::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Mimpi Syekh Abu Hasan Syadzili di Masjid Al-Aqsho

Jumat, 22 Desember 2017 05:03 Hikmah

Bagikan

Mimpi Syekh Abu Hasan Syadzili di Masjid Al-Aqsho
Imam Raghib al-Ashfahani dalam kitab “Al Muhadlorot” menyebutkan bahwa Imam As-Syadzili Quddisa Sirruh, pemilik hizb bahr pernah tidur di masjid Al-Aqsho, Palestina. Pada saat itu, ia bermimpi. Berikut kisahnya. 

“Aku tidur di masjid Al-Aqsho. Dalam mimpi aku melihat singgasana telah berada di tengah tempat suci. Kemudian banyak makhluk yang masuk dengan bergiliran. Karena penasaran, aku pun bertanya, ‘Rombongan apa ini ?’ Mereka menjawab, ‘Rombongan para Nabi dan Rasul telah hadir untuk memintakan pertolongan kepada Husain Al Hallaj dari Nabi Muhammad SAW terhadap keburukan adab yang menimpa dirinya (Husain al Hallaj)’.”

Dengan seksama, Imam As-Syadzili pun memandangi singgasana itu. Ia melihat Nabi Muhammad SAW duduk sedirian di singgasana, sementara para Nabi dan Rasul lain juga duduk di lantai; seperti Nabi Ibrahim, Musa, Isa dan Nuh alaihim salam. 


Imam As Syadzili ikut duduk sambil memandangi dan mendengarkan pembicaraan mereka. 
Tak berselang lama, Nabi Musa bercakap-cakap dengan baginda Nabi Muhammad SAW. Kemudian Musa bertanya kepada Muhammad. 


“Sungguh engkau pernah berkata, bahwa ‘Ulama umatku sebagaimana nabi-nabi Bani Israil’. Maka perlihatkanlah kepada kami satu saja (red: bukti),” kata Nabi Musa. 


“Ini,” jawab Nabi Muhammad sembari menunjuk Imam Ghazali quddisa sirruhu.
Tanpa basa-basi, Nabi Musa bertanya kepada Imam Ghazali dengan satu pertanyaan. Namun Imam Ghazali menjawab pertanyaan itu dengan sepuluh jawaban. 


“Sebuah jawaban lebih tepat itu sesuai dengan pertanyaan. Satu pertanyaan kok dengan sepuluh jawaban,” sanggah Nabi Musa.


“Penyanggahan ini juga terdapat atas engkau pada saat ditanyakan,(وما تلك بيمينك يا موسى ) dan jawabannya adalah عصاي , maka aku mensifatinya dengan banyak kriteria,” jawab Imam Ghazali.


As-Syadzili berkata, “Maka tatkala aku sedang berpikir tentang keagungan Nabi Muhammad SAW, dengan dia duduk di atas singgasana terpisah, sementara Nabi Ibrahim (Kholilullah), Musa (Kalimullah), Isa (Ruhullah) duduk berlantaikan tanah, tiba-tiba sesosok orang menendangkan kakinya dengan tendangan yang mengagetkan. Aku pun terbangun di dekat orang penjaga yang sedang menyalakan lampu-lampu masjid Al Aqsho, dan dia berkata: ‘janganlah engkau heran sebab seluruh makhluk diciptakan dari cahayanya,’. Aku pun tersungkur tak sadarkan diri. Pada saat mereka mendirikan shalat, aku berkeliling seraya mencari penjaga tersebut dan aku tidak menemukannya sampai sekarag ini.” (Ali Makhrus)

Diambil dari Muhammad Abu al Yusr Abidin, Hikayatus Shufiyah, cet 7 (Damaskus: Dar Al Basyair, 2001 M /1421 H), hal 21.