: UNU Jogja adalah perguruan tinggi pertama di Indonesia yang menerapkan sistem blok pada semua program studi daftar sekarang di www.pmb.unu-jogja.ac.id atau 0822 3344 9331 :: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Mengapa Mereka Membenci NU dan Kiai-kiai NU?

Selasa, 02 Januari 2018 15:48 Opini

Bagikan

Mengapa Mereka Membenci NU dan Kiai-kiai NU?
Oleh Amin Mudzakkir

Pertanyaan ini terus menggelitik pikiran. Sependek yang saya tahu, Nahdlatul Ulama (NU) tidak pernah memaksa orang untuk mengikuti caranya dalam beragama. Sejak awal NU justru cenderung lebih bertahan. Jadi, mengapa mereka benci?

Setidaknya kebencian itu saya lihat menguat sejak awal era Reformasi 20 tahun lalu. Ketika itu Gus Dur dihujat habis-habisan. Keterbatasan penglihatan beliau dijadikan olok-olokan.

Lalu Kiai Said Aqil Siradj dicaci tak karuan. Apalagi di era internet seperti sekarang, cacian tersebut viral melalui media sosial. Chat kebencian terhadap beliau melalui WhatsApp grup menyebar hingga ke pedesaan.

Melihat fenomena ini, sulit bagi kita menganggapnya sebagai fenomena alamiah semata. Tidak perlu intelejen untuk menyimak betapa kebencian terhadap NU dan kiai-kiai NU berlangsung secara terstruktur, sistematis, dan massif. Pertanyaannya, siapa yang menggerakannya?

Secara ideologis, lawan NU telah kita ketahui. Kalangan Islam modernis yang pada masa lalu berafiliasi dengan Masyumi tidak pernah rela NU berpisah dari mereka. Kalangan yang selalu memimpikan terwujudnya persatuan Islam ini menganggap NU adalah kerikil dalam sepatu.

Padahal, diulang sekali lagi, NU tidak pernah menyerang cara keberagamaan kelompok di luar mereka. Yang terjadi justru sebaliknya. NU didirikan sebagai bentuk pertahanan karena serangan pihak luar terhadap tradisi mereka.

Pada masa lalu, corak tradisionalis NU dipoyok sebagai kampungan dan terbelakang. Istilah kaum sarungan pada awalnya berkonotasi merendahkan. Di dunia akademis, kesan ini masih terasa.

Sekarang NU mengalami transformasi luar biasa. Corak tradisionalis yang disematkan kepadanya justru menimbulkan kebanggaan. Dengan tradisionalismenya NU mampu merespons perubahan dengan elegan. Hal ini bisa disaksikan baik di lapangan keagamaan maupun kenegaraan.

Barangkali mereka yang membenci NU dan kiai-kiai NU tersebut iri. Sementara komunitas kaum sarungan itu terlihat rileks menanggapi perubahan zaman, mereka hanya bisa marah-marah di pojokan peradaban. Mereka benci karena NU dan kiai-kiai NU merintangi mimpi mereka untuk kembali ke Abad Pertengahan.

Penulis adalah Peneliti LIPI