: UNU Jogja adalah perguruan tinggi pertama di Indonesia yang menerapkan sistem blok pada semua program studi daftar sekarang di www.pmb.unu-jogja.ac.id atau 0822 3344 9331 :: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

MUHASABAH KEBANGSAAN AKHIR 2017

Waktu dalam Air, Batu, dan Pohon

Ahad, 31 Desember 2017 20:00 Opini

Bagikan

Waktu dalam Air, Batu, dan Pohon
Ilustrasi: winnetnews.com
Oleh Al-Zastrouw

Orang bijak bilang, waktu itu seperti air yang mengalir. Dia hanya sekali menyentuh dan melewati suatu permukaan, setelah itu dia akan berlalu, berjalan untuk menyentuh permukaan lainnya. 

Seperti air mengalir, waktu hanya datang sekali dalam setiap episode kehidupan, setelah itu akan lewat dan berlalu meninggalkan kekinian menuju masa depan. Tak ada yang bisa menghentikannya, dia akan terus berjalan menuju garis takdir kehidupan.

Sebongkah batu tak pernah peduli pada air yang melewati dan menyentuh permukaannya. Air itu dibiarkan berlalu begitu saja, menempel sebentar dan membuat permukaan jadi basah. Ya, hanya di permukaan. Ketika air berlalu maka permukaan batu itu akan  kembali kering, tanpa bekas apa pun.

Berbeda dengan batu, pohon tidak pernah membiarkan aliran air yang menyentunya berlalu begitu saja. Air yang mengalir dan menyentuhnya akan dimasukkan dalam pori-pori, diserap oleh akar dialirkan dalam batang, ranting dan daun. Diproses dan dimasak untuk pertumbuhan dirinya, hingga menjadi daun yang rimbun dan buah yang bermanfaat untuk kehidupan.

Inilah ayat kauniyah yang bisa menjadi cermin kehidupan. Jika waktu ibarat air maka sikap manusia terhadap waktu bisa diibaratkan batu dan pohon. Manusia yang bijak, yang cerdas dan alim tak akan pernah membiarkan waktu berlalu dan menyia-nyiakan begitu saja. Dia akan menyerap setiap waktu yang menghampirinya, memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk mengembangkan diri agar kehidupannya bisa bermanfaat bagi orang lain.

Berbeda dengan menusia bebal dan dungu yang menyia-nyiakan waktu berlalu begitu saja. Orang seperti ini tak pernah bisa menghargai waktu dan memanfaatkannya dengan baik. Waktu yang menghampiri kehidupannya hanya sekadar digunakan untuk membasahi permukaan hidup, penyejuk fisik semata. Tak ada yang masuk dalam hati, jiwa dan ruhaninya, sehingga perjalanan hidup akan berlalu begitu saja, lenyap seiring perjalanan waktu. Mereka ini seperti batu yang membiarkan air mengalir yang menyentuh permukaannya.

Sebagaimana halnya air yang membawa zat-zat yang berguna bagi kehidupan dalam setiap aliran yang menyentuh batu dan pepohonan, waktu yang menghampiri kita bersama kenyataan juga membawa berbagai hal yang bermanfaat bagi kehidupan. Tapi kemanfaatan itu hanya bisa dicerap dan diambil oleh mereka yang memiliki kepekaan membaca kenyataan yang datang bersama waktu.

Jelas di sini terlihat, waktu yang datang menghampiri setiap episode kehidupan memiliki makna dan nilai yang amat penting dan berharga, sehingga manusia akan merugi jika menyia-nyiakannya. Sebagaimana disebutkan dalam salah satu hadits Nabi, "Dua kenikmatan kebanyakan manusia tertipu pada keduanya yaitu kesehatan dan waktu luang." (HR Bukhari). Hadits ini menyiratkan orang yang menyia-nyiakan waktu hingga berlalu begitu saja, sama dengan menyia-nyiakan nikmat Allah. 

Para ulama banyak yang menganggap bahwa waktu merupakan nikmat Allah yang tak dapat dinilai dengan apa pun. Bahkan Imam Hasan Basri pernah menyatakan, "Saya melihat ada segolongan manusia yang memberi perhatian pada waktu melebihi perhatiannya terhadap dinar dan dirham." Inilah orang yang tidak menyia-nyiakan waktu berlalu begitu saja, mereka memanfaatkan dan menggunakan waktu yang menghampirinya seperti pohon menyerap air yang mengalir menyentuh permukaannya.

Kini tahun 2017 akan berlalu dan tak akan kembali lagi. Seperti air mengalir, 2017 telah menyentuh kehidupan kita dengan berbagai kenyataan yang menyertainya. Dan keberadaannya digantikan oleh tahun 2018 yang segera datang. Datang dan perginya waktu adalah hukum besi kehidupan. Manusia tak dapat meratapi dan menahan kepergiannya, juga tak akan memiliki kemampuan menolak kehadirannya

Di penghujung pergantian tahun ini saatnya kita merenung, sejauh mana kita bisa menyerap sari pati kehidupan yang datang bersama waktu selama 2017. Seberapa besar bisa memanfaatkan waktu yang telah menghampiri kita. 

Apakah kita termasuk orang yang bisa menyerap dan memanfaatkan keberadaan waktu yang telah datang memghampiri, seperti pohon menyerap air mengalir yang menyentuhnya? Atau jangan-jangan kita tergolong orang yang menyia-nyiakan waktu berlalu begitu saja? Seperti seonggok batu yang membiarkan air mengalir menyentuh permukaanya, basah sebentar kemudian kering kembali. Tanpa bekas dan tanpa makna?

*
Penulis adalah dosen Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta