::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

AL-HIKAM

Cara Mengukur Siapa Kita di Sisi Allah ala Ibnu Athaillah

Sabtu, 30 Desember 2017 13:01 Tasawuf/Akhlak

Bagikan

Cara Mengukur Siapa Kita di Sisi Allah ala Ibnu Athaillah
(© pinterest)
Manusia diciptakan oleh Allah hanya untuk menyembah-Nya. Sejak kecil hingga kini kita berupaya untuk berbuat baik dalam rangka mengabdikan diri kepada-Nya. Tetapi kita tidak pernah tahu siapa kita sebenarnya di sisi Allah. Apakah kita hamba yang baik atau hamba yang buruk?

Pertanyaan ini penting dijawab agar kita dapat mengintrospeksi diri. Sebagai upaya menjawab pertanyaan ini, Syekh Ibnu Athaillah menawarkan sejenis resep dalam hikmah berikut ini:

إذا أردت أن تعرف قدرك عنده فانظر فيماذا يقيمك

Artinya, “Kalau mau tahu kedudukanmu di sisi Allah, lihatlah di mana Dia menempatkanmu.”

Kata “di mana” tidak menyarankan profesi atau tempat dalam arti fisik. Kata itu merujuk pada pengertian perilaku kita sehari-hari. Apakah keseharian kita berada dalam perilaku yang diridhai atau dimurkai-Nya?

Syekh Syarqawi menyatakan bahwa hikmah Syekh Ibnu Athaillah ini bisa dipahami dalam dua konteks. Dalam konteks kalangan awam, derajat kita di sisi Allah bergantung pada ketaatan dan kemaksiatan yang mengisi hari-hari kita. Sedangkan dalam konteks kalangan tertentu (khawas), martabat sesorang di sisi Allah ditentukan pada sejauh mana seseorang menempati kedudukan muqarrabin atau abrar di mana sesuatu yang dianggap sudah baik oleh kalangan abrar belum tentu bernilai baik bagi kalangan muqarrabin sehingga masyhur di kalangan sufi bahwa hasanatul abrar sayyi’atul muqarrabin (kebaikan abrar adalah keburukan bagi muqarrabin). Simak penjelasan Syekh Syarqawi dalam redaksi berikut ini:

إذا أردت أن تعرف قدرك عنده) هل أنت من المقبولين السعداء أو من المردودين الأشقياء (فانظر فيماذا يقيمك) من طاعة أو ضدها فمن كان من أهل السعادة والقبول استعمله مولاه فيما يرضيه عنه من أنواع الطاعات ومن كان من أهل الشقاوة استعمله فيما يسخطه عليه من أنواع المخالفات وهذا يناسب العامة. وأما الخاصة فيقال فيه إن أردت أن تعرف قدرك أي منزلتك عنده هل أنت من المقربين أو لا فانظر فيماذا يقيمك أي يورده على قلبك من إدراك جلالته وعظمته قال عليه الصلاة والسلام "من أراد أن يعلم منزلته عند الله فليعلم منزلة الله من قلبه"

Artinya, “(Kalau mau tahu kedudukanmu di sisi Allah), apakah kau termasuk hamba yang diterima dan berbahagia atau hamba yang ditolak dan celaka, (lihatlah di mana Dia menempatkanmu), apakah perbuatan taat atau maksiat. Siapa saja yang diterima dan berbahagia, maka ia akan digerakkan oleh Allah pada ketaatan yang diridhai-Nya. Sedangkan orang yang celaka, maka ia akan digerakkan oleh Allah pada pelanggaran yang dimurka oleh-Nya. Ini berlaku dalam konteks orang awam. Dalam konteks kalangan tertentu (khawash), dapat dikatakan, (Kalau mau tahu kedudukanmu) derajatmu (di sisi Allah), apakah kau termasuk kalangan muqarrabin atau bukan, (lihatlah di mana Dia menempatkanmu) Dia memasukkan kebesaran dan keagungan-Nya ke dalam batinmu. Rasulullah SAW bersabda, ‘Siapa yang ingin mengetahui derajatnya di sisi Allah, perhatikan kedudukan-Nya di dalam hati,’” (Lihat Syekh Syarqawi, Syarhul Hikam, Al-Haramain, 2012 M, juz I, halaman 62).

Penjelasan lebih rinci kita dapat temukan pada Syekh Ahmad Zarruq. Menurutnya, harkat seorang hamba di sisi Allah bergantung pada kondisi yang dihadapkan-Nya pada hamba tersebut. Bagaimana hamba itu melewati kondisi tersebut, maka begitulah derajatnya di sisi Allah sebagaimana keterangan Syekh Ahmad Zarruq berikut ini:

قلت لأن المنازل على قدر مراتب النازل. فإن وجّهك للدنيا فقد أهانك، وإن أشغلك بالخلق عنه فقد صرّفك، وإن وجّهك للعمل فقد أعانك وإن فتح لك باب العلم فقد أرادك، وإن فتح لك بابا إلى مناجاته فقد قرّبك، وإن واجهك بالبلاء فقد هداك، وإن صرّفك عن الأغراض فقد أدّبك، وإن رضيت به ورضيت عنه فقد فتح لك باب الرضا عنه وهو أعظم الأبواب وأتمّها وأكملها.

Artinya, “Menurut saya, kedudukan manusia di sisi Allah itu bergantung pada kadar derajat ilham dari-Nya. Jika kau dihadapkan pada dunia, Allah tengah menjatuhkanmu dalam kehinaan. Bila kau disibukkan oleh makhluk-Nya, Dia tengah memalingkanmu dari-Nya. Ketika kau diarahkan pada amal saleh, Dia tengah menolongmu. Saat kau dibukakan pintu ilmu, Dia memang menghendakimu. Jika kau dibukakan sebuah pintu untuk munajat kepada-Nya, Dia ingin mendekatkanmu. Bila kau dihadapkan pada sebuah bala, Dia ingin menunjukimu. Ketika kau dipalingkan dari rencana dan target-target dalam hidupmu, Dia ingin menjaga adab. Tetapi jika kau ridha pada Allah dan putusan-Nya, maka sungguh Dia membukakan pintu ridha untukmu. Yang disebut terakhir ini adalah pintu paling agung, sempurna, dan utama,” (Lihat Syekh Ahmad Zaruq, Syarhul Hikam, As-Syirkatul Qaumiyyah, 2010 M/1431 H, halaman  81).

Penilaian semacam ini sebaiknya hanya dibatasi untuk mengukur diri sendiri, bukan untuk orang lain. Penilaian terhadap orang lain dapat membawa mafsadat untuk diri kita sendiri, minimal timbul ujub dan takabbur dalam diri, suatu larangan Allah yang seharusnya dihindari.

Hikmah ini yang jelas mendorong kita untuk terus memperbaiki diri dan tentu saja selalu memohon bimbingan Allah agar selalu berada di jalan yang diridhai-Nya. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)