::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Gus Dur dan Mimpi Kiai Gunung

Selasa, 26 Desember 2017 08:15 Opini

Bagikan

Gus Dur dan Mimpi Kiai Gunung
Oleh Nur Khalik Ridwan

Dalam cerita sebelumnya, saya berjalan ke arah barat, bertemu Kang Tabib. Pada cerita kali ini, adalah perjalanan ke arah timur, menemui seorang kiai, yang saya sebut sebagai Kiai Gunung. Dulu kami bersama-sama, ketika meneliti untuk terbitnya buku Ilusi Negara Islam. Bedanya, saya di Yogyakarta; dan Kiai Gunung tinggal di Jakarta. Awalnya saya menduga dia masih di Jakarta, karena pernah suatu ketika bertemu di kantor PBNU, di Kramat; dan berdiskusi agak lama. Baru tahu belakangan, ternyata Kiai Gunung ini tinggal dan pulang ke kampung halaman.

Pertemuan dengan Kiai Gunung, seperti reuni karena lama sudah tidak bertemu. Subhanalloh, tempatnya jauh lebih di pinggiran dari pada tempat kami di Banyuwangi yang sudah terpencil itu. Saya penasaran ihwal kepulangan Kiai Gunung ke kampung halaman. Dan ketika saya sampai di rumahnya, lalu dilanjutkan dengan ngobrol-ngobrol santai di beranda depan rumahnya di pesantren yang diasuhnya itu, yang muridnya sekitar 100-an lebih.

Setelah menyampaikan salam dan kata-kata pembuka, saya memulai: “Kiai, kalau kita tinggal di gunung seperti ini, sepertinya organisasi yang ada di Jakarta, kalau kita memandangnya dari sini, sama sekali tidak relevan ya. Antara persoalan-persoalan di Jakarta dengan apa yang terjadi di sini; tentang masalah-masalah dan kebutuhan-kebutuhan masyarakat di sini dan agenda-agenda yang dirumuskan di Jakarta.”

Kyai Gunung hanya menimpali dengan tertawa, sambil menunggu kopi dan rokok, sesuatu hidangan yang sudah agak lama tidak saya jamah itu. Belum lagi Kiai Gunung berkata saya pun bertanya lagi:

“Kok bisa kembali ke kampung halaman Kyai, pasti ada kisahnya ini?”

Sebelum Kiai Gunung sempat menjawab pula, saya menambah lagi: “Bagaimana dulu ceritanya Sampean dengan Gus Dur, di Jakarta setelah Ilusi Negara Islam?”

Kiai Gunung pun mulai bercerita, dia pernah diminta untuk menulis yang didiktekan Gus Dur, untuk mempromosikan Islam di Eropa. Tulisan itu kira-kira berkaitan dengan Apa yang Bisa diberikan Eropa terhadap Islam; akan tetapi ketika tulisan ini belum selesai secara keseluruhan, Gus Dur sudah sering sakit, dan kemudian dipanggil Alloh. Tulisan itu sekarang masih ada di filenya.

Kiai Gunung juga bercerita bahwa dulu pernah dimarahi Gus Dur, ketika itu dia sedang bersama kru film, di mana Gus Dur dijadikan sebagai penjelas untuk sebuah artikulasi-artikulasi penting keislaman dalam film itu. Gara-garanya, karena janji bertemu pada hari tertentu tidak ditepati, atau terjadi salah tanggal dan harinya, sehingga telat 1 hari dari janji yang semestinya.

Gus Dur kala itu mengatakan: “Kalau jadi orang harus menepati janji, kalau sudah berjanji.”

Kiai Gunung hanya terdiam, mengingat yang salah saat itu sebenarnya adalah yang mengatur jadwal, tetapi karena dia yang menghadap, maka dia pun terdiam. Kyai Gunung mencari cara agar mencair, dengan cara memberi kabar kepada Gus Dur bahwa, dia memiliki buku baru berbahasa Inggris yang baru saja terbit, dan isinya bagus. Seketika Gus Dur, meminta kepadanya apa gambaran isi buku itu, dan kemudian dijelaskan oleh Kyai Gunung. Langsung Gus Dur meminta buku itu dan kemudian dijanjikan untuk diberikan nanti.

Pembicaraan yang panjang, saya potong, dan saya kemudian bertanya kepada Kiai Gunung: “Bagaimana ihwalnya bisa tinggal di kampung lagi Kiai?”

Kiai Gunung kemudian menjelaskan: “Sebenarnya saya memulai pertama-tama melewati tahap, sesekali di Jakarta dan selama bebarapa minggu di rumah, dan begitu sampai saya kemudian benar-benar pulang, seperti sekarang ini. Dan, barulah saya menyadari saya sesekali ketika di Jakarta saat itu, pernah bermimpi, yaitu suatu ketika saya melihat dan bersama Gus Dur di sebuah gunung dan melihat rumah di gunung itu.”

