: UNU Jogja adalah perguruan tinggi pertama di Indonesia yang menerapkan sistem blok pada semua program studi daftar sekarang di www.pmb.unu-jogja.ac.id atau 0822 3344 9331 :: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ketika Rasulullah Hormati Jenazah Yahudi

Ahad, 24 Desember 2017 15:30 Hikmah

Bagikan

Ketika Rasulullah Hormati Jenazah Yahudi
Suatu hari Rasulullah mendapati rombongan yang mengangkut jenazah lewat di hadapan beliau. Nabi pun berdiri menghormati.

Sahabat beliau segera memberi tahu dengan nada seolah protes, “Itu jenazah orang Yahudi.”

“Bukankah ia juga manusia?” sahut Rasulullah.

Dialog singkat ini bisa dijumpai dalam hadits shahih riwayat Imam Bukhari. Hadits tersebut diceritakan dalam konteks ketika suatu hari Sahal bin Hunaif dan Qais bin Sa'ad sedang duduk di daerah Qadisiyah, tiba-tiba lewatlah jenazah di hadapan keduanya, lalu keduanya pun berdiri. Dikatakan kepada mereka berdua bahwa jenazah itu adalah ahlu dzimmah, warga non-Muslim yang baik. Lalu keduanya menceritakan sikap Rasulullah terhadap jenazah Yahudi itu.

Pemberitahuan sahabat kepada Nabi bahwa jenazah tersebut adalah orang Yahudi bisa dimaklumi mengingat ketika itu sebagian orang Yahudi memusuhi dakwah Rasulullah. Mungkin para sahabat penasaran dengan alasan Rasulullah menaruh takzim pada jenazah apalagi diketahui bukan orang Islam.

Rasulullah menjawabnya dengan pertanyaan retoris, “Bukankah dia manusia (nafs)?” Dengan jawaban semacam ini Rasulullah seakan mengingatkan para sahabat bahwa tiap manusia layak mendapat penghormatan, terlepas dari apa latar belakang sosial dan agamanya, bahkan ketika manusia itu sudah terbaring menjadi mayat.

Dalam hadits lain riwayat Imam Ahmad disebutkan bahwa Rasulullah memerintahkan berdiri ketika ada jenazah Yahudi, Nasrani, atau Muslim. Bukan berdiri untuk jenazah itu sendiri tapi untuk malaikat yang menyertai jenazah tersebut. Artinya, manusia tak luput dari iring-iringan malaikat, tak hanya ketika hidup tapi juga saat meninggal dunia. Ada yang berpendapat bahwa hadits perintah berdiri menghormati janazah ini mansukh sehingga status berdiri itu sekadar boleh atau dianjurkan belaka.

Terlepas dari perdebatan fiqih tentang kesunnahan berdiri terhadap jenazah, petikan hadits pertama di atas menyiratkan pesan substansial bahwa Rasulullah sangat menghormati manusia. Hal itu selaras dengan pernyataan Al-Qur’an Surat al-Isra ayat 70, “Walaqad karramnâ banî âdam (dan sungguh telah Kami muliakan manusia).”

Kisah ini menceritakan betapa agungnya kemanusiaan dalam Islam. Rasulullah meneladankan kepada umatnya tak hanya teguh di jalan tauhid tapi secara bersamaan juga ikhlas menghargai martabat manusia, apa pun latar belakangnya. Bukankah Islam mengajarkan bahwa semua manusia adalah setara, yang membedakan hanyalah ketakwaannya? Ketakwaan menurut siapa? Tentu saja menurut Allah (‘indallâh), bukan menurut manusia yang sarat kekeliruan dan lupa. (Mahbib)