::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Gus Dur dan Kang Tabib di Pemakaman Giren Tegal

Senin, 25 Desember 2017 10:37 Opini

Bagikan

Gus Dur dan Kang Tabib di Pemakaman Giren Tegal
Oleh Nur Kholik Ridwan

Saat itu saya sedang dalam sebuah perjalanan ke sebuah kota, dengan tujuan untuk bertemu dengan kawan lama. Namanya saya sebut Kang Tabib. Setelah berbasa-basi ala kadarnya, saya bercerita kepada Kang Tabib, mampir dulu di Cirebon. Di Cirebon bertemu dengan salah satu guru Gusdurian, sahabat Marzuki Wahid; dan sempat bertemu dengan KH Mustofa Aqil Siroj, yang biasa dipanggil Kang Mu. Ketika bertemu Kang Mu, begitu teman-teman Cirebon memanggilnya, mengajarkan makna dan sejarah NU yang 32 tahun mau dibunuh rezim Orba, tetapi tetap hidup; karena adanya pilar-pilar kultural dan para kiai yang berdoa terus menerus.

Kang Tabib bertanya: “Ada yang bisa dibagi ceritanya Kang, dari Cirebon selain itu?”

Saya diam sesaat, tetapi kemudian menceritakan, “Ketika mau ziarah ke beberapa pemakaman di Cirebon, saya ditemani Kang Cilik, yang membawaku ke pemakaman keramat Sayyid Abdurrahman di Cirebon. Setelah itu kami berdiskusi di rumah Kang Cilik yang sederhana, dan di akhir pertemuan Kang Cilik memberi nasihat dengan tiga hal. Nasihatnya, yang saya ingat, hidup ini harus didasari dengan sumur, kapur, dan mbako. Tiga ilmu itu diperoleh dari gurunya: sumur, artinya harus punya ilmu yang bisa ditimba untuk kepentingan dunia dan akhirat, dan diamalkan untuk dirinya sendiri, sebelum akhirnya bisa ditimba orang; kafur, ingat kepada yang Maha Ghofur, selalu memohon ampun atas berbagai kesalahan dengan istighfar kepada Alloh, agar; kesalahan-kesalahan seperti kapur yang ditulis di papan bisa terhapus; dan mbako (bahan utama untuk nglinting rokok), artinya adalah baqo’ adalah melanggengkan dzikir, dan orang yang nglinting mbako, kalau langgeng dzikirnya, bisa menemukan dan memperoleh anugerah Alloh.”

Kang Tabib menambahkan, “Apa masih ada lagi?”

Saya mengingat-ingat dan menjelaskan, “Setelah itu, Kang Cilik menyebutkan bahwa untuk memperoleh dan menemukan berkah anugerah Alloh itu, orang itu harus sanggup berjalan mengarungi hidup dengan tiga hal pula, dan harus sanggup menjalaninya, yaitu: usus watu, galih kangkung, dan petarangan angin. Tiga hal itu dimaknai begini: usus watu, dalam kondisi apa pun, kesedihan, kesengsaraan, usus kita ini harus seperti watu, tahan uji, dan dari situ akan melahirkan kelembutan hati, kesabaran dan dinamis; Galih Kangkung, adalah perumpamaan di mana pohon kangkung itu tidak ada galihnya, agar punya keyakinan yang kuat kepada Alloh, yaqin, di tengah kehidupan yang bisa mengombang-ambingkan, dan yaqin itu adalah galih yang menjadi sandaran setiap orang mukmin.”

Saya melanjutkan, “Tentang petarangan angin, menurut Kang Cilik, adalah simbol untuk menunjukkan bahwa di tengah kehidupan kita harus senantiasa bisa melahirkan manfaat dengan prinsip yang kuat (ibarat burung bertelur lewat sebuah petarangan), meskipun terlihat kecil. Petarangan angin itu ibarat kita membuat petarangan dalam amal-amal yang kita lakukan, yang sejatinya kita ini berada di atas angin, dan angin adalah nafs kita dalam seluruh perjalanan. Maka kita harus bisa menjadikan petarangan itu berbuah dan menetas, hanya dengan keyakinan yang kuat kepada Allah. Sebab tanpa itu, angin selalu menggoyang petarangan itu, dan memusnahkan amal-amal itu.”

