::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Mengenal Hadits Musalsal, Sabda Nabi yang Diriwayatkan secara Khas

Selasa, 02 Januari 2018 18:30 Ilmu Hadits

Bagikan

Mengenal Hadits Musalsal, Sabda Nabi yang Diriwayatkan secara Khas
Penyampaian hadits musalsal dengan cara 'tasybik' (foto: Youtube)
Penyampaian hadits masih terjadi di masa kini. Beberapa ulama disebutkan ada yang mendapat sanad hadits dari para gurunya. Salah satu conoth adalah KH. Sahal Mahfudh rahimahullah yang mengijazahkan hadits musalsal dari Syekh Yasin al Fadani. Sebagaimana dikisahkan, setidaknya ada tiga ijazah hadits yang didapatkan Kiai Sahal: musalsal bil awwaliyah, musalsal bil qira’ah ayatil kursi, dan musalsal bil mahabbah.

(Baca: KH Sahal Mahfudh Dapatkan Sanad dari Syekh Yasin al-Padani)
Apa sebenarnya hadits musalsal itu? Mengapa periwayatannya begitu khas?

Hadits musalsal adalah salah satu model periwayatan hadits dari masa Nabi kepada para perawi secara turun temurun, bahkan hingga sekarang. Secara bahasa, musalsal bermakna berturut-turut. Ulama memberikan definisi bahwa hadits musalsal adalah hadits yang disampaikan para perawi secara berurutan dan sama dalam keadaan dan situasi tertentu, baik secara perbuatan maupun perkataan.

Imam an-Nawawi dalam kitab at-Taqrib menyebutkan bahwa hadits musalsal ini bisa terkait perbuatan, keadaan atau sifat pada diri perawi, atau bisa juga terkait dengan cara penyampaian haditsnya.

Karena periwayatan hadits musalsal terkait dengan keadaan atau sifat tertentu pada perawi, setidaknya hadits musalsal bisa musalsal qauli (secara perkataan), fi’li (secara perbuatan) atau keduanya.

Sebagai contoh adalah hadits berikut:

عَنْ مُعَاذٍ قَالَ: لَقِيَنِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا مُعَاذُ إِنِّي لَأُحِبُّكَ ". فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، وَأَنَا وَاللهِ أُحِبُّكَ. قَالَ: فَإِنِّي أُوصِيكَ بِكَلِمَاتٍ تَقُولُهُنَّ فِي كُلِّ صَلَاةٍ: اللهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ 

Artinya: “Diriwayatkan dari Muadz bin Jabal: Aku berjumpa Rasulullah SAW, beliau berkata: ‘Wahai Mu’adz, sungguh aku mencintaimu (sebagai sahabat).’ Kemudian aku menjawab, ‘Begitupun aku wahai Rasulullah.’ Kemudian Nabi bersabda, ‘Sungguh, aku mewasiatkanmu dengan doa yang hendaknya kamu baca ketika usai shalat: Allahumma a’innî ‘alâ dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibâdatik’.”

Hadits tersebut diriwayatkan dalam Musnad Ahmad bin Hanbal. Dalam proses periwayatan, para perawi disebutkan meriwayatkan hadits itu sebagaimana Nabi melakukannya, yaitu dengan mengucapkan “Ya Fulan, inni lauhibbuk” (Wahai Fulan, sungguh aku mencintaimu). Hadits ini adalah contoh periwayatan hadits musalsal secara perkataan.

Kemudian ada juga yang terkait suatu perbuatan. Seperti dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al Baihaqi:

شَبَّكَ بِيَدِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَافِعٍ، وَقَالَ لِي شَبَّكَ بِيَدِي أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَقَالَ لِي: شَبَّكَ بِيَدِي أَبُو الْقَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ لِي: “خَلَقَ اللَّهُ الْأَرْضَ يَوْمَ السَّبْتِ”

Artinya: (Perawi sebelumnya berkata) tanganku digenggam oleh Abdullah bin Rofi’, lalu ia berkata bahwa: tanganku digenggam oleh Abu Hurairah, dan ia juga berkata: Abul Qasim Rasulullah SAW menggenggam tanganku, dan bersabda: Allah menciptakan bumi pada hari Sabtu.”

Sebagaimana disebutkan, hadits tersebut diriwayatkan para perawi dengan meniru cara menjalinkan tangan (tasybik) sebagaimana Nabi lakukan. Tentu masih banyak contoh terkait hadits musalsal ini. Anda bisa merujuk kitab-kitab hadits khusus untuk itu, semisal kitab al-Musalsalat al-Kubra karya Imam Jalaluddin as Suyuthi atau at-Thali’us Sa’id al Muntakhab minal Musalsalat wal Asanid, karya Sayyid Muhammad al-Maliki.

Selain diriwayatkan secara khas dalam perkataan atau perbuatan, hadits musalsal juga bisa disampaikan perawi pada muridnya di tempat atau momen tertentu. Semisal, momen bulan Ramadhan atau hadits musalsal berdoa di Multazam.

Apa faedah hadits musalsal ini? Menurut para ahli hadits model periwayatan hadits musalsal ini memperkuat hafalan seseorang tentang suatu hadits, karena dalam sebuah hadits, ada hal lain yang menunjang untuk diingat. Jika merekam satu keadaan, tentu hadits yang sudah dihapal dan diketahui tadi bisa tercetus untuk diingat kembali.

Namun perlu Anda ketahui bahwa hadits musalsal ini, meskipun diriwayatkan secara khas, bahkan hingga masa sekarang, tetap harus dicek kualitas haditsnya, baik dari sanad atau matan. Jadi kualitas hadits ini bisa shahih, hasan, atau dla’if, sehingga tetap berdampak pada aspek ajaran Islam.

Di Indonesia, beberapa kiai pesantren ada yang menyampaikan hadits musalsal kepada para santri ataupun jamaahnya. Pernahkah Anda mendapatkan ijazah hadits seperti itu? Tentu tidak ada salahnya mencari berkah dari majelis hadits. Wallahu a’lam. (Muhammad Iqbal Syauqi)