::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ketika Melahirkan Anak Sendirian di Tengah Malam

Kamis, 23 November 2017 03:00 Hikmah

Bagikan

Ketika Melahirkan Anak Sendirian di Tengah Malam
Ilustrasi (leha.com)
Kebaikan-kebaikan Mbah Ngismatun Sakdullah Solo (wafat 1994) – biasa dipanggil Mbah Ngis– tidak diragukan. Banyak pihak mengakui hal ini hingga muncul ungkapan ditujukan kepada Mbah Ngis: “Suwarga kok dipek dhewe” (surga kok dimiliki sendiri). Ungkapan ini bukan merupakan celaan tetapi justru pujian atas kebaikan-kebaikan hati Mbah Ngis. Mbah Ngis sebagai istri Mbah Dullah memiliki kelebihan spiritual dalam banyak hal, seperti keikhlasan dan kesabaran menjalani hidup hingga pada suatu hari Mbak Ngis melahirkan anak sendirian di tengah malam.  

Mbah Ngis memiliki 13 anak. Jarak kelahiran antara anak satu dengan lainnya rata-rata 2 tahun, bahkan ada yang kurang dari itu karena sundulan. Praktis selama 26 tahun Mbah Ngis selalu disibukkan dengan anak kecil. Banyak orang menyaksikan Mbah Ngis senantiasa tidak lepas dari tiga hal, yakni tangan kiri menggendong seorang bayi yang masih menyusu atau belum lama disapih; tangan kanan menggandeng tangan anak kecil yang berjalannya masih tertatih-tatih; dan perutnya membesar karena sedang mengandung. 

Ketiga belas anak tersebut umumnya lancar dalam proses kelahirannya, namun ada satu anak yang proses kelahirannya cukup memilukan, yakni anak kelima bernama Ulfah. Ia adalah adik persis Pak Udin. Pada suatu tengah malam Mbah Ngis melahirkan anak kelima ini dalam keadaan sendirian tanpa ada dukun bayi atau bidan di sampingnya. Apalagi dokter kandungan. Mbah Ngis berusaha memanggil-manggil nama seorang kakak ipar yang rumahnya agak dekat dengan rumah Mbah Ngis. Tetapi tidak didengarnya karena hari tengah malam. 

Anak-anak Mbah Ngis ada di rumah semua tetapi tidak ada seorang pun yang datang mendekat. Mungkin karena mereka masih kecil-kecil dan belum paham dengan apa yang terjadi. Atau mereka tidak tahu cara menolongnya. Saat itu Mbah Dullah ada di luar kota. Maklum saat itu pengetahuan tentang HPL (hari perkiraan lahir) belum semaju sekarang. Mbah Ngis berharap ada pertolongan dari tetangga karena kakak ipar yang diharapkan segera datang tidak mendengar. 

Memang ada tangis bayi karena kelahirannya. Tetapi jarak rumah Mbah Ngis dengan tetangga agak jauh. Maklum di zaman itu penduduk belum sepadat sekarang sehingga tanah pekarangan mereka luas-luas. Tidak ada dari tetangga yang mendengar tangis bayi tersebut atau suara Mbah Ngis yang sedang meminta tolong. Akhirnya Mbah Ngis secara total berpasrah diri kepada Allah SWT dengan tetap berikhtiar mengapit-mengapitkan kakinya pada si bayi agar tak jatuh dari tempat tidur hingga pagi hari demi keselamatannya.

Mbah Ngis tersadar akan bahaya yang bisa mengancam keselamatan bayi dan dirinya. Mbah Ngis tiba-tiba merasa seperti pernah mendengar sebuah pesan agar ari-ari atau tali pusar tak masuk kembali ke dalam kandungan, maka perut bagian bawah harus diikat. Mbah Ngis kemudian segera meraih selembar jarik di sampingnya dan mengikatkannya secara kencang pada bagian di bawah pusar sambil melafalkan, "Bismillâh tawakkaltu alallâh walâ haula walâ quwwata illâ billâh." Dalam kepasrahan diri sepenuhnya kepada Sang Pencipta, Mbah Ngis terus menerus berdoa memohon pertolongan-Nya. 

Keesokan harinya di saat Subuh, kakak ipar yang dimaksudkan Mbah Ngis mendengar tangis bayi. Beliau segera datang memberikan pertolongan pada Mbah Ngis dengan selekasnya mengupayakan hadirnya seorang bidan untuk menyelesaikan persalinannya. Benar, seorang bidan yang tidak terlalu jauh rumahnya dari rumah Mbah Ngis segera datang dan berhasil menolong Mbah Ngis dan bayinya. Berita pun segera tersebar ke seluruh tetangga. Tidak sedikit yang meneteskan air mata di pagi hari itu. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1965.


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta