::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ketika Allah Bernegosiasi dengan Fir'aun

Senin, 04 Desember 2017 14:42 Hikmah

Bagikan

Ketika Allah Bernegosiasi dengan Fir'aun
Ilustrasi (canaldelmisterio.com)
Pernah suatu ketika Nabi Musa diutus oleh Allah untuk menemui Fir'aun guna bernegosiasi. Mencoba berdakwah, mengajak kepada jalan Allah dengan cara damai dan tanpa pertumpahan darah. 

Nabi Mussa lantas menjalankan perintah rab-nya tersebut. Ia memulai perundingan dengan sang raja yang terkenal ahli dalam ilmu sihir dan adi daya mandraguna. 

"Tuhanku telah mengutusku kepadamu, maka jika kamu mau beriman kepada-Nya, niscaya engkau akan berada dalam kenikmatan dan kebahagiaan selama 400 tahun, kemudian engkau pun mati dan selanjutnya masuk surga," tutur Nabi Musa dengan lembut.

Fir'aun pun terdiam sejenak. Sepertinya ia mulai menghitung-hitung kompromi yang diajukan nabi yang menjadi musuhnya tersebut. Ia lalu berkata,

"Tunggulah hingga aku berunding dengan Haman." jawab Fir'aun.

Haman adalah penasihat kepercayaan kerajaan Firaun. Ia adalah "tangan kanan" raja terkutuk itu. Ketika berunding, dan Fir'aun juga telah menceritakan ihwal kedatangan Nabi Musa kepadanya, Haman bertanya dengan mengintervensi sang raja agar tetap berada di lembah kesesatan:

أتصير عبدا بعد أن كنت ربا؟

"Akankah engkau akan menjadi seorang budak, hamba sahaya, setelah engkau menjadi tuhan, penguasa jagat alam raya?"

Benar saja, apa yang dikatakan penasihat licik itu ia iyakan begitu saja. Sungguh, Haman layaknya Sengkuni dalam kisah Mahabarata. Ia begitu licik dan cerdik dalam hal mengatur taktik. 

Syahdan, seluruh penyihir yang menjadi pengikut setia Fir'aun pun dikumpulkan. Tak ketinggalan bala tentara yang menjaga singgasana manusia tersombong sealam semesta itu pun juga ikut serta. Maka "musuh Allah' itu pun berdiri congkak di atas singgasananya dan berkata:

أنا ربكم الأعلى

"Akulah tuhanmu yang paling tinggi. Tiada tuhan di atasku. dan tidak ada pula tuhan bagi kalian selainku"

Nahas, pada akhirnya. Tepatnya 40 tahun setelahnya, Fir'aun yang terkutuk itu pun mati ditelan ganasnya debur gelombang ombak Laut Merah. Saking menjijikannya, seluruh alam semesta mengutuknya dan tak sudi barang sedikit menyentuh jasad hinanya, apalagi menguraikannya. Maka maha benarlah firman Allah dalam Surah An Nazi'at ayat 25:

فأخذه الله نكال الأخرة و الأولى

"Maka Allah menghukumnya dengan azab di akhirat dan siksaaan di dunia."

Lewat kisah tersebut, dipetik hikmah bahwa kegiatan dakwah, mengajak ke jalan Allah sangat menekankan jalan perdamaian. Bahkan pada Fir'aun yang telah dengan jelas menyekutukan Allah dan berani mengklaim dirinyalah tuhan yang sesungguhnya-Allah tetap memerintahkan Nabi Musa untuk mencoba jalan perundingan dangan menawarkan apa yang telah disebutkan di atas.

Dalam ayat lain pun Allah juga pernah memerintah dua nabi bersaudara—Musa dan Harun—untuk datang berdakwah kepada fir’aun dengan bertutur kata yang lemah nan lembut. Dengan harapan ia akan sadar dan mendapat hidayah untuk takut kepada Allah (Lihat Surah Thaha ayat; 42-44).

Manusia memang hanya berhak menyampaikan dakwah, sementara hidayah murni menjadi hak prerogatif Allah. Manusia sekadar bisa berikhtiar, bukan penentu hasil. Sehingga jalan yang mestinya ditempuh pun wajar—tidak memaksa lagi kasar. Wallahu a'lam(Ulin Nuha Karim)


Sumber cerita dari kitab Tafsir Hasyiyah Ash Shawy 'ala Tafsir Al Jalalain Imam Ahmad Ibn Muhammad Al-Showy Al-Maliki (Halaman: 328, Vol: 4). Kisah ini juga pernah disampaikan oleh Pengasuh Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo, KH Muhammad Shofi Al Mubarok dalam pengajian Kitab Tafsir Jalalain.