::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::  Kuliah Plus Ngaji? Ke UNSIQ Wonosobo aja, -Memadukan mutiara luhur tradisi pesantren dan keunggulan Universitas Modern- Kunjungi http//:pmb.unsiq.ac.id. 081391983830 (Latu Menur Cahyadi)::: 

Tauhid sebagai Akar Sikap Terbuka pada Kebinekaan

Rabu, 27 Desember 2017 15:00 Khutbah

Bagikan

Tauhid sebagai Akar Sikap Terbuka pada Kebinekaan
Ilustrasi (rabitat-alwaha.net)
Khutbah I

الحَمْدُ للهِ الّذِي خَلَقَ الخَلْقَ لِعِبَادَتِهِ، وَأَمْرُهُمْ بِتَوْحِيْدِهِ وَطَاعَتِهِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَكْمَلُ الخَلْقِ عُبُودِيَّةً للهِ، وَأَعْظَمَهُمْ طَاعَةً لَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَاِبهِ. اَمَّا بَعْدُ، فَيَااَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنـْتُمْ مُسْلِمُوْنَ فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

Tak sedikit orang berpikir bahwa sikap tertutup dan tindak kekerasan—eksklusivisme dan terorisme—seseorang dipengaruhi oleh iman agama yang terlalu kuat. Semakin iman seseorang, semakin radikal ia menyikapi perbedaan pendapat dan budaya di sekitarnya. Anggapan ini jelas keliru karena tidak mampu membedakan antara iman dan fanatisme buta. Iman berangkat dari kedalaman batin yang biasanya diperoleh melalui kesadaran penuh, penghayatan, atas perenungan mendalam atas ajaran agama. Sementara fanatisme buta lazimnya muncul dari indoktrinasi, agitasi, atau hal-hal lain yang lebih menekankan aspek emosional ketimbang akal sehat dan nurani.

Kekeliruan ini pula yang menimpa para pemikir era “pencerahan” (enlightenment) abad ke-18 Eropa. Mereka dengan bangga mendeklarasikan pengakuan atas kebebasan dan hak asasi bagi umat manusia yang sebelumnya dikungkung oleh kekuasaan agama, dalam hal ini para elite gereja. Ajaran agama pun lalu dipertentangkan dengan prinsip kebebasan, rasionalitas, dan kemajuan. Yang pertama diberi label “abad kegelapan”, sementara yang kedua disebut-sebut “abad pencerahan”. Tuduhannya adalah: terlalu berpusat kepada Tuhan menyebabkan pemeluk agama mengesampingkan kepentingan kemanusiaan.

Jika seseorang mau menggali lebih dalam akan dijumpai bahwa Islam sejak pertama kali dirisalahkan sangat menjunjung tinggi martabat manusia. Al-Qur’an mengatakan, walaqad karramnâ banî âdam (dan telah Kami muliakan keturunan Adam [manusia]). Ajaran ini sejalan dengan penekanannya yang serius terhadap penguatan iman tauhid kepada Allah. Artinya, antara iman dan kesalehan sosial berjalin kelindan. Semakin kuat seseorang bertauhid, (semestinya) semakin pula ia menghargai kemanusiaan. Hal itu bukan karena tauhid sejajar dengan kemanusiaan, tapi kemanusiaan itu sendiri landasannya adalah tauhid.

Jamaah sidang Jumat rahimakumullah,

Tauhid berseru bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Tidak ada yang lebih mulia, lebih berkuasa, lebih sempurna daripada Allah. Allah ditempat sebagai Dzat mutlak yang tak bisa ditandingi oleh siapa pun dan apa pun. Pencipta seluruh makhluk sekaligus pengadil hakiki bagi mereka di hari pembalasan. Dialah muasal sekaligus tempat kembali seluruh keberadaan di alam raya ini. Karena itu, yang layak disembah hanyalah Allah, bukan yang lain.

Doktrin tentang kemutlakan Allah ini menjadi sumber penting lahirnya prinsip kesetaraan dalam Islam. Tauhid (pengesaan Allah) yang menekankan monopoli keagungan hanya milik Allah secara otomatis menghapus segala bentuk klaim keistimewaan kelompok manusia tertentu atas dasar ras, bahasa, suku, etnis, atau bangsa. Di hadapan Allah semua setara, diciptakan dari materi yang sama dan dianugerahi potensi berbuat baik dan buruk yang sama. Sehingga bila ada yang mengatakan bahwa kaum kulit putih lebih tinggi derajatnya dari kaum kulit hitam, orang pribumi lebih mulia dari non-pribumi, atau Arab lebih unggul dari non-Arab, jelas itu bertentangan dengan ajaran Islam. 

