::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Tegakkan Keadilan, Komisi Yudisial Perlu Gandeng Tokoh Ormas Keagamaan

Rabu, 06 Desember 2017 19:30 Nasional

Bagikan

Tegakkan Keadilan, Komisi Yudisial Perlu Gandeng Tokoh Ormas Keagamaan
KH ahmad Ishomuddin (kedua dari kiri)
Jakarta, NU Online
Komisi Yudisial perlu segera menggalang dukungan rakyat antara lain melalui kerja sama yang bertindaklanjut untuk mencapai tujuan besarnya dengan tokoh-tokoh ormas besar seperti NU dan Muhammadiyah dan bahkan dengan tokoh-tokoh berpengaruh lintas agama.

Demikian dikatakan Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin yang akrab disapa Gus Ishom sesaat setelah melakukan pertemuan dengan Komisi Yudisial di Jakarta, Rabu (6/12).

"Seluruh rakyat Indonesia yang cinta penegakan keadilan dan cinta tanah air berkewajiban membantu aparat hukum khususnya Komisi Yudisial agar tidak ragu dan takut menjalankan tugas wajibnya demi tegaknya hukum di negara kita," katanya.

Gus Ishom menilai, saat ini banyak kasus hukum yang diperjualbelikan. Suap menyuap aparat penegak hukum, menurutnya menjadi hal yang sering didengar. 

"Keadilan, akhlak, etika dan rasa malu yang diajarkan agama di negeri kaum beragama yang sejatinya di atas hukum hanyalah cerita pemanis bibir, hanya teori dan belum banyak yang wujud dalam kenyataan," paparnya.
                                                                                        
Hal itu terbukti bahwa saat ini sering dijumpai orang yang bersalah dibebaskan, sedangkan yang tidak bersalah dipenjarakan. (Orang) yang besar kesalahannya dihukum ringan, sedangkan yang kecil kesalahannya dihukum berat oleh tangan-tangan jahat yang main hakim sendiri di negara hukum ini.
                                                                                
"Masyarakat sudah banyak yang tahu dan sudah banyak yang mencicipi kecurangan dan kebobrokan aparat penegak hukum," ungkapnya.
                                                                                 
Saat ini, lanjutnya, semakin banyak hakim yang tertangkap tangan menerima suap. Oleh KPK mereka diseragamkan berpakaian orange sama persis dengan 'baju kebanggaan' para koruptor.
                                                                                  
"Para penegak hukum seperti hakim yang jujur, tegas, independen dan berani yang jumlahnya sangat langka justru menjadi musuh bersama di antara para aparat hukum sendiri dan dihindari oleh orang-orang jahat yang sedang berperkara," ujarnya.

Menurutnya Indonesia berada di ambang kehancuran jika aparat hukum menjadi rakus, menyembah hawa nafsunya dan tunduk kepada gemerlapnya duniawi. 

Mereka (aparat penegak hukum) diberi amanat agar menegakkan keadilan di antara manusia. Namun mereka bertindak sebaliknya, berkhianat sehingga satu manusia menzalimi manusia yang lain.

"Keadilan menjadi barang langka yang sangat mahal harganya," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Kendi Setiawan).