::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Maraknya Ujaran Kebencian karena Masyarakat Tinggalkan 3 Hal Ini

Selasa, 12 Desember 2017 08:01 Nasional

Bagikan

Maraknya Ujaran Kebencian karena Masyarakat Tinggalkan 3 Hal Ini
Ilustrasi.
Surabaya, NU Online
Beragam dan hidup dengan damai dalam satu kesatuan adalah ciri khas masyarakat Indonesia yang memiliki banyak etnis, ras, budaya dan agama.

Rukun dan santun dengan tetap berbeda dalam NKRI adalah karunia, pesan inilah yang disampaikan Ketua PBNU Robikin Emhas saat membuka pertemuan penulis keislaman Jawa Timur, di Surabaya beberapa waktu lalu.

Robikin memperjelas, Islam yang santun memiliki ciri khas dalam keseharian, hal itu tercermin dengan:

العمل بالمعروف والنهي بالمعروف

“Berprilaku santun melarangpun dengan santun.”

“Pondasi inilah yang terus digandakan oleh Nahdliyin dalam berdakwah. Baik bersikap atau bertutur di dunia maya, seorang muslim harus mengacu pada dua sikap diatas,” jelasnya.

Menurut Robikin, banyaknya ujaran kebencian yang akhir-akhir ini yang berkelibat di dunia maya dengan berita hoaks dan membuat Indonesia gaduh tak lain masyarakatnya meninggalkan sikap santun dalam bergaul dan 3 silah yang ditinggalkan.

Pertama, silaturahim, saling sapa antar saudara akan menepis segala prasangka, hal in yang harus dijaga oleh warga Indonesia. Baik silaturahmi dengan sesama muslim atau lintas agama. Saling mengenal, atau tetap menjaga tali persaudaraan akan mengurai benang tegang, atau memperkuat persaudaraan. 

Kedua, silatul afkar, curah gagasan saat ini, tidak sesulit dulu yang harus bertatap muka dan berdiskusi pada halaqoh-halaqoh ilmiah. Tukar informasi antar sesama dapat dilakukan di dunia maya, silatul afkar berarti menerima perbedaan dan menjadikannya sebuah kekuatan. 

Open mind akan hal-hal baru, karena sejatinya seorang harus terus belajar sesuai dinamika perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan,” terang Robikin.

Ketiga, silatul amal, amal berarti dinamis tidak stagnan, terus berbuat dan bekerja untuk kemaslahatan bersama. Ilmu yang didapat harus segera diaktualisasikan, ditulis dan disebarluaskan melalui media. Kenapa media?

Tak lain, 10-15 tahun ke depan Indonesia akan mengalami cyber war, dimana ujaran kebencian akan membludak dan sulit dikendalikan, jika yang 'arif dan 'alim hanya berbisik dan memilih diam, maka tidak akan lama NKRI akan dirongrong oleh ekstremis agama. (Diana Manzila/Fathoni)