك أو ابتلاك بها، فإذا علمت الفاعل أو المتسبب فاتجه إليه، واطلب منه أن يرفع عنك البلاء الذي أنزله بك أو الحاجة التي حملك إياها...على أن المراد بضرورة نسيان الوسائط والأسباب الشكلية، ليس الإهمال السلوكي أو الإعراض عن الالتزامات الأخلاقية والأدبية تجاهها. وإنما المراد أو المطلوب أن يستقر في يقينك الاعتقادي أنها مجرد وسائط شكلية لا أثر لها ولا فاعلية فيها. أما التعامل معها فمطلوب لأنها مظهر للنظام الذي أقامه الله وارتضاه، والخضوع لهذا الذي أقامه الله وارتضاه جزء لا يتجزأ من الخضوع لسلطان الله وأمره، وقد سبق بيان ذلك في شرح بعض الحكم السابقة

Artinya, “Syekh Ibnu Athaillah seakan mengatakan, ‘Bila kau dikejar oleh sebuah hajat tertentu atau dikungkung oleh sebuah persoalan, maka sebelum apapun hendaklah kaucari langsung ke sumber hajat atau sumber persoalan, siapa yang menghadirkan hajat itu atau mengujimu dengan persoalan tersebut. Bila kau tahu bahwa siapa yang melakukannya dan siapa yang menciptakan sebab itu, maka hadapkan dirimu kepada-Nya dan minta kepada-Nya agar Dia mengangkat ujian yang diberikan-Nya dan agar Dia memenuhi hajat yang dibebankan-Nya kepadamu...’

Yang dimaksud dengan melupakan perantara dan sebab-sebab formal bukan berarti mengabaikan ‘laku’ atau berpaling dari kewajiban-kewajiban etis dan adab dalam menghadapinya. Yang dimaksud atau yang dituntut itu adalah keharusan yang ditanam di dalam keyakinanmu bahwa hajat atau persoalan itu adalah sebab formal semata yang tidak berpengaruh dan tidak bergerak aktif. Adapun menyikapi hukum sebab-akibat itu tetap dituntut oleh syara‘ karena hukum sebab-akibat ini merupakan tempat penampakan sebuah sistem yang Allah bangun dan ridhai. Ketundukan pada sebuah sistem yang Allah bangun dan ridhai merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan dengan ketundukan pada kuasa dan perintah-Nya. Masalah ini sudah diuraikan ketika mensyarahkan sejumlah hikmah sebelumnya,” (Lihat Syekh M Said Ramadhan Al-Buthi, Al-Hikam Al-Athaiyyah, Syarhun wa Tahlilun, Beirut, Darul Fikr Al-Muashir, 2003 M/1424 H, juz II, halaman 108-109...113).

Meskipun kita hanya boleh mengadukan permasalahan kepada Allah, kita tetap boleh menceritakan permasalahan kita kepada sahabat atau orang tua kita. Istilah sekarang yang sering digunakan adalah curhat. Hal ini sah-sah saja dilakukan untuk meringankan beban batin yang menekan kita ketika menghadapi masalah. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)