::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ini Cara-cara Agar Terhindar dari Berita Hoaks

Selasa, 02 Januari 2018 13:01 Internasional

Bagikan

Ini Cara-cara Agar Terhindar dari Berita Hoaks
Taipe, NU Online
Kiai MN Harisudin dari pondok pesantren Alif Lam Mim Surabaya mengatakan, berita hoaks dalam kehidupan sehari-hari, terutama melalui media sosial baik Twitter, Watshapp, Facebook semakin merebak. Bahkan berita hoaks oleh beberapa oknum sengaja dibuat, lalu disebarluaskan. Untuk mengantisipasinya, Islam memberikan solusi dengan mendiamkan atau melakukan klarifikasi (tabayun) terhadap berita tersebut.

Islam, lanjut Kiai MN. Harisudin, telah memberikan garis dalam firman Allah SWt. “Ya ayuhal ladzina amanu in jaakum fasiqun binabain fatabayyanu, an tushibu qauman bijahalatin fatushbihu ‘ala ma fa'altum nadimin. ‘Wahai orang yang beriman, ketika seorang fasiq datang pada kalian dengan berita, maka bertabayunlah. Jangan sampai kalian menimpakan musibah pada suatu kaum dengan ketidaktahuan sehingga kalian akan menyesal dengan apa yang kalian lakukan’,” jelas Katib Syuriyah PCNU Jember tersebut dalam pengajian on air, majelis al-Abshar ar-Ridlo, Taipe, Taiwan pagi waktu setempat (1/1).

Wakil Ketua Lembaga Ta’lif wa an-Nasyr NU Jawa Timur tersebut menjelaskan bahwa asbabun nuzul (sebab turun) ayat ini berkaitan dengan al-Haris, seorang yang diajak masuk Islam oleh Rasulullah SAW.Lalu Nabi Muhammad memintanya untuk membayar zakat.

Setelah masuk Islam, al-Harits menyampaikan bahwa ia akan mengajak kaumnya untuk masuk Islam dan juga membayar zakat. Jika sudah waktunya, al-Haris meminta dikirim utusan Rasulullah SAW.

Beberapa bulan kemudian, al-Walid bin Uqbah diutus Rasulullah SAW menuju al-Haris dan kaumnya untuk menagih zakat. Sebelum sampai perkampungan al-Haris, al-Walid pulang dengan membawa kabar bohong pada Rasulullah SAW.

Kabar bohong itu adalah bahwa Al-Haris tidak mau membayar zakat dan bahkan mengancam untuk membunuhnya. Rasulullah diam saja mendengarkan laporan itu. Beberapa hari kemudian, Rasulullah mengirimkan seorang lagi utusan untuk al-Harits.

“Nah, utusan ini kemudian menuju perkampungan al-Harits. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan al-Harist dan beberapa orang yang mau menuju Rasulullah yang ternyata hendak membayar zakat. Akhirnya, utusan ini dan al-Harist bersama-sama menuju Rasulullah. Sesampainya ke Rasulullah, beliau mengklarifikasi: apakah benar tidak mau zakat dan bahkan mengancam membunuh al-Walid. Al-Harist menjawab bahwa semua itu tidak benar. Turunlah lalu ayat ini,” jelas Sekjen Keluarga Alumni Ma’had Aly Situbondo (Kamaly) dengan anggota 300 lebih yang tersebar di seluruh Indonesia.

Ia menggarisbawahi berita bohong hoaks dari Al-Walid yang harus diklarifikasi. Orang yang membuat berita bohong jelas haram alias berdosa besar. Sementara, orang yang menerima berita bohong harus melakukan tabayun atau klarifikasi.

”Ibu-ibu sekalian, jadi kalau ada berita bohong, cepat klarifikasi. Termasuk yang di media sosial. Jenengan bisa segera tabayun atau minta penjelasan. Nuwun sewu, (mohon maaf), jangan langsung dikirim ke temannya; berita demikian ini akan sesat menyesatkan. Berita yang simpang-siur tentang Islam di Taiwan, maka jenengan bisa cross chek ke PCINU Taiwan atau ke Fatayat PCINU Taiwan. Jangan semua yang ada di media sosial dan internet dianggap benar,” ujar pengasuh pondok pesantren Darul Hikam Mangli Kaliwates Jember.

Ia menambahkan, termasuk tidak boleh belajar Islam yang hoaks seperti yang banyak di internet. Belajar Islam harus pada bersandar pada sumber-sumber yang bisa dipertanggungjawabkan seperti belajar Islam yang diajarkan oleh Nahdlatul Ulama, yaitu belajar Islam yang bersandar pada para ulama dan terus bersambung pada Rasulullah SAW.

“Apa-apa yang dilakukan oleh PCINU Taiwan dan banom-banomnya, dengan mengundang para kiai dan ustadz dari Tanah Air adalah bagian dari upaya maksimal untuk belajar Islam yang tidak hoaks. Tapi langsung pada sumber-sumber yang bisa dipertanggungjawabkan. Tidak sama dengan mereka yang hanya belajar Islam pada mbah Google dan lalu sok menjadi alim,” pungkasnya disambut tepuk tangan ratusan hadirin. (Sohibul Ulum/Abdullah Alawi)