::: ::: 

::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

AL-HIKAM

Hakikat Doa bagi Para Wali Allah menurut Ibnu Athaillah

Senin, 25 Desember 2017 20:05 Tasawuf/Akhlak

Bagikan

Hakikat Doa bagi Para Wali Allah menurut Ibnu Athaillah
(via patheos.com)
Ketika menghadapi suatu masalah atau memiliki hajat tertentu, kita melakukan ikhtiar-ikhtiar manusiawi termasuk salah satunya adalah berdoa kepada Allah SWT. Celakanya kita menganggap ikhtiar atau doa kita itu sebagai sebab atas pemenuhan hajat atau keberhasilan kita dalam melewati masalah tersebut.

Hal ini tentunya merupakan sebuah kekeliruan cara pandang kita terhadap ikhtiar manusiawi termasuk doa dalam kaitannya dengan pertolongan Allah di mana hubungan doa dan pertolongan Allah merupakan relasi sebab akibat atau kausalitas. Kekeliruan cara pandangan ini kiranya perlu diluruskan sebagai disinggung oleh Syekh Ibnu Athaillah dalam hikmah berikut ini:

لا يكن طلبك تسبباً إلى العطاء منه فيقل فهمك عنه .وليكن طلبك لإظهار العبودية وقياماً بحقوق الربوبية

Artinya, “Jangan maknai permintaanmu sebagai sebab atas pemberian Allah yang itu menunjukkan kekurangpengertianmu terhadap-Nya. Hendaklah sadari bahwa permintaanmu adalah pernyataan kehambaan dan pemenuhan atas hak-hak ketuhanan.”

Menurut Syekh Ibnu Athaillah, kausalitas doa dan pemberian Allah lazimnya dipahami oleh mereka yang makrifatullahnya belum sempurna sehingga Allah dipahami secara mekanis, bahwa doa merupakan sebab atas pemberian-Nya. Hal ini berbeda dengan ahli makrifat yang memandang doa sebagai manifestasi dari kehambaan mereka dan pemenuhan atas hak-hak ketuhanan.

Hikmah Syekh Ibnu Athaillah ini diulas lebih lanjut oleh Syekh Syarqawi. Menurutnya, segala bentuk ibadah dan amal saleh termasuk doa yang dapat dipahami sebagai bentuk tawajuh seorang hamba kepada Allah jangan diniatkan sebagai sebab atas anugerah-Nya. Niatkan itu semua sebagai bentuk pengabdian manusia kepada Allah SWT. Penjelasan Syekh Syarqawi dapat disimak dalam redaksi sebagai berikut:

لا يكن طلبك تسبباً إلى العطاء منه) أى لا تقصد بطلبك أى توجهك له بالدعاء والأعمال الصالحة حصول النوال منه وتعتقد أنه سبب مؤثر في ذلك (فيقل فهمك عنه) أى عن الله أى فلا تفهم السر والحكمة في أمر الله عباده بالطلب وهو ما ذكره بقوله (وليكن طلبك لإظهار العبودية) أى لإظهار كونك عبدا ذليلا ضعيفا لا غنى لك عن سيدك (وقياماً بحقوق الربوبية) فإن الربوبية تقتضى التذلل والخضوع من المربوب، يعنى أن الله لم يأمر عباده بالطلب منه إلا ليظهر افتقارهم إليه وتذللهم بين يديه لا لأن يتسببوا به إلى حصول ما طلبوه ونيل ما رغبوا فيه. هذا هو فهم العارفين عن الله ومن هذا حاله لا ينقطع سؤاله ولا رغبته وإن أعطاه كل مطلب وأناله كل سؤل ومأرب ولا يفرق بين العطاء والمنع فيكون عبد الله في الأحوال كلها كما أنه ربه في الأحوال كلها وقبيح بالعبد أن يصرف وجهه عن باب مولاه

