::: ::: 

::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kisah Imam Az-Zamakhsyari Al-Mu’tazili dan Karma Seekor Burung

Sabtu, 23 Desember 2017 11:01 Hikmah

Bagikan

Kisah Imam Az-Zamakhsyari Al-Mu’tazili dan Karma Seekor Burung
Dalam dunia Tasir, ulama dan intelektual muslim tidak asing lagi dengan nama ini, Abu al-Qosim Mahmud bin Umar az-Zamakhsyari al-Khowarozmi al-Mu’tazili yang lahir Rabu 27 Rajab 467 H atau 18 Maret 1075 M.

Dia juga memperoleh gelar Jaarullah (tetangga Allah) penamaan itu diberikan karena beliau lama tinggal berdekatan dengan Makkah.

Dia merupakan ulama produktif dalam menulis dengan berbagai tema, terutama bahasa, kalam, dan tafsir. Dia juga ulama yang terbuka dengan berbagai corak pemikiran kala itu.

Dia juga pembesar Mu’tazilah dan terbuka dan tanpa tedeng aling-aling dalam bermu’tazilah. Dikatakan saat dia bertamu ke rumah sahabatnya, ia selalu berkata:

قل له : أبوا القاسم  المعتزليبالباب 

Tiada orang hebat lahir tanpa bisa kita pelajari kehidupannya. Sudah, populer bahwa Az-Zamakhsyari Al-Mu’tazili tidaklah tumbuh dengan fisik yang lengkap. Dia termasuk ulama difable (kaki patah, red) yang bermental baja.

Keadaan tersebut terjadi akibat kecelakaan saat dia seumuran remaja. Peristiwa terjadi pada saat ia menempuh perjalanan untuk keperluan studi. Latar belakang difable terungkap,  karena ada sebagian ulama menanyakan tentang kondisi difable beliau.

Az-Zamakhsyari menjawab:

“Pada masa kecil, aku pernah menangkap seekor burung, dan aku juga mengikat kakinya dengan benang, selanjutnya aku pun melepaskan dia dari tanganku dan kemudian burung tersebut masuk ke lubang, dan aku menarik kakinya yang terikat dengan benang, hingga aku menyebabkan kakinya patah.

Kemudian ibuku memarahiku dan berkata kepadaku:

قالت : قطع الله رجل الأبعد كما قطعت رجله

Ibu berkata: Semoga Allah memutuskan kaki yang jauh sebagaimana engkau memutuskan kakinya (si burung).
Lanjut Az-Zamkhsyari bercerita, “maka pada saat aku menempuh perjalanan ke Bukhoro untuk menuntut ilmu, aku terjatuh dari kendaraanku kemudian pecahlah (patah, red) kakiku”.

Versi lain dikatakan, “musim dingin menimpa dirinnya saat masih berada di tengah perjalanan, dan saking dinginnya membuat dia menggigil dan tersungkur jatuh ke tanah, hingga membuat kaki beliau patah. Dan dia memakai alat bantu kayu sebagai gantinya”.

Demikian, kenang beliau tentang kisah yang membuat ibunya marah-marah. Sehingga menerima peringatan Allah langsung melalui ibunya. Beliau selain terkenal dengan karangan al-Kasysyaf, juga karangan lain seperti wa Athwaqu adz-Dzahab, wa Nawabighul Kalam, wa Rabi’ul al abror, wa Asas al Balaghoh dan lain-lain. (والله اعلم بالصواب)

Ali Makhrus, Mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Diolah dari:
Al-Allamah Jaarullah Abi al-Qosim Mahmud bin Umar Az Zamakhsyari, Al Kasysyaf: Haqoiq Ghowamid at-Tanzill wa ‘Uyun al-Aqowil Fi Wujuh at-Ta’wil, tahqiq: Adil Ahmad Abdul Maujud; Ali Ahmad Mughowwish; Fathi Abdur Rahman Ahmad Hijazi, Juz 1, (Riyadh: Maktabah al ‘Abikan, 1998 M/1418 H), hal 11-19.

Muhammad Abu al-Yusr Abidin, Hikaya Shufiyah, cet 7 (Damaskus: Dar Al Basyair, 2001 M /1421 H), hal. 178-179.