::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Pemuda 35 Negara Kunjungi Banyuwangi Pelajari Trik Hadapi Persaingan Global

Kamis, 30 November 2017 12:30 Internasional

Bagikan

Pemuda 35 Negara Kunjungi Banyuwangi Pelajari Trik Hadapi Persaingan Global
Banyuwangi, NU Online
Terhitung 250 pemuda dari 35 negara menghadiri Youth Involvement Forum (YIF) yang diinisiasi oleh Indonesia Youth Forum, 24-27 November 2017 di Banyuwangi, Jawa Timur. Mereka duduk bersama dan bertukar ide serta gagasan inovatif sekaligus mengenali khazanah seni-budaya daerah di tempat yang dikenal dengan Sunrise of Java ini.

Salah satu narasumber pada agenda ini ialah Moh. Bruri Triyono, selaku Tim Satgas Revitalisasi Pendidikan Vokasi Kemendikbud. Ia mengungkapkan, pendidikan vokasi yang mengusung konsep link and match antara Sekolah Menengah Kejuruan, Ketenagakerjaan dan Industri diharapkan mampu menghasilkan tenaga kerja yang terampil sesuai kebutuhan dunia industri saat ini. Hal ini diyakini mampu meningkatkan produktifitas dan daya saing nasional.

“Konsep link and match menjadi solusi atas persaingan global yang semakin ketat. Untuk mewujudkan hal tersebut, komunikasi dan koordinasi di semua lini harus lebih diintensifkan. Karena hal ini menyangkut daya saing SDM yang inheren dengan harga diri bangsa. Dan pesantren harus melihat itu sebagai satu ghirah (semangat) zaman,” tambah Bruri.

Di sisi lain, Wariki Sutikno selaku Direktur Politik dan Komunikasi Kementerian PPN Bappenas menuturkan SMK komunitas sebagai salah satu instrumen penting dalam pendidikan vokasi mencoba menjembatani antara pesantren dan pendidikan vokasi untuk menjawab tantangan zaman now dan pertanyaan besar kebutuhan future jobs. Konteksnya jelas, santri dituntut menguasai dinamika zaman yang kian canggih dan kompetitif di masa mendatang. Dengan demikian, pesantren mampu bergerak maju mengikuti pergerakan zaman.

“Kolaborasi antara SDM, Kelembagaan dan Teknologi perlu diutamakan. Agar narasi besar yang sedang bersama kita bangun mengenai pendidikan vokasi mampu menjawab SDM yg memiliki kompetensi yang kompetitif,” tandas Wariki.

Muhammad Abdul Idris yang merupakan Founder Indonesia Youth Forum mengungkapkan bahwa softskill dan hardskill juga penting untuk dipelajari para santri agar mampu bersaing di era millenial. 

“Santri harus siap bersaing di zaman now dengan tidak melupakan zaman old. Santri harus bisa menjawab tantangan zaman dengan tekat, kepercayaan diri dan bekal skill yang sudah diajarkan dan diperoleh dari pesantrennya masing masing.” ungkap Idris.

Karena revitalisasi pendidikan vokasi tidak sebatas mengupgrade kualitas daya saing SDM saja, akan tetapi kemampuan menggerakkan partisipasi aktif masyarakat agar mampu menjadikan kebudayaan, destinasi pariwisata, kreatifitas yang berbasis local wisdom menjadi produk yang kompetitif.

"Agar revitalisasi pendidikan vokasi mampu melibatkan semua pihak.” tambah Idris.

Di sisi lain, political will pemerintah dan industri juga harus jelas keberpihakannya. Banyak alumni pesantren yang memiliki kompetensi bagus dan terampil. Pemerintah bersama industri harus lebar membuka mata tentang skill santri yang mumpuni, tidak pilih kasih dan diberikan akses legalitas (sertifikasi) kompetensi.” tutup Idris.

Agenda Youth Involvement Forum secara resmi ditutup Senin (27/11) ini dengan sebelumnya diakhiri oleh Tour de Pesantren di Pondok Pesantren Darussalam Blokagung bersama Cak Nun dan Kiai Kanjeng pada Ahad (26/11) malam. (Red: Kendi Setiawan)