Gus Dur mengatakan: “Tempat ini adalah tempat yang sunyi.”

Kiai Gunung mengatakan bahwa saat mimpi itu, dia tidak bisa menafsirkan apa-apa. Akan tetapi baru dia memahami setelah tidak lama kemudian, katanya: “Ayah saya dipanggil oleh Alloh, dan saya harus pulang ke kampung, dan akhirnya seperti sekarang ini. Saat saya belum pulang, jumlah santri di pesantren ini, dulunya hanya tinggal sekitar 40-an, dan sekarang sudah mulai ada sekitar 100-an. Barulah saya menyadari tentang mimpi itu ketika saya pulang kampung, dan harus siap hidup dalam kesunyian.”

“Bagaimana rasanya Kiai sebagai orang yang pernah di Jakarta dan kemudian tinggal di tempat sunyi seperti ini, seperti dikatakan Gus Dur tadi?”

Kiai Gunung mengatakan: “Pada awalnya berat, mencari keselarasan kehidupan di desa, terutama bagi anak-anak yang sudah biasa sekolah di Jakarta. Akan tetapi seiring dengan perjalanan waktu, semua harus diresapi dan bisa diambil hikmahnya.”

Tentang Gus Dur, Kiai Gunung juga menceritakan, bahwa dia dulu mondok di Madura. Dia bercerita bahwa ada satu guru di antara guru-guru di pondok, yang amalannya di antaranya adalah membaca ayat kursi 1000 kali setiap hari. Guru ini, seorang yang sederhana, mendidik di pondok, dan rumahnya sering didatangi orang untuk dimintai doa. Dalam kehidupannya sederhana; kalau mendapatkan rizki dia mengambil seperlunya saja, dan sebagian besarnya, uangnya diberikan untuk kemajuan pondok dan diinfakkan kepada orang.

Tentang Guru ini, di kemudian hari saya mendapat cerita lagi dari orang lain selain Kyai Gunung ini, bahwa di hari dimana Guru ini meninggal, di lemarinya hanya tersisa 2 baju dan dua celana. Anak-anaknya pun tidak tahu, dan baru tahu ketika dibuka lemari, pasca wafatnya sang guru, ternyata sang ayah hanya memiliki 2 celana dan 2 baju. Cerita lain tentang guru ini, dari kawan ini, Guru ini apabila ada pertunjukan-pertunjukan tertentu dan ada maksiatnya; dia berupaya datang dan hanya duduk tanpa orang lain banyak tahu. Dan ketika Guru ini duduk, mereka yang mentas di panggung lari tunggang langgang. Kata kawan saya itu, yang lari itu merasa bumi sedang goyang dan terasa dirinya mau ditelan bumi.

Berkaitan dengan guru itu pula, Kyai Gunung juga bercerita, bahwa Guru ini pernah bercerita, suatu ketika mimpi Gus Dur. Dalam mimpi itu, yang terjadi sebelum tahun 1998, Gus Dur hanya berbicara pendek: “Nanti aku dibantu ya. Setelah itu hilang.” Mimpi yang penuh teka-teki itu, akhirnya memperoleh penjelasan, setelah turunnya presiden Soeharto pada Mei 1998. Bersamaan dengan itu dilakukan reformasi, dan didirikanlah partai-partai baru. Gus Dur pun ikut mendirikan partai. Guru yang kita bicarakan ini, akhirnya ikut membantu partai yang didirikan Gus Dur ini, di daerahnya.

Lalu saya menyela: “Bagaimana kabarnya membangun pesantren ini, bisa meningkat dari sekitar 40-an sampai seperti sekarang, Kiai?”

Kiai Gunung bercerita: “Pertama-tama, saya menghadapi problem, karena setelah saya tinggal di pesantren ini, beberapa murid pesantren ada yang terkena makhluk halus. Jadilah saya harus kembali menginstall ilmu-ilmu hikmah, yang dulu pernah saya pelajari di pondok; dan lama saya tidak tekuni. Semua cara pengobatan telah dilakukan, dan tidak berhasil, termasuk ketika dibacakan ayat kursi, dan ayat-ayat yang berhawa panas: satu hari hilang, besuknya datang lagi, dan begitu seterusnya. Akhirnya, saya bermunajat dan bertirakat, dan memperoleh jalan bahwa semua itu akhirnya hilang dengan dzikir kalimat-kalimat sederhana, yaitu syahadat, istighfar, hauqolah, dan sholawat. Di antara itu, dzikir syahadat ternyata banyak manfaatnya dan sangat mujarab, yaitu dzikir dengan kalimat “Asyahadu an lâ ilâha illallôh wa asyhadu anna Muhammadar Rosûlullôh”, yang diulang-ulang. Kemudian setelah kasus itu, pelan-pelan kami mulai mengembangkan pesantren dengan sabar.”

