::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Perkuat Islam Ramah, Pesantren Islam Nusantara Segera Berdiri di AS

Jumat, 29 Desember 2017 07:29 Internasional

Bagikan

Perkuat Islam Ramah, Pesantren Islam Nusantara Segera Berdiri di AS
Imam Masjid New York, Imam Shamsi Ali.
Jakarta, NU Online
Islam Nusantara gagasan Nahdlatul Ulama (NU) yang dibangun sebagai peneguhan Islam ramah, Islam damai, dan Islam rahmatan lil ‘alamin makin diterima oleh warga dunia, termasuk di Amerika Serikat (AS).

Untuk memperkuat identitas Islam ramah tersebut, Pesantren Islam Nusantara bakal berdiri di negeri Paman Sam tersebut atas inisiasi Imam Masjid New York, Imam Shamsi Ali. Lembaga pendidikan Islam klasik ini diberi nama, Pondok Pesantren Madani AS bercirikan Islam Nusantara.

"Insyaallah niat kami, Juni (2018) nanti akan ada peresmian awal pesantren ini," kata Imam Shamsi Ali, pendiri Pesantren Madani USA  yang juga merupakan tokoh Islam terkenal di New York dilansir Berita Mediacorp, Rabu (27/12).

Dia memutuskan untuk membangun sebuah sekolah asrama Islam di Amerika Serikat serta ingin pesantren itu menjadi pusat pengembangan Islam dengan karakter Nusantara.

“Kami ingin membangun citra Islam yang damai, lembut, bersahabat dan mengedepankan dialog dan kerja sama," kata Shamsi Ali dikutip NU Online dari tempo.co.

Saat ini, ungkapnya, pusat pendidikan agama Islam di AS lebih banyak dalam bentuk versi Pakistan atau Timur Tengah, karena sebagian besar didirikan oleh masyarakat dari wilayah tersebut. Karena itu, Shamsi Ali juga menilai pesantren yang dibangunnya akan menjadi kontribusi Indonesia terhadap dunia.

Perkembangan pesantren juga sedang dilakukan saat umat Islam di Amerika menghadapi fenomena Islamofobia. Oleh karena itu, asrama Islam juga akan menjalin hubungan antara agama salah satu kegiatan utamanya dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat sekitar.

Meskipun pusat pendidikan agama asuhan Shamsi Ali memiliki warna Nusantara atau  lazimnya pondok pesantren Indonesia, pendakwah berusia 50 tahun itu juga memasukan budaya Amerika.

"Di Amerika memang semua lembaga harus terbuka. Tidak bisa membatasi atau menolak karena alasan ras atau agama. Ini dianggap diskriminasi. Maka pesantren ini terbuka untuk semua warga, termasuk non-Muslim," kata pria yang juga Presiden Nusantara Foundation di New York ini.

Selain sekolah dalam bentuk pesantren, program lainnya akan mencakup khotbah dan kepemimpinan, konseling remaja, konseling di rumah dan perkemahan musim panas.

Shamsi Ali berjanji bahwa pada akhirnya, pondok pesantren tersebut akan mempraktekkan Islam yang moderat, berkemajuan, modern, sejalan dengan demokrasi dan peradaban dunia.

Shamsi Ali, yang berasal dari Indonesia dan telah menjadi pengkhotbah sejak usia 20 tahun di Amerika Serikat, mengatakan, dia telah menandatangani kontrak pembelian tanah pada November lalu. Biaya tanah dan karya sederhana diperkirakan mencapai US $ 1 juta atau setara Rp 13,5 miliar.

Pesantren akan berlokasi di kota Moodus, Connecticut, sekitar 110 kilometer dari New York. Setelah  membeli tanah, proses selanjutnya adalah mengembangkan atau mengubah bangunan situs. Ada delapan bangunan yang ada di tanah yang dibeli dan hanya empat bangunan yang bisa diganti, sedangkan sisanya perlu dibongkar.

Menurut Shamsi Ali, arsitek lanskap akan dipanggil pada bulan Januari 2018 untuk mempelajari rencana pengembangan pesantren. Dia mengidentifikasi tiga tahap perkembangan. Tahap pertama, dalam setahun akan mengubah bangunan yang bisa digunakan  dan akan dijalankan tanpa batas waktu.

Kedua, dalam 2-3 tahun ke depan, sebuah masjid, asrama dan gubuk akan dibangun dan pesantren mulai berjalan. Ketiga, dalam 4-5 tahun ke depan, rumah tradisional Indonesia akan dikembangkan di lokasi tersebut menjadi rumah tamu bagi pengunjung. Rumah ini bisa menjadi sumber ekonomi dan mempromosikan Indonesia.

Shamsi Ali, pemimpin lintas agama yang memperjuangkan dialog perdamaian Islam-Yahudi ini mengakui masih perlu mengumpulkan dana dari masyarakat Islam. Pesantren membutuhkan sekitar US$ 200.000 atau Rp 2,3 miliar untuk renovasi bangunan dan US$ 400.000 atau Rp 4,6 miliar untuk membayar harga tanah untuk periode dua tahun ini. (Red: Fathoni)