Seperti dijelas Imam Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ، وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ، أَلَا لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى عَجَمِيٍّ، وَلَا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ، وَلَا لِأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ، وَلَا أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ، إِلَّا بِالتَّقْوَى، إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Rabb kalian satu, leluhur kalian juga satu (Adam). Ketahuilah, tidak ada keistimewaan khusus orang Arab atas orang non-Arab, orang non-Arab atas orang Arab, orang berkulit merah atas orang berkulit hitam, orang berkulit hitam atas orang berkulit merah, kecuali dengan takwa. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa… (HR. Baihaqi  dalam Syu’abul Iman)

Pesan senada juga disampaikan Al-Qur’an dalam Surat al-Hujurat ayat 13:

“Wahai manusia, Kami jadikan kamu dari jenis kelamin laki-laki dan perempuan dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling memahami (sebenarbenarnya). Sesungguhnya manusia yang paling terhormat adalah dia yang paling dekat dengan Tuhan.”

Pesan hadits dan ayat tersebut jelas bahwa kemuliaan seseorang tak lagi diukur dengan kategori fisik, asal daerah, jenis kelamin, atau status sosial. Semua orang setara. Yang membedakan derajat kemuliaan antara satu orang dengan orang lainnya adalah tingkat ketakwaannya. Takwa memiliki pengertian yang sangat kompleks. Tak setiap orang rajin melakukan ritual ibadah secara otomatis dianggap lebih bertakwa dari yang kurang rajin, atau sebaliknya. Takwa menyangkut kesadaran penuh akan kehadiran Allah, serta kepasrahan total kepada-Nya. Yang sanggup mengukur secara akurat pun hanya Allah.

Hadirin, jamaah sidang Jumat hafidhakumullah,

Dengan demikian, tidak ada alasan bagi kita semua, khususnya umat Islam, merendahkan kelompok manusia lain, apalagi dalihnya adalah sekadar perbedaan fisik, daerah, budaya, atau aspirasi politik. Prinsipnya, Islam menganggap keanekaragaman sebagai sesuatu yang niscaya, sunnatullah. Karena jika Allah menghendaki, pastilah dengan sangat mudah Allah membuat seluruh manusia atau alam raya dalam keadaan seragam, sama semuanya. Jadi, alasan paling mudah mengapa kita menghormati manusia adalah karena mereka adalah makhluk ciptaan Allah. Menistakan manusia sama dengan menistakan penciptanya.

Tauhid sejati meniscayakan adanya sikap rendah hati (tawadhu’). Sebab tauhid yang sungguh-sungguh pastilah meyakini tidak ada yang lebih layak sombong kecuali Allah. Orang yang kian memahabesarkan Allah dengan begitu akan kian mengecilkan dirinya. Takbir yang benar akan selalu beriringan dengan sirnanya takabur.

Jamaah sidang Jumat hafidhakumullah,

Istilah “Islâm” berakar kata salâm yang berarti kedamaian, keselamatan. Sebagaimana makna bahasanya, Islam menjunjung tinggi kedamaian dan keselamatan bagi semua makhluk dengan segenap keanekaragamannya. Islam mengajarkan umatnya untuk memusuhi kezaliman, tapi tidak pada perbedaan. Islam dibolehkan membela diri ketika diperangi tapi haram berperang tanpa alasan yang dibenarkan. 

Rasulullah Saw bersabda:

اِرْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْض يَرْحَمكُمْ مَنْ فِي السَّمَاء

“Tebarkan kasih sayang kepada penduduk bumi, niscaya penduduk langit akan mengasihimu.” (HR Tirmidzi)

Menurut Ibnu Baththal, hadist ini merupakan dorongan kuat agar umat Islam menebarkan kasih-sayang kepada seluruh makhluk.

قَالَ ابْنُ بَطَالٍ فِيْهِ الْحَضُّ عَلَى اسْتِعْمَالِ الرَّحْمَةِ لِجَمِيْعِ الْخَلْقِ فَيَدْخُلُ الْمُؤْمِنُ وَالْكَافِرُ وَالْبَهَائِمُ وَالْمَمْلُوْكُ مِنْهَا وَغَيْرُ الْمَمْلُوْكِ.

“Ibnu Baththal berkata bahwa hadits ini mengandung anjuran yang sangat tegas untuk menebar kasih kepada semua mahluk, termasuk di dalamnya adalah orang mukmin, kafir, binatang piaraan dan binatang liar.” (Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari bi Syarhi Shahih al-Bukhari, Bairut-Dar al-Ma’rifah, 1379 H, juz, X, h. 440)

Semoga Allah senantiasa membimbing kita agar senantiasa menancapkan iman di dada dan perilaku kita, memperindah akhlak kita, baik kepada Allah, kepada sesama manusia, maupun alam sekitar. 

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Alif Budi Luhur