::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Sejarah NU Lombok (2) 1934 atau 1953?

Kamis, 23 November 2017 11:07 Fragmen

Bagikan

Sejarah NU Lombok (2) 1934 atau 1953?
Dalam buku NU Lombok (1953-1984) karangan Ida Bagus Putu Wijaya Kusumah, disebutkan  bahwa NU mulai berdiri secara resmi pada tahun 1953. Jika dilihat dari sisi sejarah nasional NU, berarti sejak Muktamar NU di Palembang 1952. Pada muktamar itulah, NU memulai babak baru, menjadi partai politik. 

Dengan demikian, meski tidak dinyatakan secara tersurat pada buku, NU di Lombok bisa dikatakan memulai berdiri sebagai momentum politik, sebagai sebuah partai politik. Penulis buku itu memang membatasi penelitiannya dari 1953-1984, tapi sayangnya sama sekali tidak menelusuri jauh ke belakang.  

Ketua PWNU NTB TGH Taqiudin Mansur berpendapat bahawa embrio NU sudah sejak tahun 1934 dan berdiri secara resmi pada 1935. 

Namun, waktu itu NU belum berkembang dan dikenal masyarakat, hanya diterima, dikenal dan beredar pada sekelompok ulama bernama Persatuan Islam Lombok (PIL), ada juga yang berpendapat Persatuan Ulama Islam (PUIL). 

Ulama-ulama PUIL atau PIL itu berada di sekitar pantai Ampenan. Mereka umumnya adalah para pedagang merangkap da’i dari luar wilayah Lombok, misalnya dari Palembang (Sumatera Selatan), Banjarmasin (Kalimantan Selatan), dari Arab, dan India.  

Pada 1934, menurut Tuan Guru Taqi, di tingkat nasional, organisasi Muhammadiyah sudah ada. Tapi saat itu, Muhammadiyah belum masuk. NU lebih cepat berdiri karena ulama-ulama di sekitar Ampenan itu, kerap bepergian dalam urusan berdagang. 

Karena urusan dagang itulah mereka memiliki kontak yang intens dengan pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya. Itu menjadi faktor pertama. Kedua, PUIL atau PIL seirama dengan NU dalam paham keagamaan. Mereka ingin bergabung dengan NU karena waktu itu sudah menasional.

Kontak Ampenan Surabaya itulah, pada 1935, ulama PUIL atau PIL bisa menghadirkan KH Muhammad Dahlan untuk meresmikan NU Ampenan.

Penulis buku Pemikiran Islam Lokal: TGH M. Shaleh Hambali Bengkel berpendapat antara pemaparan Ida Bagus Putu Wijaya Kusumah dan Tuan Guru Taqi tidak bertentangan. Malah saling melengkapi. Buku yang pertama berasal dari skripsi, sehingga harus dibatasi. Penulis membatasinya sejak 1953. 

NU tahun 1953 merupakan kelanjutan sejarah 1934. Tahun 1953 itu adalah momentum disahkannya sebagai Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama setelah Nusa Tenggara Barat menjadi provinsi, tiga tahun sebelumnya. Sebelumnya, NU hanya cabang atau konsul Ampenan. (Abdullah Alawi)