::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Perihal Langkah Trump Pindahkan Ibu Kota Israel, Ini Pernyataan Sikap Said Aqil Siroj Intitute

Kamis, 07 Desember 2017 14:47 Internasional

Bagikan

Perihal Langkah Trump Pindahkan Ibu Kota Israel, Ini Pernyataan Sikap Said Aqil Siroj Intitute
Jakarta, NU Online
Terkait dengan keputusan Presiden Amerika Serikat Donal Trump yang akan memindahkan Ibu Kota Israel dari Tel Aviv ke Jerusalem menuai tanggapan dari Said Aqil Siroj Institute. NU Online menerima rilis pernyataan tersebut, Kamis (7/12) siang.

Berikut pernyataan SAS Institute selengkapnya:

1. Rencana Israel memindahkan Ibukotanya dari Tel Aviv ke Yerusalem Timur akan menimbulkan masalah baru yang sangat pelik. Keputusan kontroversial yang didukung Pemerintah Donald Trump ini betul-betul mengancam proses perdamaian yang masih terus diupayakan PBB dan badan-badan perdamaian internasional. 
2. Tindakan ini harus dihentikan agar tidak merusak capaian perdamaian yang ada. Saat ini para pihak yang berkonflik, negara-negara Arab dan Israel, sepakat mengakhiri perang dan menerima pendekatan hidup berdampingan secara damai (peaceful co-existance). Semua pihak mengakui keberadaan dua negara, Palestina dan Israel dengan perbatasan sebelum perang 1967. Ini dikukuhkan dalam Resolusi PBB no. 242 dan 338 yang isinya mencakup kewajiban Israel meninggalkan wilayah Palestina yang direbutnya pada perang 1967. 
3. Menurut Resolusi PBB tersebut, Jerusalem Timur adalah wilayah Palestina. Saat ini kota komplek suci tiga agama Yahudi, Kristen dan Islam, Al-Aqsha berada,  di- status quo-kan demi menjaga proses kesepakatan terus berlangsung. Tindakan sepihak Israel ini akan meningkatkan kemarahan publik Palestina. 
4. Tindakan Israel ini menambah panjang daftar pembangkangannya terhadap keputusan PBB dan suara komunitas internasional. Sebelumnya, Israel membandel terkait larangan pembangunan pemukiman Yahudi di wilayah Tepi Barat. Soal blokade dan serangkaian serangan udara yang memunculkan berbagai krisis kemanusiaan juga terus dipraktekkan Israel.  Klaim sepihak atas Jerusalem Timur akan menjadi triger kekerasan oleh rakyat Palestina yang telah sekian lama menahan kemarahan dan keputusasaan. Kekerasan oleh faksi militan Palestina akan muncul sebagai respon atas tindakan Israel merebut Yerusalem Timur. Israel akan membalasnya dengan  kekerasan yang lebih. Lingkaran kekerasan akan muncul kembali dan menghancurkan peta jalan (road map) menuju perdamaian. 
4. Ketegangan di Palestina akan memperparah konflik dan perang di kawasan Timur Tengah. Konflik di Timur Tengah yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat akan dibaca publik sebagai konflik agama; Yahudi-Kristen melawan Islam. Hal ini akan menyuburkan radikalisme di kawasan lain khususnya dunia Islam termasuk Indonesia. Kampanye anti-smitik dan anti-Barat menjadi bahan baku penyebaran kebencian terhadap agama lain. Ia menjadi pupuk penyubur intoleransi bahkan kekerasan di negara-negara muslim. Pemerintah anggota OKI akan  semakin terbebani masalah stabilitas internal.
4. Maka, publik internasional harus bersatu menentang tindakan Israel dukungan Amerika Serikat atas nama perdamaian dan atas nama kemanusiaan. Negara-negara OKI harus bekerja keras menghadang rencana Israel demi hak-hak rakyat Palestina untuk merdeka, mempertahankan wilayahnya dan bebas menentukan nasib sendiri (self determination). Masyarakat Muslim di mana pun harus satu suara untuk menentang rencana Israel ini demi perdamaian di tanah Palestina, kawasan Timur Tengah, dan negeri mereka sendiri. 
5. Said Aqil Siroj Institute (SAS Institute) mendorong pemerintah Indonesia menempuh langkah-langkah diplomatik secara sungguh-sungguh untuk mencegah  tindakan Israel ini dan memperkuat dukungan terhadap Negara Palestina Merdeka yang sejati.
6. SAS Institute mendukung sikap PBNU yang menentang keras kebijakan Israel ini. SAS Institute menyerukan agar ada lebih banyak lagi lembaga-lembaga civil society untuk menentang keras tindakan Israel yang merusak perdamaian dunia tersebut. 
7. SAS Institute menyerukan kepada masyarakat, khususnya umat Islam tidak terpancing oleh provokasi, agitasi dan penyebaran kebencian atas dasar agama terkait apa yang berlangsung di Palestina. Sebab, hal tersebut bukanlah konflik antar agama tetapi merupakan pertarungan antara kekuatan pro perdamaian dan kemanusiaan melawan kekuatan tiran yang tidak berkemanusiaan. Lihatlah betapa masyarakat Barat keras menentang kebijakan Israel tersebut dan mengutuk Trump yang mendukungnya termasuk pimpinan tertinggi Vatikan, Sri Paus. 

Dr. M. Imdadun Rahmat
Direktur SAS Institute

(Red: Kendi Setiawan)