“Apa masih ada lagi?”

“Ketika berkunjung ke seorang guru ahli mudawamah Dalail Khoirot yang memperoleh melalui jalur al-Mujiz dari Jekulo, shohibul Mujiz yang terkenal itu. Kami bersilaturahmi dan mendengarakan hikmah-hikmahnya. Salah satunya, jangan pernah melupakan sholawat. Menurutnya, Dalail Khoirot itu initinya sholawat dan doa.”

Kang Tabib, adalah salah seorang di antara sahabat kami yang menekuni dunia pengobatan alternatif, tatkala sebagaian besar sahabat-sahabat kami menjadi dosen,PNS dan terjun di politik praktis. Kang Tabib, ketika masih di kampus dulu adalah salah satu pemimpin demo, dan ketika orasi selalu berapi-api menggugah rekan-rekannya. Meski selalu tampil demo, ketika sering berkunjung ke rumah kami dan berdiskusi, saya tahu dia ini sering tirakat dan berpuasa. Saya sendiri baru tahu kalau dia menekuni dunia pengobatan ini, sebagaimana sebagian guru Nahdliyin di Patianrowo Jawa Timur.

“Bagaimana Kang, dari seorang pendemo berapi-api bisa berubah menekuni dunia seperti ini,” kataku.

“Nasib aja kang.” jawabnya.

“Gus Dur kan tidak menekuni pengobatan, ha ha ha,” aku menyindir sambil lalu.

“Lha iya, tapi kan juga tidak seperti itu cara memahami Gus Dur.”

“Maksudnya?”

“Begini-begini ini juga ada berkahnya Gus Dur, lho? Baru nyadar, Gus Dur itu meluas lho Kang?”

“Ok.Ok. Ok. Bagaimana ceritanya.”

Kang Tabib menjelaskan, “Dalam semua pergulatan, saya diantarkan untuk menekuni jalan seperti ini. Saya sangat merindukan Guru Kita ini, Gus Dur. Tapi jarak kami jauh dan tidak ada kemampuan untuk ke Jombang. Dan saya hanya bisa sampai di Giren, Tegal. Di makam Syaikh Armia dan guru-guru ternama di Tegal, para auliya’ yang di makamkan di Giren. Di Giren ini saya tirakat, ingin bertemu Gus Dur, melalui wasilah para guru di Giren Tegal. Untuk mengobati rindu dan air mata yang selalu membasahi ini.”

Di Giren ini, memang ada makam terkenal yang selalu dijadikan tempat berziarah. Salah satu tokoh yang di makamkan di Tegal, adalah Mbah Giri, yang diyakini mendirikan desa Giren; ada Habib Muhammad bin Thohir al-Haddad, Syaikh Armia bin KH Kurdi bin Mbah Ki Ageng Suropono, dan lain-lain. Di Makam Giren ini, sering dijadikan tempat tirakat oleh sebagian orang, dan tampaknya sahabat saya ini, Kang Tabib, salah satu di antaranya.

Ceritanya dilanjutkan, “Saya di Giren ingin bertemu Gus Dur, dan al-Alhamdulillah. Saya pada malam-malam yang larut, melihat Gus Dur di tengah-tengah tirakat itu dan kemudian melihatku, dan memeluk; dengan tatapan supaya saya ini bersabar dalam menjalani hidup, karena hidup di tengah kota memang berat. Dan kemudian setelah itu, setelah Gus Dur pergi, sang juru kunci menghampiri saya dan bertanya.”

“Mas, tadi siapa itu?” kata sang juru kunci.

Dengan agak malu, saya berkata: “Apa ya pak?”

“Yang tadi seperti ada yang menemui.”

