: UNU Jogja adalah perguruan tinggi pertama di Indonesia yang menerapkan sistem blok pada semua program studi daftar sekarang di www.pmb.unu-jogja.ac.id atau 0822 3344 9331 :: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

RMINU: Kita Penganut Islam Santai

Selasa, 02 Januari 2018 12:02 Nasional

Bagikan

RMINU: Kita Penganut Islam Santai
foto: iddaily.net
Kuningan, NU Online
Santri bak pohon pisang. Seberapa pun ditebang, ia akan selalu tumbuh dengan tunas-tunas yang baru, menabur kebaikan dan terus-menerus melakukan ikhtiar merupakan identitas seorang santri.

Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Rabithah Ma'ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI-NU) KH Masrur Ainun Najih saat temu alumni Buntet Pesantren di Hotel Ayong, Linggarjati, Kabupaten Kuningan, pada Ahad, (31/12) malam.

"Saya mengapresiasi teman-teman panitia atas terselenggaranya kegiatan ini di malam pergantian tahun. Ini bagian dari kecenderungan kita untuk terus mengenal masa lalu dan tidak ingin ketinggalan zaman. Inilah santri zaman now; khotmil Quran, Tahlilan, dan Marhabanan di hotel, bukan di pondok. Artinya, kita sedang menyelaraskan modernitas dengan tradisi yang selama ini dipertahankan," ucap Kiai Masrur, saat memberikan sambutan sebagai Ketua Umum PP Ikatan Keluarga Alumni Buntet (Iklab).

Di lain tempat, ia mengungkapkan bahwa keberadaan santri dan para kiai dari kalangan NU sangat diharapkan turun langsung ke kampung-kampung. Sebab, di televisi sudah didominasi ustadz atau penceramah yang berseberangan dengan NU. Dalam hal itu, ia berpikir, barangkali memang sudah digariskan Allah.

"Kalau di televisi sudah tidak memungkinkan untuk mendominasi, maka tugas kiai dan santri NU adalah menjangkau orang-orang yang ada di akar rumput. Ini sudah dijatah oleh Allah. Bagian kita bukan di televisi, tetapi langsung tatap muka dan bersentuhan dengan audiens," kata Pemilik Warung Cobiniki, Ceger, Jakarta Timur, itu.

Orang-orang di kota, lanjut KH Masrur, biar menjadi urusan ustadz di televisi. Sementara orang yang ada di kampung, yang jauh dari televisi, mesti dirangkul agar bisa beragama dengan santai. Tidak marah dan tidak mudah menilai orang lain keluar dari jalan Allah.

"Kita ini penganut Islam santai. Tidak terlalu serius, juga tidak terlalu bercanda. Banyak ngguyon, tetapi ada isinya. Santai saja," tutupnya. (Aru Lego Triono/Abdullah Alawi)