::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Cara Mbah Umar Solo Tepis Hoaks ketika Diisukan Bid’ahkan Bedug

Jumat, 29 Desember 2017 17:00 Hikmah

Bagikan

Cara Mbah Umar Solo Tepis Hoaks ketika Diisukan Bid’ahkan Bedug
Pada tahun 1978, atau sekitar tahun itu, beredar kabar bohong alias hoax di Solo bahwa Mbah Kiai Ahmad Umar bin Abdul Mannan membid’ahkan penggunaan bedug di masjid. Isu itu juga menyatakan bagi yang tidak percaya dipersilakan datang ke Pondok Pesantren Al-Muyyad Mangkuyudan guna membuktikan kebenarannya. 

Di Masjid Al-Muayyad memang sejak awal didirikan tidak ada bedug. Yang ada hanyalah sebuah kenthongan untuk menandakan waktu shalat fardhu telah tiba atau iqamah segera dilakukan. Hal ini berbeda dengan di Masjid Tegalsari Surakarta sebagai masjid jami’ dan Masjid Agung Surakarta yang selain terdapat kenthongan juga ada bedug. Ketiadaan bedug di Mangkuyudan telah dijadikan dalil oleh penyebar hoax bahwa Mbah Kiai Umar tidak kersa bedug dengan alasan bid’ah.

Mendengar isu itu Mbah Kiai Umar tidak mengundang wartawan untuk konferensi pers, atau melakukan press release ke berbagai media, atau pula melakukan sumpah di depan publik untuk melakukan penyangkalan. Hal yang segera dilakukan Mbah Kiai Umar adalah melakukan tindakan nyata dengan membeli sebuah bedug berukuran cukup besar untuk ditempatkan di masjid.

Sejak itu setiap hari suara bedug terdengar menggelegar dari mana-mana di sekitar Pondok Pesantren Al-Muayyad yang dulu lebih dikenal dengan nama Pondok Mangkuyudan. Keberadaan bedug beserta suaranya yang cukup keras itu merupakan jawaban empiris dari Mbah Kiai Umar atas hoax yang menimpa beliau. 

Dengan jawaban empiris berupa bedug di masjid tersebut Mbah Kiai Umar berharap masyarakat bisa kritis menyikapi hoax atau isu bid’ah dengan cara meragukan dan bukan langsung mempercayainya untuk kemudian membuktikan hal yang sebenarnya guna memperoleh kebenaran yang meyakinan bahwa Mbah Kiai Umar tidak membid’ahkan bedug.

Cara Mbah Kiai Umar merespon hoax seperti itu sejalan dengan metode keraguan (syak minhaji) yang diperkenalkan oleh Imam al-Ghazali sebagaimana dapat ditemukan dalam risalah beliau berjudul al-Munqidz min ad-Dhalal (Pembebas dari Kesesatan) yang ditulisnya pada sekitar tahun 1097.

Metode keraguan Imam Ghazali pada intinya merekomendasikan agar kita bersikap ragu atau tidak membenarkan atau meyakini begitu saja apa yang ada dalam pikiran seperti anggapan-anggapan, dugaan-dugaan, atau bahkan apa yang telah ditangkap oleh indera seperti mendengar suatu berita atau melihat sesuatu, sebelum melakukan pembuktian. Tentu saja metode ini berkaitan dengan hal-hal di luar masalah keimanan. 

Bagaimanapun, meragukan adalah sikap tengah-tengah atau moderat. Ia berada di antara dua sikap yang saling bertolak belakang, yakni antara percaya dan mengingkarinya. Karena posisinya di tengah, maka tidak sulit untuk beralih ke posisi mempercayai atau mengingkari setelah ada dalil-dalil atau bukti-bukti yang valid.


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta