::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Stasiun Televisi Diimbau Selektif Pilih Dai Daiyah Keagamaan

Selasa, 05 Desember 2017 19:00 Nasional

Bagikan

Stasiun Televisi Diimbau Selektif Pilih Dai Daiyah Keagamaan
Pringsewu, NU Online
Ketua Komisi Fatwa MUI Provinsi Lampung KH Munawir mengajak masyarakat untuk ikut berpartisipasi mengawasi berbagai tayangan yang disiarkan oleh media televisi khususnya acara keagamaan. Hal ini terkait acara di salah satu televisi swasta nasional yang baru-baru ini menayangkan acara keagamaan dengan pemateri yang dinilai banyak pihak sangat memprihatinkan dalam penguasaan ilmu agamanya.

"Tidak semua penceramah yang tampil di televisi memiliki kualifikasi yang baik. Bisa saja karena memiliki link atau kenalan crew televisi sehingga dapat tampil dalam acara televisi," kata pria yang akrab disapa Gus Nawir ini, Selasa (5/12).

Masyarakat, lanjutnya, harus lebih selektif dalam memilih acara di televisi dengan berkonsultasi kepada para ulama. Hal ini ditujukan untuk mendapatkan referensi yang tepat untuk ditonton. 

"Lebih bijaknya kalau ditanyakan dulu kepada para ulama yang bisa ditemui langsung tentang acara ataupun kredibilitas dai serta sanad keilmuan dari yang mengisi acara tersebut," ajaknya.

Menurut Gus Nawir, di era digital saat ini semakin banyak tontonan yang dijadikan tuntunan dan tuntunan yang dijadikan tontonan oleh masyarakat.

"Yang dangkal ilmu tapi menarik dalam tampilan dan perkataan bisa jadi rujukan karena sering tampil di depan layar kaca. Sementara yang alim hanya bisa diam karena tidak memiliki kesempatan untuk memberi pencerahan," katanya.

Berbagai media digital seperti televisi dan media sosial saat ini banyak memunculkan dai-dai instan dengan silsilah keilmuan yang tidak jelas. Dengan kemampuan retorikanya, para dai yang belajar ilmu agama dari berbagai sumber seperti intenet dan buku-buku ini memiliki semangat yang tinggi dalam beragama, namun sangat lemah dalam hal keilmuan.

"Acara televisi ini ditonton orang banyak dan ini tentunya berbahaya (jika narasumber tidak mumpuni). Kalau dalam ilmu kedokterannya ini namanya malpraktik," katanya.

Gus Nawir menyayangkan fenomena tersebut yang terkadang dari sisi para dai menjadikan kesempatan dan aktivitas tersebut sebagai sarana untuk mencari popularitas dan mendapatkan materi dunia.

Fenomena ini harus disikapi oleh media televisi arus utama dengan tidak ikut-ikut menampilkan dai atau daiyah yang tidak memiliki kualifikasi. Ia menghimbau stasiun televisi untuk lebih selektif dalam memilih para dai atau daiyah yang akan mengisi dan dijadikan narasumber.

"Masyarakat harus diberi penjelasan materi agama dari orang-orang yang benar-benar memiliki kualifikasi di bidangnya. Jangan sampai sebuah pekerjaan atau masalah diberikan kepada yang bukan ahlinya. Jika ini dilakukan maka tunggu saja kehancurannya," tegasnya mengutip sebuah qaul ulama. 

Sudah saatnya para ulama dan orang yang berkompeten di bidang agama harus aktif dan tidak diam saja melihat fenomena ini.

"Kalau hanya diam saja maka siap-siap yang baik akan hilang dan yang palsu akan menjadi tutunan ummat," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Kendi Setiawan)