::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Muhasabah Kebangsaan 2018, PBNU Soroti Sejumlah Problem Terkini

Rabu, 03 Januari 2018 15:35 Nasional

Bagikan

Muhasabah Kebangsaan 2018, PBNU Soroti Sejumlah Problem Terkini
Jakarta, NU Online
Memasuki tahun baru 2018, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar muhasabah atau renungan kebangsaan untuk menyoroti sejumlah problem bangsa di bidang demokrasi, politik, dan radikalisme. Persoalan ini tidak terlepas karena 2018 merupakan tahun politik di mana pemilu serentak di berbagai akan berlangsung.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menegaskan, demokrasi merupakan pilihan terbaik sebagai sistem penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara yang majemuk. Namun demikian, menurutnya, dampak dari praktik berdemokrasi saat justru memunculkan problem sosial seperti politik uang dan isu SARA.

“Jika politik uang merusak legitimasi, maka politik SARA merusak kesatuan sosial melalui sentimen primordial yang mengoyak kehidupan berbangsa yang sudah susah payah dirajut oleh para pendiri bangsa,” ujar Kiai Said, Rabu (3/1) di lantai 8 Gedung PBNU Jakarta.

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan ini, pergelaran Pilkada DKI 2017 masih menyisakan noktah hitam bahwa perebutan kekuasaan politik dapat menghalalkan segala cara yang merusak demokrasi dan menggerogoti pilar-pilar NKRI.

Pengalaman ini harus menjadi bahan refleksi untuk mawas diri. Demokrasi harus difilter dari ekses-ekses negatif melalui literasi sosial dan penegakan hukum. 

Masyarakat perlu dilibatkan secara aktif dalam penyelenggaraan demokrasi yang sehat tanpa politik uang dan sentimen primordial. Aparat penegak hukum harus kredibel dan andal dalam penegakan hukum terkait kejahatan politik uang dan penggunaan sentimen SARA. 

“Ini penting karena pada tahun 2018 dan 2019, Indonesia memasuki tahun-tahun politik,” jelas Kiai Said dalam acara bertajuk Muhasabah Kebangsaan: Doa, Harapan, dan Optimisme di Tahun 2018 ini.

Selain menyoroti problem kebangsaan di bidang demokrasi dan politik, PBNU juga menyotoroti persoalan upaya menangkal radikalisme dan menemukan solusi dari ketimpangan kehidupan rakyat di bidang ekonomi.

Dalam kegiatan yang menghadirkan sejumlah awak media tersebut, Kiai Said didampingi Sekjen PBNU HA. Helmy Faishal Zaini, Waketum PBNU H Maksum Mahfoedz, Ketua PBNU Robikin Emhas, dan sejumlah pengurus lain.

Dalam kesempatan muhasabah ini, hadir Habib Sayid Umar Hafidz dan sejumlah habaib lain untuk menyelenggarakan pengajian kitab kuning. Adapun kitab yang akan dikaji adalah Adabul 'Alim wal Muta'alim karangan Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari. (Fathoni)