Kiai Gunung tiba-tiba ingat juga, bahwa ketika dalam masa dia kadang di Jakarta dan kadang di desa. Pada saat itu Gus Dur sudah wafat. Pada saat ketika Kiai Gunung telah pulang haji, dia bercerita pernah lagi mimpi bertemu Gus Dur.

“Kali ini yang kedua, apa Kiai, yang dikatakan Gus Dur,” saya menyela.

Kiai Gunung menjelaskan: “Saya bermimpi dan melihat Gus Dur datang ke tempat kami, dan dia kemudian berkata: “Aku sakit kenapa kamu tidak menjengukku....” Setelah Gus Dur mengatakan begitu, saya kemudian terbangun, dan merenung. Saya mawas diri, saya simpulkan, saya belum melakukan tahlilan ketika Gus Dur meninggal, dan saat itu adalah waktu dengan meninggalnya Gus Dur belum ada seminggu. Akhirnya besuknya saya mengadakan tahlilan untuk mendoakan Gus Dur, para pendiri NU, dan kaum muslimin-muslimat.”

Ketika kami sedang ngobrol ini, kami menunggu kawan yang sedang ingin berkunjung ke pesantren ini pula. Akan tetapi karena masih lama datangnya, kami dengan Kiai Gunung memutuskan berkunjung dan bersilaturahmi kepada seorang Kiai yang memiliki sanad wirid dari Mbah Abdul Hamid Pasuruan, dengan wirid pendek “Hasbunallôh wani’mal Wakîl”, dengan pengamalan siang 450 kali dan malam 900 kali. Kiai ini memperoleh dari KH Hasan Abdillah Glenmor Banyuwangi, dari Mbah Abdul Hamid Pasuruan; dan kemudian wasilah ke atas adalah Syaikh Abdul Qodir al-Jilani, Imam Ali Karromallohu wajhah, dan kemudian wasilah kepada Kanjeng Nabi Muhammad.

Hikmah dari cerita Kiai Gunung ini, pertama bahwa hidup ini, Allahlah yang Mengatur dan Berkuasa. Meskipun sepertinya lama tinggal di Jakarta, Kiai Gunung akhirnya oleh Allah dibawa juga untuk dikembalikan ke desa. Kesadaran bahwa Allah mengatur segalanya, kadang-kadang ditampakkan kepada seseorang melalui bimbingan seorang guru yang dicintai Allah, misalnya melewati mimpi, dengan tanda-tanda simbol; dan perbuatan-perbuatan Allah yang tidak bisa dicegah oleh seseorang yang akhirnya, membawanya pada kondisi yang mengubah dari keadaan semula, seperti yang dialami Kiai Gunung, dengan ditinggal oleh ayahnya untuk menghadap Allah.

Kedua, santri dan kesantrian adalah jatidiri, bukan hanya simbol, dan santri yang mengerti tentang jatidirinya adalah santri yang senantiasa tidak melupakan ilmu-ilmu hikmah dan dzikir-dzikir untuk dijadikan wasilah mendekatkan diri kepada Allah; dan dijadikan sebagai silahul mu’min dalam menghadapi berbagai rintangan.

Bahwa ilmu-ilmu baru, penting dipelajari, tidaklah dibantah, akan tetapi bagi sebagian orang santri, ditampakkanlah melalui perbuatan-perbuatan Allah kepadanya itu, bahwa ilmu-ilmu baru itu, tidak seluruhnya berguna di akhirnya; dan seorang santri perlu bisa memilah antara ilmu-ilmu baru di dalam level kerjanya, dan ilmu-ilmu santri sendiri sebagai dasarnya. Ilmu-ilmu hikmah dan dzikir kepada Alloh, adalah melekat sebagai ilmu santri yang tidak boleh ditinggalkan oleh seorang santri, seperti dilakukan Kyai Gunung ini, yang kemudian menginstall ulang ilmu-ilmu hikmahnya.

Ketiga, kesabaran dalam sebuah perjalanan dan pergulatan hidup sangat penting. Sebab dengan kesabaran itu, seorang santri akan ditempa agar menjadi tahan uji. Dalam kesabaran itu selalu ada ujian, akan tetapi seorang santri harus selalu ingat bahwa setiap ujian akan selalu berlalu, dan tidak pernah langgeng. Maka tirakat dan bermunajat adalah mutlak diperlukan bagi seorang santri.

Kiai Gunung memberikan contoh bagaimana, ujian dalam membangun pesantren, ditinggal ayahnya, dan diingatkan Gus Dur melalui mimpi, menghendaki adanya laku kesabaran itu; dan pada saat yang sama usaha dengan penuh munajat dan taqorrub kepada Alloh harus dilakukan. Jalan terjal pun pada akhirnya akan dibukakan menjadi terang dan mudah. Wallahu a’lam.

Penulis adalah penggubah buku "Suluk Gus Dur: Bilik-bilik Spiritual Sang Guru Bangsa" (Ar-Ruzz Media, 2013).