“Tanpa bisa berkata, malah saya jadi meleleh air mata, mengingat Gus Dur, yang membuat juru kunci terheran-heran.”

Kang Tabib lalu berkata kepada saya: “Setelah dipeluk Gus Dur itu, saya merasa bersemangat, untuk menjalani apa saja hidup ini dengan mengalir, termasuk bersabar dalam menekuni jalan pengobatan alternatif ini.”

Banyak hal kemudian kami berbicara tentang dunia pengobatan alternatif, sampai pada Mujarrobat Dairobi dan khazanah-khazanah hikmah lain, dari Banyuwangi, dan lain-lain. Dalam hal itu, Kang Tabib mengemukakan perlunya kaum Nahdliyin mengambil peran secara lebih serius. Sebab dengan mengambil contoh, tradisi gurah, yang ditemukan di Giriloyo Imogiri, Yogyakarta; dan juga pengobatan lain, tetapi dalam produksi herbal justru banyak diproduksi orang-orang berjenggot, dengan pendanaan kapital yang kuat.

Kang Tabib, merasa bahwa Gus Dur meluas, termasuk di dalamnya juga harus ada yang menekuni pengobatan alternatif. Menjamurnya pil-pil herbal yang dilakukan orang-orang berjenggot tebal, harus ada yang menekuni di jalur pengobatan alternatif ini. Jangan sampai ditinggal.

Hikmah yang bisa diambil dari kisah Kang Tabib ini, seorang guru yang bintang-bintangnya telah tersohor di langit dan meluas di bumi, dia tidak akan meninggalkan murid-muridnya, ketika-muridnya sangat rindu. Murid dan guru akan terhubung secara spiritual. Sebab ada hadits dari Sayyidah Aisyah menyebutkan: Al-Arwâh junûdun mujannadah famâ ta`ârofa minhâ i’talafa wamâ tanâkaro minhâ ikhtalafa. Artinya: “Ruh-ruh itu seperti tentara yang berhimpun saling berhadapan. Apabila mereka saling mengenal (sifatnya, kecenderungannya), maka akan saling bersatu, dan apabila saling berbeda akan saling tercerai berai” (Shohîh al-Bukhôrî, No. 3336).

Dari hadits itu dapat dipahami, bahwa ruh seorang murid yang selalu mencintai dengan merindukan gurunya, dengan sungguh-sungguh dan tetesan air mata, akan saling mengenal, dan bisa bertemu, dan menjadi sarana Allah mengijabahi hajat seorang murid. Lebih-lebih bila guru itu termasuk orang sholih dan dikasihi Allah. Arti penting pertemuan secara spiritual seperti ini, dalam satu menit saja, dapat mengubah keseluruhan hidup dari seorang murid; menghapus pengetahuan yang sebelumnya; dan menambah energi kesabaran dan upaya terus menerus dalam pengetahuan yang baru.

Hikmah kedua, adalah di antara tradisi yanhg perlu dilanjutkan dan tidak boleh dialpakan adalah pengobatan alternatif di kalangan anak-anak muda pesantren. Harus ada yang menekuni sebagian di dunia ini, dan menyongsongnya agar menjadi lebih baik dan terkoordinir. Sebab wilayah ini sudah didesak oleh orang-orang berjenggot tebal.

Hal ini juga untuk meneruskan tradisi apa yang dilakukan Hadhratusy Syaikh Hasyim Asy'ari di Jombang, yang juga menekuni dunai pengobatan, seperti diceritakan cucu Ki Dalang Sakiban, dalam buku Sang Guru Sejati. Mereka yang sudah tidak melirik dan memperhatikan bidang ini dan telah sukses, perlu juga punya perhatian terhadap dunia di bidang ini, sebab medan ini juga menjadi medan jihad yang tidak ringan untuk mempribumikan Islam. Wallahu a’lam.

Penulis adalah Penggubah buku "Suluk Gus Dur: Bilik-bilik Spiritual Sang Guru Bangsa" (Ar-Ruzz Media, 2013).