::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Sekjen MUI Ajak Masyarakat Kritisi Konten Pemberitaan dan Buku Bacaan

Kamis, 07 Desember 2017 20:30 Nasional

Bagikan

Sekjen MUI Ajak Masyarakat Kritisi Konten Pemberitaan dan Buku Bacaan
Jakarta, NU Online
Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia H Anwar Abbas mengatakan perkembangan dan kemajuan teknologi informasi saat ini mampu memengaruhi pola pikir masyarakat. Walaupun suasana semangat keberislaman semakin marak diberbagai media, harus diwaspadai konten-konten negatif yang juga mengiringi fenomena ini.

"Kalau tidak hati-hati, masyarakat bisa terpengaruh dari apa yang dibaca dan didengar dimedia," katanya saat memberikan sambutan pada Silaturahmi Nasional Stakeholders Konten Keislaman dengan Tema Peningkatan Produktivitas dan Kualitas Konten Keislaman untuk Penguatan Ukhuwah Islamiyah dan Persaudaraan Kebangsaan Ukhuwah Wathoniyah di Hotel Santika, Jakarta, Kamis (7/12).

Ia menilai saat ini ada pihak tertentu yang memiliki niatan merusak Islam dengan menjauhkan agama dari sendi-sendi kehidupan umat Islam di Indonesia. Salah satunya, menurutnya, disebarkan melalui konten-konten pemberitaan dan buku-buku bacaan.

Kondisi ini menjadi salah satu tugas MUI melalui Lembaga Pentashih Buku dan Konten Keislaman Majelis Ulama Indonesia (LPBKI-MUI) untuk meneliti dan mengkritisi konten-konten buku dan media informasi lainnya yang akan merusak pola fikir masyarakat.

"Dengan mengkritisi, diharapkan LPBKI-MUI mampu mengubah citra Islam yang saat ini ada sebagian kelompok mencoba merusaknya," ungkapnya.

Langkah-langkah ini merupakan usaha konkrit MUI dalam rangka menjaga dan berkhidmah kepada umat. Lebih lanjut ia menjabarkan tugas MUI diantaranya lihimayatiddin (menjaga agama), lihimayatil ummah (menjaga Ummat) dan lihimayatid daulah (menjaga negara).

"Bangsa Indonesia sepakat bahwa Indonesia adalah Darul Ahdi was Syahadah. Negara yang dibangun dengan kesepakatan. Oleh karenanya kita wajib menjaga Negara Indonesia, ideologi Pancasila, dan UUD 1945," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Kendi Setiawan)