::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Cara Mbah Kiai Umar Solo Menambatkan Hatinya di Masjid

Kamis, 23 November 2017 15:00 Hikmah

Bagikan

Cara Mbah Kiai Umar Solo Menambatkan Hatinya di Masjid
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda bahwa kelak pada Hari Kiamat ada tujuh golongan orang yang akan mendapatkan perlindungan dari Allah SWT. Pada hari itu tidak ada perlindungan kecuali perlindungan-Nya. Di antara ketujuh golongan itu adalah seseorang yang hatinya senantiasa bergantung atau tertambat di masjid.

Mbah KH Umar Abdul Manan atau biasa disapa Kiai Umar Solo adalah sosok yang sangat mungkin termasuk salah seorang yang dimaksudkan Rasulullah SAW dalam hadits tersebut karena beliau secara istiqamah banyak menghabiskan waktunya di masjid. Cara Mbah Umar menambatkan hatinya di rumah Allah ini adalah dengan kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

1. Berjamaah Shalat Lima Wakktu 

Mbah Umar secara istiqamah melaksanakan kewajiban shalat lima waktu di masjid dengan berjamaah. Mbah Umar tidak selalu menjadi imam. Ada saatnya beliau menjadi makmum. Siang hari yang meliputi Dzuhur dan Ashar, Mbah Umar bertindak selaku imam di masjid kecuali shalat Jumat. Secara tetap Mbah Kiai Daris Ahmad Musthofa menjadi imam shalat Jumat, Maghrib, Isyak, dan Subuh di Masjid Al-Muayyad. Dalam hal khatib atau imam shalat Jumat mendadak berhalangan, Mbah umar menggantikan. 

Ketika suatu saat Mbah Umar tidak bisa berjamaah di masjid karena masih berada di jalan, Mbah Umar tetap berusaha shalat berjamaah di masjid begitu sampai di Mangkuyudan dengan cara mencari santri yang belum shalat. Jika ternyata tidak menemukan santri yang belum shalat, Mbah Umar menawarkan kepada santri yang sudah shalat untuk mau melakukan i’adah (shalat ulang) dengan berjamaah bersama beliau. 

2. Mengajarkan Al-Qur’an

Waktu kegiatan Mbah Umar mengajar ngaji Al-Qur’an di masjid adalah ba’da Maghrib, ba’da Isyak, dan ba’da Shubuh bertempat di serambi selatan. Para santri yang mengaji adalah santri putra yang terdiri dari tiga kelompok, yakni: (1) kelompok juz ‘amma, (2) kelompok bin-nadzor, dan (3) kelompok bil-ghaib. Meski hanya ada tiga kelompok, namun terdapat lima lajur orang yang mengaji di sisi-sisi meja persegi panjang. 

Pagi hari mulai sekitar jam 08.00 Mbah Umar mengajar di ruang dalam masjid khusus untuk santri-santri bil-ghaib putri. Bisa jadi saat mengajar pada jam ini, Mbah Umar masih agak sayah karena kegiatan mengajar ngaji ba’da shubuh terkadang baru selesai pada jam 07.00 yang kemudian langsung dilanjutkan dengan shalat Dhuha 8 rekaat di dalam masjid. Selesai mengajar santri-santri bil-ghaib putri kira-kira jam 09.00, Mbah Umar kemudian mengajar santri-santri bil-ghaib putra hingga kira-kira jam 10.30. 

3. Mencocokkan Jam Istiwak dengan Bencet di Masjid 

Sehabis mengajar Al-Quran di masjid di pagi hari hingga menjelang siang, Mbah Umar tidak selalu langsung kundur ndalem (pulang ke rumah). Hal ini sangat bergantung apakah waktu menjelang Dzuhur sudah dekat atau belum. Apabila ternyata sudah cukup dekat, Mbah Umar memilih beristirahat di sebuah ruang kecil di sebelah kiri mighrab. 

Hal tersebut beliau maksudkan untuk menghemat waktu dan memudahkan beliau dalam mengamati bencet yang berada di dalam masjid. Bencet adalah sarana atau alat tradisional yang digunakan untuk menunjukkan waktu istiwa’ dengan mengandalkan pergerakan semu sinar matahari. Mbah Umar menaruh perhatian besar agar jam bandul yang berada di dalam masjid yang dijadikan pedoman waktu terutama untuk shalat selalu sesuai dengan waktu istiwa’ sebagaimana ditunjukjkan bencet dengan cara mencocokkannya hampir setiap hari. 

4. Menerapkan Jam Masjid

Jam masjid atau yang lebih dikenal dengan jam istiwa’ adalah penunjuk waktu yang umumnya digunakan di masjid untuk pedoman waktu shalat. Jam ini didasarkan pada waktu istiwa’, yakni saat posisi matahati berada di titik tertinggi di langit atau yang dalam astronomi (ilmu falaq) disebut zenith. Di saat itu ditetapkan sebagai jam 12.00 Istiwak. Beberapa menit setelah itu tibalah saat zawal dan masuklah waktu Shalat Dzuhur. 

Mbah Umar menetapkan seluruh kegiatan di lingkungan Pondok Pesantren Al-Muayyad, khususnya shalat lima waktu, mengaji Al-Qur’an dan kegiatan belajar mengajar di madrasah atau sekolah, menggunakan standar jam masjid dan bukan jam WIB. Hal ini menunjukkan orientasi Mbah Umar terhadap masjid sangat besar. 

Sebagai penutup dapat disimpulkan bahwa sulit memisahkan Mbah Umar dari masjid karena tempat yang paling dicintai Allah ini merupakan pusat kegiatan dan orientasi perhatian beliau sepanjang hari. Hingga wafat dan dimakamkan Mbah Umar tetap berada di dekat masjid karena makam beliau berada persis di belakang masjid. Secara fisik Mbah Umar sewaktu-waktu bisa berada di luar masjid, namun hati beliau senantiasa tertambat di dalamnya—tempat beliau secara istiqamah mengajarkan Al-Qur’an, bersujud lima waktu sehari dengan berjamaah, dan menyambut tibanya waktu Dzhur di tempat suci ini. Mbah Kiai Umar teladan sejati. 


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta