::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Mufarrihul Hazin, Kader IPNU yang Raih Gelar Doktor di Usia 26 Tahun

Sabtu, 16 Desember 2017 20:30 Daerah

Bagikan

Mufarrihul Hazin, Kader IPNU yang Raih Gelar Doktor di Usia 26 Tahun
Surabaya, NU Online
Cita-cita dan harapan yang kuat dan diiringi dengan tindakan dan usaha nyata adalah kunci kesuksesan. Hal inilah yang tergambar dari sosok Mufarrihul Hazin yang akrab dipanggil Farih. Terlahir dari keluarga yang kurang secara ekonomi, tak lantas membuatnya surut dalam meraih pendidikan. Pria yang lahir di Palembang ini telah menyelesaikan studi doktonya pada usia 26 tahun. 

Perjalanan panjang dan berliku telah dilewati putra kedua pasangan Muslihuddin dan Munazah ini, mulai jualan koran, jaga toko sampai menjadi trainer pendidikan. Semuanya berbuah manis. 

“Bagi saya ekonomi keluarga tidak menjadi penghalang, selama kita punya cita-cita dan harapan yang besar, maka Allah yang akan menunjukan jalan. Percayalah itu,” ujar santri KH Hasyim Muzadi .

Pagi itu Kamis (14/12) terlihat berseri-seri wajah Farih. Dengan gaya khasnya yakni memakai kopiah ala NU, ia melangkah menuju mimbar untuk prosesi ujian terbuka promosi doktor bidang Manajemen Pendidikan di Universitas Negeri Surabaya. Dia membuka  dan melakukan presentasi dengan sangat baik, bahkan mampu menjawab pertanyaan dari penguji dengan sempurna.

Dalam disertasinya, Farih menjelaskan pentingnya pendidikan karakter pada perguruan tinggi. Selama ini pendidikan karakter hanya terfokus di pendidikan dasar dan menengah, sedangkan di kampus terlupakan. 

“Mahasiswa itu bukan hanya sekedar agen intektual, namun juga agen perubahan sosial. Mereka setelah lulus akan memulai dunia baru dengan pekerjaanya dan kembali ke masyarakat. Maka mereka harus dibekali dengan karakter yang kuat,” ungkap pemuda yang juga kader IPNU ini.

Perguruan tinggi harus mampu memformulasikan sebuah kebijakan pengembangan pendidikan karakter dan bagaimana implementasinya yang dijadikan naskah akademik di perguruan tinggi. 

Selain itu harus ada satu lembaga/unit di perguruan tinggi yang bertanggungjawab dan mengembangkan karakter mahasiswa. 

“Ini adalah hal yang penting membuat naskah akdemik pengembangan pendidikan karakter dan unit/ pusat yang bertanggungjawab di dalamnya,” kata pemuda yang dosen STAIN Kediri ini.

Dengan diraihnya gelar doktor dengan masa studi hanya 2 tahun, Farih berharap generasi bangsa agar membangun mimpi mereka. Jangan alasan ekonomi atau latar belakang keluarga yang kemudian membuat patah semangat dan hilang cita-cita. 

“Karena dengan kekuatan semangat yang membara akan mampu menyingkirkan segala sesuatu yang merintangi, sehingga mampu bermanfaat di masa depan,” tandasnya. (Choirudin Abdillah/Kendi Setiawan)