::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Pulihkan Trauma Korban Bencana Pacitan dengan Pendekatan Literasi

Kamis, 07 Desember 2017 11:22 Daerah

Bagikan

Pulihkan Trauma Korban Bencana Pacitan dengan Pendekatan Literasi
ilustrasi:sekolahinspirasi.org
Surabaya, NU Online
Sejumlah bantuan berupa uang tunai dan kebutuhan lain dihimpun berbagai kalangan untuk korban di Pacitan Jawa Timur. Mereka yang kehilangan harta benda, bahkan keluarga sangat terpukul dengan bencana alam ini. Karenanya, yang juga dibutuhkan adalah terapi musibah agar mereka segera keluar dari trauma yang dialami.

"Bencana alam merupakan kejadian yang menimbulkan pengalaman traumatik bagi setiap individu, terlebih lagi anak-anak," kata Nailatin Fauziyah, Rabu (6/12).  

Khusus anak-anak lebih mengalami kesulitan untuk mengatasi pengalaman traumatik dibandingkan orang dewasa. "Penyebabnya karena keterbatasan pengalaman hidup, keterampilan dalam menyelesaikan masalah, kemampuan untuk mengatasi situasi sulit, mengkespresikan apa yang dirasa dan dipikirkan, juga untuk menjelaskan kebutuhannya," tandas pengurus harian PW Lembaga Ta'lif wan-Nasyr Nahdlatul Ulama (PW LTNNU) Jatim ini.

Bagi Nailatin, lingkungan memiliki peran penting untuk membantu anak agar mampu mengatasi pengalaman traumatis tersebut, membantu anak untuk tetap tangguh dalam menjalani kehidupannya di masa depan.

"Untuk itu PW LTNNU Jatim mengambil peran dalam penguatan psikologi, sosial, serta agama anak korban bencana alam Pacitan melalui program trauma healing based on literacy atau pemulihan trauma berbasis literasi," tandas dosen Fakultas Psikologi dan Kesehatan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya tersebut.

Dijelaskannya, program ini membantu anak-anak korban bencana alam untuk mengatasi pengalaman trumatiknya melalui menulis, membaca, bercerita, menggambar, bermain peran, mengaji, dan berdoa.

Misalnya melalui menulis, anak-anak bisa mengekspresikan hal-hal yang dirasakan dan yang ada dalam pikiran. "Demikian juga yang yang menggelisahkan maupun yang diharapkan," jelasnya. Melalui berdoa, maka mereka belajar untuk cerdas spiritual, yaitu menghadirkan Allah dalam situasi-situasi yang dialami dalam kehidupan, lanjutnya.

Tim yang beranggotakan sejumlah pengurus dari PW LTNNU Jatim dan dosen serta mahasiswa UIN Sunan Ampel tersebut rencananya berangkat Jumat (7/12) hingga Ahad. "Diupayakan sampai tiga hari sebagai tahap awal," pungkas Nailatin. (Ibnu Nawawi/Abdullah Alawi)