Artinya, “(Jangan maknai permintaanmu sebagai sebab atas pemberian Allah), jangan niatkan permintaan dan tawajuhmu kepada-Nya melalui doa atau amal saleh untuk mendapat anugerah-Nya dan meyakininya sebagai sebab yang berpengaruh atas itu, (yang itu menunjukkan kekurangpengertianmu terhadap-Nya) terhadap Allah, yang itu menunjukkan kau tidak memahami rahasia dan hikmah perintah Allah untuk berdoa. Rahasia dan hikmahnya itu disebutkan Syekh Ibnu Athaillah sebagai berikut, (Hendaklah sadari bahwa permintaanmu adalah pernyataan kehambaan), yaitu untuk menyatakan dirimu sebagai hamba, hina, dhaif yang tidak bisa cukup daripada-Nya (dan pemenuhan atas hak-hak ketuhanan). Sifat ketuhanan menuntut kerendahan dan ketundukan para hamba. Allah tidak memerintahkan hamba-Nya berdoa kecuali untuk menyatakan kefakiran mereka terhadap-Nya dan kerendahan mereka di hadapan-Nya, bukan untuk mereka jadikan sebab demi mendapat permohonan dan meraih keinginan mereka. Inilah pemahaman ahli makrifat terhadap Allah. Dari sini permintaan dan permohonan mereka kemudian tak pernah putus sekalipun Allah telah mengabulkan permohonan dan memberikan permintaan serta hajat mereka. Mereka tidak membedakan pemberian dan penahanan Allah sehingga mereka tetap menjadi hamba Allah dalam keadaan apapun sebagaimana Allah adalah tuhan mereka dalam kondisi apapun. Adalah sebuah keburukan seorang hamba yang memalingkan wajah dari pintu Tuhannya,” (Lihat Syekh Sarqawi, Syarhul Hikam, Indonesia, Al-Haramain, tanpa catatan tahun, juz II, halaman 9).

Mengapa hubungan kausalitas doa dan anugerah Allah sebagai kekeliruan yang mengandung bahaya? Anggapan keduanya sebagai hubungan kausalitas itu berbuntut panjang. Ada konsekuensi logis dari cara pandang kausalitas tersebut. Syekh Ahmad Zarruq mengulas masalah ini lebih jauh. Menurutnya, hubungan kausalitas itu dapat mempengaruhi rasa syukur dan ridha kita terhadap Allah. Celakanya kalau kita terjebak dan masuk ke dalam kelompok orang-orang yang kufur nikmat dan tidak ridha atas putusan-Nya sebagai penjelasan Syekh Ahmad Zarruq berikut ini:

ووجه انتفاء الفهم باعتقاد السببية أنه إن أعطى لم يشكر وإن شكر كان شكره ضعيفا لملاحظته سببا في التحصيل، لأن الفرح بالمنة دون استشعار سبب أقوى منه مع استشعاره، وإن منع لم يرض، وإن رضي فلا من حيث رؤية اختيار الحق تعالى بل من حيث رؤية تقصيره وهو نقص. والمطلوب في ذلك ما ذكره بأن قال وليكن طلبك لإظهار العبودية وقياماً بحقوق الربوبية

Artinya, “Letak ketidakpahaman terhadap-Nya karena logika kausalitas adalah bahwa jika diberi, mereka tidak bersyukur. Kalau pun bersyukur, rasa syukurnya kendur karena mereka memperhatikan sebab atas pemenuhan hajat mereka karena manusia biasanya lebih bahagia atas pemberian Allah tanpa memakai sebab dibanding sebuah pemberian-Nya dengan memakai sebab tertentu. Kalau tidak diberi, mereka tidak ridha. Kalau pun ridha karena tidak diberi, mereka tidak melihat pilihan Allah, tetapi melihat kelalaian diri mereka sebagai hamba Allah. Pandangan mereka seperti ini tidak sempurna. Tetapi yang dituntut dari mereka adalah seperti yang dikatakan oleh Syekh Ibnu Athaillah, yaitu “Hendaklah sadari bahwa permintaanmu adalah wujud pernyataan kehambaan dan pemenuhan atas hak-hak ketuhanan,” (Lihat Syekh Zarruq, Syarhul Hikam, As-Syirkatul Qaumiyyah, 2010 M/1431 H, halaman 141).

Hikmah Syekh Ibnu Athaillah ini bukan sama sekali menyarankan kita untuk berhenti atau tidak berdoa. Hikmah ini membuka pandangan kita terhadap doa sebagai ikhtiar yang sama statusnya dengan bentuk ikhtiar manusiawi lainnya. Hikmah ini hanya mengingatkan kita untuk menggeser cara pandang kita terhadap doa.

Hikmah ini mengajak kita untuk menyadari siapa diri kita di hadapan Allah SWT. Oleh karena itu hikmah ini mendorong kita untuk tetap berdoa kepada Allah dalam kondisi apapun baik dalam menghadapi masalah yang signifikan maupun tidak, dalam kondisi berhajat maupun dalam kondisi cukup, sebagai bentuk kehambaan kita sebagai makhluk-Nya. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)