::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

MUNAS-KONBES NU 2017

Munas NU, Terompet Perang Melawan Kekerasan

Kamis, 23 November 2017 05:00 Nasional

Bagikan

Munas NU, Terompet Perang Melawan Kekerasan
Mataram, NU Online
Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Musyawarah Besar Nahdlatul Ulama (Munas Konbes NU) dari waktu ke waktu selalu memberi kontribusi penting bagi bangsa Indonesia. Tema Memperkokoh Nilai Kebangsaan melalui Gerakan Deradikalisasi dan Penguatan Ekonomi Warga menambah bobot signifikansi perhelatan ini. 

Hal tersebut disampaikan Direktur Said Aqil Siroj (SAS) Institute, H. M. Imdadun Rahmat kepada NU Online, Kamis, (23/11) pagi.

Lebih lanjut disampaikan Imdad, saat ini kecenderungan menguatnya radikalisme dan intoleransi sudah sampai tahap kedaruratan. Berbagai peristiwa politik menunjukkan dengan terang benderang sektarianisme yang akut.  Berbagai kekerasan atas nama agama, penyebaran prasangka, kebencian, stereotyping terhadap kelompok lain terlebih kelompok minoritas terus mengemuka. 

"Berbagai survey menguatkan bahwa itu semua terjadi karena ideologi dan paham radikalisme telah menjangkiti pikiran sejumlah besar masyarakat. Sejalan dengan itu, rasa nasionalisme dan nilai-nilai kebangsaan terus menipis.  Ini menyalakan sinyal bahaya. Harusnya hal ini segera melahirkan sense of crisis (peka persoalan)," lanjut Imdad. 

Ia menilai sudah tepat NU menyuarakan kedaruratan ini kepada publik agar mereka sadar bahwa masalah ini tidak boleh disikapi secara bisnis as usual apalagi diabaikan. Seruan dari Munas dan Konbes mesti disambut dengan gerakan nasional penguatan nilai-nilai nasionalisme dan kontra radikalisme serta deradikalisasi. 

Selain itu, Pemerintah dan civil society harus bergandengtangan membendung dan mengisolasi virus radikalisme yang terus disebarkan oleh berbagai kelompok garis keras. Mereka yang telah terpapar virus itu mesti segera diberi vaksin ajaran moderat, wasatiyah, rahmatan lil alamin.

"Islam Nusantara telah terbukti menjadi jawaban atas kebutuhan akan hubungan yang harmonis antara Islam,  kebhinekaan dan kebangsaan. Peaceful Islam, smile Islam inilah yang dibutuhkan Indonesia bahkan dunia saat ini," Imdad menegaskan. 

Ketua Komnas HAM 2016-2017 itu juga mengatakan isu ketidakadilan khususnya kesenjangan akses dan distribusi ekonomi selalu menjadi habitus kultur perlawanan dan budaya kekerasan. Tak cukup kontra atau deradikalisasi tanpa mempersempit ladang semai tumbuhnya. Maka penguatan ekonomi rakyat juga harus menjadi agenda nasional. 

Mengutip Kofi Annan yang mengatakan "No development without peace, but no peace without development, and no sustainable development without respect human rights (Tiada pembangunan tanpa perdamaian, tapi tiada perdamaian tanpa pembangunan, dan tiada pembangunan berkelanjutan tanpa menghormati hak asasi manusia)," Imdad yakin Munas dan Konbes sedang meniup terompet perang melawan kekerasan, radikalisme, intoleransi dan delegitimasi terhadap Pancasila. 

"Semoga seluruh rakyat  menyambut seruan dua pemimpin NU KH.  Makruf Amin dan KH.  Said Aqil Siroj dengan melakukan gerakan nasional nation building: Menjadi Indonesia.  Aaamiiin," pungkasnya.  (Red: Kendi Setiawan)