::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Mayoritas Pengungsi Rohingya Tak Mau Dipulangkan ke Myanmar

Sabtu, 30 Desember 2017 17:30 Internasional

Bagikan

Mayoritas Pengungsi Rohingya Tak Mau Dipulangkan ke Myanmar
Ilustrasi (© Reuters)
Cox's Bazar, NU Online
Lebih dari 655.000 Muslim Rohingya memadati kamp-kamp pengungsian di Bangladesh setelah mereka lari dari teror kekerasan militer Myanmar di daerah asal mereka, Rakhine State, Myanmar, sejak akhir Agustus lalu.

Komunitas internasional mengutuk Myanmar. Bahkan, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut krisis kemanusiaan tersebut sebagai usaha pemusnahan etnis. Sekretaris Jenderal Antonio Guterres berharap para pengungsi dapat pulang secara terhormat.

(Baca: Kepada Myanmar, Sekjen PBB: Pulangkan Pengungsi secara Bermartabat!)
Setelah sekian bulan, pemerintah Bangladesh atas kesepakatan dengan pemerintah Myanmar berencana memulangkan mereka secara bertahap. Namun, bagaimana respon para pengungsi?

AFP yang mendatangi tenda-tenda pengungsian di Bangladesh melaporkan bahwa mayoritas Muslim Rohingya menolak pulang ke Myanmar dengan alasan keamanan. Bayang-bayang kekerasan yang pernah terjadi masih terngiang di benak mereka.

(Muslim Rohingya di Mata Komandan Militer Myanmar)
Meski relatif merasa lebih aman di pengungsian, penderitaan etnis Rohingya sebetulnya belum berakhir. Mereka terhimpit masalah lapangan pekerjaan, ancaman kesehatan, akses pendidikan, hingga penganiayaan di Bangladesh.

Reuters yang pernah menghimpun data-data soal ini menyimpulkan bahwa kondisi anak-anak pengungsi Rohingya tidak lebih baik dari ketika mereka berada tanah asal. Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) melaporkan, anak-anak pengungsi terpaksa harus bekerja dengan bayaran sangat murah, mengalami kekerasan dan penganiayaan.

Laporan eksklusif Reuters juga berhasil mendokumentasikan fenomena gadis-gadis Rohingya berumur 11 tahun yang sudah menikah. Orang tua rela melepas anak-anak mereka melakukan hal itu dengan alasan memberikan perlindungan dan kemajuan ekonomi.

Sekitar 450.000 anak-anak, atau 55 persen dari populasi pengungsi, tinggal di permukiman kumuh dekat perbatasan dengan Myanmar, menyusul aksi brutal tentara Myanmar dan massa Buddhis yang membakar desa-desa, membunuh, menjarah, dan memerkosa para Muslim Rohingya. (Red: Mahbib)