::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Konsep Wali Songo dalam Memakmurkan Masjid

Jumat, 01 Desember 2017 17:00 Opini

Bagikan

Konsep Wali Songo dalam Memakmurkan Masjid
Ilustrasi (© Antara)
Oleh Darul Qutni

Wali Songo adalah teladan bagi kita dalam memakmurkan masjid-masjid Allah subhanahu wa ta'ala. Mereka adalah para muballigh Islam dan dai penyebar Islam di Indonesia di abad 15 Masehi. Keberhasilan mereka dalam berdakwah masih terasa hingga saat ini. Penyiaran Islam yang dilakukan Wali Songo sangat rapat hubungannya dengan masjid dan pesantren-pesantren. Bagaimanakah konsep mereka memakmurkan Masjid di masanya? Dapatkah hal itu dicontoh pada masa kini?

Pertama, Masjid sebagai pusat ibadah. Ditunjukkan oleh Kanjeng Syekh Sunan Ampel rahimahullah saat membangun langgar sederhana yang kemudian besar, megah dan bertahan sampai sekarang dan diberi nama Masjid Rahmad. Setibanya di Ampel langkah pertama Raden Rahmat rahimahullah adalah membangun masjid sebagai pusat ibadah dan dakwah (Purwadi, 2009)

Hal ini juga dilakukan Kanjeng Syekh Sunan Kudus rahimahullah saat membuat masjid sebagai tempat ibadah dan pusat penyebaran agama. Masjid Kudus didirikan tahun 956 H/ 1549 M.

Kedua, masjid sebagai pusat dakwah dan penyebaran Islam. Hal ini dicontohkan oleh Kanjeng Syekh Sunan Kalijaga rahimahullah. Dia mengonsep pendirian Masjid Demak sebagai pusat agama dan penuntasan Islamisasi di seluruh Jawa. Gerakan Islamisasi dilakukan melalui masjid mengingat lembaga pesantren kala itu belum menemukan bentuk yang final. 

Ketiga, masjid sebagai tempat pengajian. Dilakukan oleh Kanjeng Syekh Sunan Drajat rahimahullah. Dia membuat masjid yang agak jauh dari tempat tinggalnya. Masjid itulah yang menjadi tempat berdakwah menyampaikan ajaran Islam kepada penduduk. Pengajian di masjid atau langgar adalah salah satu dari 5 (lima) cara dakwah Kanjeng Syekh Sunan Drajat rahimahullah. Adapun cara yang kedua, adalah dengan metode pendidikan di pesantren. Ketiga, fatwa atau petuah. Keempat, kesenian tradisional. 

Keempat, kesatuan masjid dan pesantren. Ini merupakan konsep yang khas dari Wali Songo di mana penyebaran Islam melalui masjid merupakan sesuatu yang include dengan pesantren. Contoh kesatuan masjid dan pesantren adalah apa yang dilakukan oleh Kanjeng Syekh Sunan Ampel rahimahullah  yang mendirikan pesantren sekaligus masjid. Beliau kerap mengelilingi pesantren dan masjidnya itu untuk mengetahui keadaan para muridnya yang belajar dan tidur di dalamnya (H. Aboe Bakar Atcheh, 2011).

Kelima, masjid yang berkebudayaan. Konsep ini juga merupakan kekhasan konsep dakwah Wali Songo yang tidak frontal dalam berdakwah namun menggunakan strategi kebudayaan. Kanjeng Syekh Sunan Kudus rahimahullah membangun menara untuk azan dengan desain seperti bangunan hindu yang saat ini dikenal dengan menara kudus. Menara berasal dari bentuk kata tempat (shigat isim makan) dalam bahasa arab yang artinya tempat api/cahaya. Menara ini kemudian dimanfaatkan untuk menyeru orang sembahyang.

Kanjeng Syekh Sunan Kudus rahimahullah juga menggunakan beduk untuk mengundang jamaah ke masjid untuk mengumumkan itsbat awal Ramadhan. Beduk yang tergantung pada tiap-tiap serambi masjid itu, yang dipukul untuk memperingatkan kepada waktu shalat, bukanlah sesuatu yang baru sejak zaman dahulu pun sudah dialami oleh rakyat memukul tambur periuk dan perunggu yang berasal dari zaman purbakala.

Aboe Bakar Atcheh mengatakan, (2011) di dalam masjid Demak, masih dapat dilihat beberapa bagian yang berukir menurut motif kebudayaan Hindu dan zaman Majapahit itu, misalnya, tiang yang bernama Soko Majapahit pada pendopo Masjid itu. Begitu juga keadaannya masih sangat jelas menggambarkan bentuk Kesenian Hindu-Jawa. Dalam pada itu, kita dapati beberapa buah masjid yang di sekelilingnya ada selokan air. Keadaan yang mengingatkan kita kepada telaga-telaga suci yang biasanya terdapat pada candi-candi Hindu, misalnya, Candi Jawi. 

Konsep masjid yang berkebudayaan ini menurut Syaiful Arif (2009) dianggap sebagai keberhasilan rekonsiliasi antara Islam dan budaya yang bertitik tolak dari kemampuan memahami wahyu dengan mempertimbangkan berbagai faktor konstektual, termasuk kesadaran hukum dan rasa keadilan. Keberhasilan proses pribumisasi Islam dapat dilihat dari kemampuan kamu Muslim seluas mungkin mengembangkan aplikasi wahyu guna memenuhi kebutuhan masyarakat, misalnya arsitektur ranggon atau atap dari Masjid Demak. Lapis atap masjid tersebut diambil dari konsep meru agama Hindu yang kemudian diislamkan dari sembilan susun menjadi tiga susun. Konsepnya merujuk pada tahapan kesempurnaan hamba di hadapan Gusti Allah Ta'ala yakni iman (Muslim meraih keyakinan monoteistik), Islam (kesadaran syariat), dan ihsan di mana Muslim sudah mendalami tasawuf, hakikat dan ma'rifat. Pada tingkat ini mulai disadari keyakinan tauhid dan ketaatan syariat mesti berwujud kecintaan kepada sesama manusia. 

Tiap masjid terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur, mempunyai pendopo atau serambi di depannya, yang sukar kita terka maksud asalnya, apakah supaya bentuknya mirip rumah peribadatan Hindu ataukah untuk tempat mengadakan sedekah-sedekah untuk arwah mereka yang sudah meninggal, jelas keadaan sudah mendekati Islam, sajen lama sudah berganti dengan doa, zikir dan bacaan Al-Qur'an. 

Pada waktu mengadakan perayaan Maulid Nabi ini seminggu sebelumnya dipukul gamelan di halaman depan masjid. Hal yang mungkin bertentangan dengan Islam karena Islam menghendaki ketenangan. Tetapi oleh mubaligh zaman yang lampau itu dikemukakan sebagai alasan bahwa tabuh-tabuhan itu gunanya untuk menarik rakyat umum datang ke Masjid dan bukanlah untuk memanggil jiwa halus dan para nenek moyang supaya turut makan bersama sama anak cucunya yang masih hidup. 

Sampai kepada bentuk masjid di era Wali Songo disesuaikan dengan bangunan yang sudah galib dalam masa Hindu. Ia harus mempunyai atap bertingkat supaya sesuai dengan bentuk gedung-gedung umum pada masa itu, untuk tempat rapat, perayaan, dsb, seperti yang sampai sekarang masih terdapat di Bali dengan nama Badung, tempat mengadu ayam.


Penulis adalah Sekretaris LTM PCNU Kota Depok