::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Dialog Peradaban, Belajar dari Gus Dur

Selasa, 02 Januari 2018 15:01 Opini

Bagikan

Dialog Peradaban, Belajar dari Gus Dur
Oleh Muhammad Makhdum

Peradaban memberikan narasi bagi kehidupan umat manusia. Dari sejarah kita belajar bahwa kemajuan peradaban bukan diperoleh dengan berdiam diri, tetapi hasil dari dialog dengan peradaban lainnya. Karena itu, keterbukaan menjadi kata kunci. Bangsa yang yang memiliki peradaban tinggi sangat menjunjung tinggi keterbukaan pola pikir (open mind). Demikian pula tidak akan lahir dialog tanpa keterbukaan cara berpikir. Artinya, dialog dan keterbukaan merupakan gerbang membangun peradaban dan karakter sebuah bangsa.

Kejayaan Islam pada abad pertengahan (golden age) adalah akibat dialog intensif dengan peradaban Yunani dan Romawi. Para ilmuwan muslim tidak pernah malu belajar dari bangsa yang tidak hanya terpisah jauh oleh waktu, tetapi juga berbeda dalam ranah teologi. Demikian pula dengan peradaban Barat yang kini menjadi kiblat dunia, merupakan hasil dialog dengan unsur peradaban lain, termasuk peradaban Islam. 

Dalam dialog dan keterbukaan, kepercayaan diri mutlak diperlukan. Orang yang percaya diri memiliki keberanian untuk menembus batas-batas perbedaan latar belakang, sudut pandang, suku, budaya, bahkan keyakinan. 

Adalah Gus Dur, sosok yang mampu mengambil peran tersebut dengan sangat baik. Gus Dur memiliki rekam jejak yang mengesankan dalam membangun dialog dan keterbukaan. Hampir seluruh perjalanan hidupnya ia habiskan untuk menjalin persabatan, menjembatani perbedaan, merajut tali kemanusiaan.

The Economist, menahbiskan Gus Dur sebagai tokoh panutan yang dihormati karena pengabdiannya pada masyarakat dan perkembangan iklim demokrasi dan keterbukaan di Indonesia. Sungguhpun demikian, tidak sedikit ia mendapat hujatan, tudingan miring, fitnah, hingga perlawanan. 

Pergulatan Gus Dur dengan buku sejak belia, persahabatannya dengan berbagai lapisan dan golongan masyarakat serta dunia internasional mengantarkannya menjadi sosok yang memiliki keterbukaan berpikir dan kepercayaan diri. Dalam ikhtiar dialognya, Gus Dur selalu membawakan narasi keberagaman (pluralisme), kemanusiaan, dan perdamaian. 

Sebagai sosok yang lahir dan dibesarkan di dunia pesantren, tidak ketinggalan pula membawakan pesan-pesan keagamaan, terutama wajah Islam yang toleran. Bagi Gus Dur, agama, tradisi dan kebudayaan berkelindan memberi arti, memberi peluang untuk saling menghargai. Agama harus bisa meniupkan ruh di dalam setiap kebudayaan tanpa harus menghilangkan budaya itu sendiri. 

Gus Dur intens dan konsisten membangun dialog dengan tokoh lintas keyakinan. Pernah suatu ketika menjadi keynote speaker pada Kongres American Jewish Committee tahun 2001 di Washington dengan menteri pertahanan Condoleezza Rice pada penutupan acara terbesar kaum Yahudi di Amerika. Pada acara itu Gus Dur duduk bersama sahabatnya, pemimpin katholik Uskup Agung Paris Jean-Marie Lustiger.

Dialog Gus Dur sepanjang 2002-2009 dengan pemimpin Buddha Jepang, Daisaku Ikeda telah membuka mata para Islamophobia di dunia bahwa Islam sangat mencintai perdamaian. Demikian juga dengan beberapa dialog Gus Dur dengan berbagai tokoh lintas agama baik di lingkup nasional maupun internasional. 

Meminjam istilah esais Goenawan Mohammad, apa yang dilakukan Gus Dur merupakan ikhtiar untuk mengukuhkan ikatan batin dengan kehidupan. Gus Dur rajin membangun tesis-sintesis dalam setiap problem kemanusiaan. Konsep pluralisme yang dimiliki Gus Dur, tidak hanya menjadi bagian penting dalam menjalin dialog toleransi antar umat beragama, tapi juga menjadi bagian dari sejarah untuk menghilangkan sekat-sekat perbedaan yang ada dalam rangka menciptakan perdamaian. 

Jika ditelaah lebih jauh, sikap Gus Dur tersebut sangat dipengaruhi oleh prinsip keagamaan ala ahlus sunnah wal jama’ah yang dianut oleh Nahdlatul Ulama (NU). Ada empat prinsip keagamaan yang dipegang dan dikembangkan oleh NU, yaitu tasamuh (toleran), tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), dan i’tidal (tegak lurus). Prinsip inilah yang menjadi tonggak penting dalam menyebarkan Islam rahmatan lil ‘alamin di seluruh penjuru dunia. 

Dalam konteks kekinian, penting sekali untuk belajar dari Gus Dur dalam dialog peradaban. Generasi milenial saat ini sedang diuji komitmen kebangsaan dan keindonesiannya. Seringkali perbedaan memunculkan friksi yang makin meningkat frekuensinya. Padahal, adanya perbedaan tidak semestinya mengarah pada permusuhan.

Jika kita berpikir terbuka dan memiliki kepercayaan diri, perbedaan justru dapat memperkaya sudut pandang dan membuka cakrawala kebijaksanaan. Jika perbedaan kita terima sebagai keniscayaan dalam kebhinnekaan, maka sikap ekletisme (menerima kebaikan dari berbagai pihak) sangat diperlukan untuk menuju ke-tunggal ika-an. Inilah yang harus kita wariskan bagi generasi milenial untuk membangun dan mempertahankan Indonesia. Semoga jariyah kemanusiaan Gus Dur abadi sepanjang masa. Lahul Faatihah.

Penulis adalah anggota PC GP Ansor Kabupaten Tuban, Ahlul Ma’had Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang.